PERANG TONDANO (1809): Kisah Heroik Orang Minahasa Melawan Pasukan Belanda (Bagian 6; Selesai )

< Bagian 5 … Pekik suara perang yang bersaing dengan dentuman meriam dan senjata api itu kemudian berangsur-angsur menghilang bersama hembusan nafas terakhir para pahlawan Minahasa; menjauh dalam langkah mereka yang memasuki hutan-hutan belantara.

Yang tertinggal di sana adalah suara tangisan anak-anak dan ratapan ibu-ibu, tatapan mata tua yang basah oleh air mata, keretak suara api memakan rumah-rumah dan tempat penyimpanan padi. Ketika pagi tiba tempat itu telah menjadi sunyi. Hanya asap yang menceritakan betapa dahsyat perjuangan itu serta harga yang telah dibayarkan…

Foto: Ilustrasi perang Tondano; Selain pasukan Belanda, dan pasukan bantuan yang didatangkan dari daerah lain, para Prajurit Minahasa harus bertempur juga melawan sesama Prajurit Minahasa yang berpihak ke Belanda.(nv)

Ketika matahari terbit seperti tanpa rasa bersalah, benteng-benteng pertahanan Tondano sudah hancur, perkampungan telah menjadi abu, dan airDanau dan sungai-sungai di Tondano sejenak menjadi merah. Semuanya itu menjadi tinta bagi materai keberanian dan semangat pantang menyerah rakyat Tondano, rakyat Minahasa, yang telah berjuang demi kebanggaan dan  cita-cita mereka untuk hidup terhormat di tanah kelahirannya, tanah nenek moyang mereka.

Bagi Walak Tondano itu bukan semata-mata kekalahan, itu menunjukkan dirinya yang sejati dan harapannya bagi
persatuan Minahasa yang sejati. Akan tetapi, bagi Weintre ( Winter ) itu adalah kemenangannya.

Dalam laporannya, ia menulis:50 5-7 Agustus 1809…Temanku Balfour, Tondano telah mengalami nasibnya yang naas pada tengah malam. Seluruh Tondano telah menjadi lautan api. Aku harapkan tidak ada sisa lagi dari Tondano ini. Mereka yang tidak sempat menyingkir itu terdiri dari orang tua yang sakit, wanita dan anak-anak.  Mereka yang selamat dari amukan api, dihabiskan nyawanya oleh anggota-anggota pasukanku….yang penuh dengki dan haus darah, ingin membalas kematian rekan-rekannya yang tewas dalam pertempuran sebelumnya…

Sehari setelah kemenangan kami, aku memerintahkan distrik-distrik (pakasaan-pakasaan) lain di Minahasa untuk membawa masing-masing 200 orang agar dapat membantu menghancurkan apa yang masih tersisa dan belum ditelan api, seperti kanon-kanon, tiang-tiang palisade yang terpancang di sekeliling kubu pertahanan mereka. Segala sesuatu, termasuk  pepohonan, waruga-waruga aku suruh hancurkan agar kelak tidak akan
kelihatan bekas bahwa ditempat ini pernah ada pemukiman orang-orang Tondano…. 

Foto: Persawahan di Pinggiran Danau Tondano Sekarang.

Alasanku melibatkan pakasaan-pakasaan Minahasa dalam penghancuran sisa-sisa perkampungan orang Tondano ini, adalah untuk memperingatkan mereka di Minahasa akan nasib yang akan mereka alami bila berani menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Senjata-senjata yang dapat disita masih kurang banyak. Dan aku duga orang-orang Tondano telah menengelamkannya di danau. Selanjutnya aku akan mengejar pemimpin-pemimpin mereka yang sempat mengundurkan diri ke hutan-hutan disekitar Kapataran….”

Tanggal 9 Agustus 1809 ia meneruskan laporan tersebut kepada atasannya Gezaghebber de Moluccas Rudolf Coop a
Groen di Ternate: “ … Orang-orang Tondano yang congkak dan angkuh itu akhirnya dapat kita taklukkan.”51 Bagi Weintre, keinginan untuk tidak dijajah dan dieksploitasi adalah suatu tindakan yang congkak dan angkuh. Memang pihak Tondano telah dikalahkan, namun dapatkah seorang dengan senjata apapun mengalahkan keinginan untuk bebas dan merdeka ?

Waraney-waraney Minahasa yang masih bertahan terus melakukan perang gerilya di hutan-hutan. Panglima perang Korengkeng bersama-sama Waworambitan (Rambitan), Lintang, Tampomalu, Pangau, Manueke bersama yang lainnya bergerilya di sekitar Pegunungan Lembean sampai pantai Timur Minahasa. Kelompok Matulandi dan Sumondak berangkat ke Kakas.
Sementara Sarapung, Tewu, Item, Lontoh serta rekan-rekan mereka terus melakukan perlawanan di daerah sebelah Barat kota Tondano yang sekarang.

(Beberapa waktu kemudian Tewu dan Lontoh tertangkap dan dibuang ke Ternate, dibebaskan lagi ketika Inggris mengambil kekuasaan dari Belanda setahun kemudian). Item dan Sarapung dikabarkan meninggal di sekitar Tondano karena sakit. Korengkeng dikatakan mempimpin perang gerilya yang paling lama di hutan-hutan, sampai mereka dijuluki tou en talun (Manusia yang tinggal di hutan).

Referensi
1. Kusen, Albert W.S. 2007. Makna Minawanua: Refleksi Atas Perjuangan Orang Minahasa-Tondano. Dipresentasi dalam Forum Seminar ’Kembalikan Minawanua’ ku, di Tondano, 23 Desember.
2. ————2009. Antropologi Minahasa: Identitas dan Revitalisasi. Waraney Connections. Buku Teks 375 hlm (belum diterbitkan).
3. Mambu, Edy, 1986. Jalannya Perang Tondano. Jakarta: Yayasan Kebudayaan Minahasa.
4. Sendoh, Joutje, 1985. Perang Minahasa di Tondano. Dipresentasi daslam Lokakarya ’Perang Tondano’, di Tondano, 22 Deswember 1986.
5. Supit, Bert, 1991. Sejarah Perang Tondano (Perang Minahasa di Tondano). Jakarta: Yayasan Lembaga Penelitian Sejarah dan Masyarakat.
6. —————2007. Pengantar Diskusi ‘Strategi Budaya Orang Minahasa Demi
7. Pakalawiren dan Pakatuan’.
8 . Taulu, H.M.1961. Perang Tondano. Minahasa.
9. Umboh, Sam A.H.1985. Perang Tondano. Skripsi Jur. Sejarah Fakultas Sastra Unsrat.
10. Watuseke, Frans.S. 1968. Sedjarah Minahasa. Manado: Yayasan Minahasa Watuseke-Politon.
11. Weichhart, Gabriele, 2004. Identitas Minahasa: Sebuah Praktek Kuliner. Dalam Jurnal Antropologi Indonesia.
12. Wenas, Jessy, 2007 Sejarah & Kebudayaan Minahasa. Jakarta: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.
13. Wuntu, Giroth, 1962 Perang Tondano.[Jakarta. [ Albert Kusen, dan dari berbagai sumber] TAMAT

(Visited 5.123 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *