Antara Bung Karno, Fotografer dan Wartawan

SulutPos.com, Manado – Ada satu kisah menarik ketika Jenazah Bung Karno, sapaan akrab Ir Soekarno,  Presiden pertama Indonesia, baru saja dipindahkan dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, ke Wisma Yasso, sebelum dibawa ke Blitar, Jawa Timur untuk dimakamkan.

Foto: Presiden Soekarno bersama para wartawan Blok Barat, di istana Merdeka, Januari 1957, dalam rangka pengunguman ‘ Demokrasi Terpimpin ‘, koleksi PERPUNAS RI. (sumber artikel: IPPHOS)

Ratna Sari Dewi beberapa kali menegur para fotografer dan wartawan karena terlalu dekat, berebutan memotret wajah Bung Karno. ” Kameramen jangan terlalu dekat, jangan kurang ajar. Hormati Bapak,” Kata Ratna.

Bisa dipahami, kesedihan bisa membuat Ratna sampai tidak menyadari, bahwa terlepas dari tugas kewartawanan, para wartawan dan juru foto itu justru sedang memberikan penghormatan terakhir bagi sang proklamator.

Hal ini sangat jelas, seperti kesaksian para wartawan yang mengenalnya sepanjang revolusi kemerdekaan, berbagai peristiwa sejarah yang pernah di abadikan bersama, Bung Karno tak pernah mau pergi tanpa diiringi wartawan dan fotografer.

“Presiden yang mengizinkan para fotografer memotret dirinya dari dekat, sementara juru tulis hanya berdiri di pojok,” Kenang R.M Soeharto, pensiunan juru kamera Berita Film.

Mendur Bersaudara dari Indonesia Press Photo Services ( IPPHOS ), pernah diajak Bung Karno untuk mengambil gambarnya ( Soekarno-red) di serambi istana sekaligus sarapan pagi bersama. Menghentikan mobil kepresidenan hanya untuk memberi tumpangan kepada fotografer atau wartawan yang ketinggalan angkot ? bagi kebanyakan Presiden atau pejabat, ukuran seperti ini mungkin saja berlebihan atau sudah terlalu jauh, tapi tidak bagi Bung Karno.

Foto: Bung Karno diantara para pejabat dan masyarakat umum(IPPHOS).

Hubungan khusus Presiden Soekarno dengan wartawan ataupun fotografer tidak bisa dinilai hanya dari protokol yang terkait dengan status dan jabatannya(presiden). Bung Karno memilki formula tersendiri di dalam bersama-sama dengan para juru tulis ataupun juru kamera, dimana hal ini sangat sulit bagi kebanyakan orang penting dan para pejabat lainnya.

Dalam dunia Bung Karno, tulis Jakob Oetama, wartawan senior, Kekenesan Pribadinya Berperan. Sejauh yang berhubugan dengan citra diri, hal itu sudah bisa kita rasakan, bahkan sejak gambar-gambar dirinya dibuat tukang potret tak bernama di awak abad silam. Berpose paling belakang, atau di kelilingi teman-teman sebangku sekolahnya di Hoogere Burgerschool (HBS), Surabaya. kebiasaanya pada periode ini, memang tak percuma Sukarno di beri nama Si Putra Fajar. Pasang aksi. Penuh gaya dari ujung destar hingga ujung jarik dan selopnya. Seolah dalam foto-foto keroyokan cuma ada Sukarno seorang, Tulis Oetama dalam editorialnya 31 tahun silam.

Dalam arsip IPPHOS, masih banyak negatif asli tentang Soekarno yang luput dari publikasi. Begitu alami, dan sangat intim, adegan, gambar-gambar yang penuh dengan spontanitas itu direkam, di dokumentasikan justru bukan dari keluarga atau kerabat dekat Bung Karno, melainkan melalui juru foto/wartawan yang memang hadir di tempat itu dalam rangka tugas.

Ditinjau dari, sudut itu, semua dokumentasi yang dibuat tentang Bung Karno, akan memperlihatkan pola yang sama, apapun peristiwa dan kejadian, serta dimanapun tempatnya, Bung Karno tahu menyenangkan hati para juru potret (dan sebagai buntutnya menyenangkan hatinya sendri). Ia (Soekarno) tahu kapan harus serius (foto Mendur Bersaudara pada saat pembacaan teks Proklamasi, 17/8/1945), Ia tahu kapan harus bersahaja, ataupun moment dimana perlu canda bahkan sedikit menggoda.

Alkisah ketika Bung karno ditangkap Belanda (Yogjakarta,1948). Ia membiarkan dirinya di potret juru kamera musuh. Dengan melangkah pasti, wajahnya tenang. Bagi fotografer ia boleh berbangga, mendapatkan materi untuk kepentingan atau propaganda negaranya. Tapi, bagi keseluruhan penampilan Bung Karno, saat itu ia memperlihatkan kewibawaanya, kebenaran sebenarnya ada di tangan Republik Indonesia, dan yang salah sebenarnya ada di pihak agresor, pihak penjajah.

Bung karno juga pernah menugaskan kepada Letkol Seoharto, Wartawan Rosihan Anwar, dan Frans Mendur (IPPHOS), untuk menjemput Sudirman, di markas gerilyanya, dekat Wonosari.” Untuk menghindari kesan telah terjadi perpecahan,” Rosihan Anwar mencatat.

Sang Jenderal tiba di serambi kediaman Presiden setelah menembus hutan dengan di tandu. “Ketika kami tiba, suasana sangat tegang,” Tutur Tjokropranolo(belakangan menjabat Gubernur DKI Jakarta), pengawal Panglima Besar Sudirman.

Foto: Bung Karno bersama Jenderal Sudirman(membelakangi kamera). IPPHOS.

Waktu itu, Sudirman yang masih marah ketika Soekarno ingkar janji untuk bergerilya bersama malah membiarkan dirinya ditangkap Belanda. Ia (Sudrman), hanya berdiri kaku dengan tangan disebelahnya memegang tongkat, Soekarno dengan sigap merangkul tubuh kurus sang Jenderal. Saat itupula, matanya(Soekarno), melirik ke sosok Frans Mendur yang memegang kamera. Abdul Wahab dan M. Sayuti dari Antara, walaupun hadir tapi tidak dapat mengambil gambar karena kehabisan film, menjadi saksi mata.

Biarlah foto yang berbicara, kata kebanyakan orang tahu betul akan makna didalam sebuah gambar dari suatu peristiwa tertentu. Mungkin tak pernah terlintas dalam benak, sewaktu pelajaran sejarah disekolah, tentang siapa dan bagaimana kisah dari sisi lain sampai foto itu muncul di buku-buku.

Foto: Bung Karno

Ketika Sejarah Dalam Tangan Seorang Jurnalis

Kita masih ingat saat itu, saat dramatis, saat dimana kita menyatakan kedaulatan dan kemerdekaan kita. Bebas dari belenggu penindasan, menjadi sebuah Bangsa, Republik Indonesia.

Kisah dimulai selepas subuh, ketika dua orang wartawan dengan kemauan sendiri meninggalkan rumah mereka menuju Jalan Pegangsaan Timur No.56, Cikini, Jakarta. Alex  Impurung Mendur, Kepala kantor berita harian Jepang, Domei (sekarang kantor Antara), mengetahui akan ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Begitu juga dengan sang adik, Frans Soemarto Mendur, mendapatkan informasi dari sumbernya di harian Asia Raya.

Mereka mengambil rute terpisah, mencari jalan sunyi senyap, dan aman. Walaupun baru beberapa hari sebelumnya Jepang telah menyatakan kalah melawan sekutu dalam perang Pasifik, masih sedikit yang tahu tentang hal itu, Radio masih di segel, bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana, ditambah lagi perangai tentara Jepang yang lebih galak dari biasanya. Sepanjang jalan keduanya pun melangkah mengedap-endap.

Tiba di tujuan sekitar jam 5 pagi, suasana di kediaman Soekarno agak adem, tidak ribut, tenang dan sopan. Terlihat beberapa tokoh telah hadir, seperti Drs. Moh. Hatta, SK Trimurti, sejumlah anggota PETA (Pembela Tanah Air) dan sedikit warga. Jumlahnya tidak banyak, karena kejadian yang akan bergulir hari itu tidak disebar-luaskan. Semuanya menanti.

Ketika matahari bergerak naik, Bung Karno di dampingi Bung Hatta akhirnya menampakan diri, membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Mendur Bersaudara, Alex dan Frans, langsung mengabadikan momen bersejarah tersebut dengan kamera Leica mereka. Saat itu, Jumat, jam 10 pagi, 17 Agustus 1945, lewat foto mereka (Mendur Bersaudara) kita bisa melihat detik-detik Proklamasi RI.

Foto: Ir. Soekarno ketika membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Setahun Kemudian, tepatnya 2 Oktober 1946 Mendur Bersaudara, bersama kakak-beradik Justus dan Frans ‘Nyong’ Umbas, Alex Mamusung dan Oskar Ganda, bersepakat dan secara resmi membentuk Kantor Berita Indonesia Press Photo Services ( IPPHOS ). [Novy/dari berbagai sumber]

(Visited 1.087 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *