Review Film From Earth to the Universe

Sulutpos.com, Manado – Berbagai pemikiran tentang langit muncul. Mitos-mitos yunani mulai tergambar saat langit mulai dipetakan dan imajinasi pikiran manusia mulai menuntun untuk membuat formasi rasi bintang berdasar mitos pada peta langit. Berbekal teleskop ciptaannya, Galileo mulai mengungkap sisi lain alam semesta yang selama ini dipertanyakan oleh banyak orang.

Galileo melihat bahwa Bulan ternyata berkawah, jupiter memiliki satelit alam dan Venus memiliki fase seperti Bulan. Rasa penasaran akan misteri langit memicu perkembangan teleskop hingga diciptakan observatorium-observatorium besar untuk mengamati benda-benda langit. Beragam jenis teleskop digunakan di berbagai observatorium hingga keinginan manusia membuat teleskop luar angkasa yang mampu melihat sisi lain alam semesta kini telah mengorbit sejauh 553 km diatas permukaan laut.

-editar-ccGambar ini menunjukkan tiga antena, bagian dari Atacama Large Millimeter / submillimeter Array (ALMA). ALMA akan terdiri awalnya dari 66 antena presisi tinggi yang terletak di dataran tinggi Chajnantor, 5000 meter ketinggian di Chile utara.

ALMA mengamati cahaya yang dipancarkan oleh benda-suhu dingin di ruang angkasa, yang memungkinkan kita untuk mengungkap misteri yang mendalam tentang pembentukan planet dan munculnya molekul kompleks, termasuk molekul organik. Ini telah memungkinkan kita untuk melihat melalui daerah gelap alam semesta terbuat dari gas dan debu seperti yang terlihat pada gambar ini.(Kredit: A. Duro / ESO.

 Inilah sebuah kisah perjalanan manusia memahami alam semesta. Sebuah film berjudul “From Earth to the Universe” merupakan film full version yang dirilis oleh European Southern Observatory untuk digunakan pada proyektor-proyektor planetarium digital. Film ini di disutradarai oleh Theofanis N. Matsopoulos dengan soundtrack ciptaan komposer Norwegia Johan B. Monell. Kualitas video resolusi tinggi hingga mencapai 4K serta foto dan video yang realistis membuat video durasi 31 menit 46 detik ini menjadi tampak nyata saat diputar pada planetarium digital.

Berkenaan dengan film tersebut, pada jumat siang 10 Juli 2015, Klub astronomi Penjelajah Langit beserta Taman Pintar Yogyakarta berkesempatan memutar film “From Earth to the Universe” dengan menggunakan proyektor digital Planetarium Yogyakarta.

Nuansa langit malam serta luasnya alam semesta benar-benar sangat terasa saat bentangan galaksi Bimasakti secara detail menjulang dari selatan hingga utara. Tak hanya itu saja, sejarah tentang eksplorasi luar angkasa yang berdampak pada pengamatan langit melalui teleskop luar angkasa Hubble turut di kisahkan pada film ini. Foto hubble deep field, nebula elang dalam versi 3 Dimensi serta beragam animasi gugus bintang dan tabrakan galaksi benar-benar membuat film ini mampu memukau bagi mata yang memandang.[KA]

The planetarium show ‘From Earth to the Universe’ | ESO

This is the trailer for the first in-house produced fulldome planetarium movie, From Earth to the Universe.

This stunning, 30-minute voyage through time and space conveys, through an arresting combination of sights and sounds, the Universe revealed to us by science. The show was produced for the ESO Supernova Planetarium and Visitor Centre, to be opened in 2017, and for the worldwide planetarium community as free highres 4k download. Read more about the movie here.

Credit: ESO/Theofanis N. Matsopoulos (matsopoulos.blogspot.gr)/youtube.com

(Visited 138 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *