Misteri Waruga : Makam Kuno Minahasa (Bagian I)

Sulutpos.com, Manado – Waruga adalah makam orang Minahasa kuno berupa batu berongga bersegi empat setinggi sekitar 1 meter tempat meletakkan jasad  dalam posisi duduk, dan cungkup batu berbentuk segitiga yang menutupinya. Satu Waruga biasanya digunakan sebagai batu kubur untuk satu keluarga, sehingga bisa berisi sampai 12 jasad, yang bisa dilihat dari jumlah garis yang ditoreh pada cungkup Waruga.

Terbuat dari jenis batuan beku/sendimen dengan nama batuan Tufa atau Lava Basal(dalam bahasa daerah diesebut Domato), semakin keras, kuat dan tahan lama jika berada di tempat terbuka atau udara bebas. Alam sudah menyediakan bahan untuk membuat Waruga, mudah didapat di tebing batu, khususnya daerah pegunungan(daerah gunung berapi aktif).

Pendapat Beberapa peneliti tentang masa awal, kapan suku Minahasa mulai menggunakan Waruga masih bervariasi, ada yang mengatakan sejak abad ke-4 SM, pendapat lain menyebutkan jauh lebih tua lagi, Yuniarti Umar ( 1987), menjelaskan Waruga termasuk peninggalan Megalitik berlangsung mulai masa Neolitik, sekitar 4500 tahun lalu.

Foto Edit: Waruga Sawangan, Airmadidi, Minahasa Utara.(Novy)

Penggunaannya hingga abad 18-19 Masehi serta berakhir pada awal ada 20 Masehi. Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur).

Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah.

Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga.

Bentuk, Ukuran dan Hiasannya

Masa lampau manusia dapat dipahami melalui rangkaian peristiwa budaya yang terangkum dalam aktivitas manusia dan proses-proses perubahan budaya yang terjadi. Salah satu peristiwa budaya yang berisi pola kehidupan masyarakat dapat dilihat pada aspek religi dalam tradisi Megalitik di Indonesia khususnya di Tanah Minahasa, Sulawesi Utara.

Waruga adalah bentuk wadah kubur yang paling banyak dijumpai di Minahasa. Waruga terdiri atas dua bagian, yaitu bagian badan atau wadah yang digunakan untuk meletakkan mayat atau orang yang telah meninggal, dan bagian atas wadah yang merupakan atap sebagai penutup bagian wadahnya. Selain bentuknya yang cukup unik dan bervariasi, waruga-waruga yang tersebar di Minahasa ini juga memiliki ukuran dan hiasan yang cukup variatif.

a. Wadah Waruga

Wadah dan penutup waruga yang ditemukan di Tanah Minahasa secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan bentuknya menjadi :

1. Bentuk kotak empat persegi (kubus)

2. Bentuk empat persegi panjang

3. Bentuk empat persegi panjang tidak beraturan

4. Bentuk elisp

5. Bentuk bulat (silinder)

6. Persegi delapan.

Namun secara umum bentuk wadah atau badan waruga berbentuk kotak empat persegi atau kubus yang sering ditemukan.

b. Tutup Waruga

Bentuk tutup waruga yang ditemukan pada situ-situs megalitik di wilayah Minahasa secara umum dibedakan menjadi beberapa bagian berdasarkan atas bentuk penampakan fisiknya :

1. Bentuk segi tiga

2. Bentuk segi empat (limas)

3. Bentuk trapezium

4. Bentuk segi delapan

5. Bentuk kerucut

6. Bentuk bulat

7. Bentuk persegi panjang berundak (tidak beraturan)

Bentuk umum penutup waruga adalah berbentuk limas seperti atap rumah, adapun variasi beberapa bentuk penutup ini terlihat pada bagian atas penutup tersebut (pada bumbungan), biasanya bentuknya disesuaikan dengan hiasan yang dipahatkan atau digoreskan pada bagian tersebut, untuk beberapa penutup waruga tertentu ada juga yang menyesuaikan atau mengikuti bentuk wadah atau badan waruganya.

Dari hasil pendataan Badan Arkeologi Manado terhadap sebaran situs waruga yang ada di Minahasa menunjukkan bahwa bentuk waruga-waruga yang tersebar di Minahasa bagian selatan terlihat sedikit kaku, kebanyakan wadah kubur tersebut berbentuk kotak dan empat persegi panjang, dengan penutup umumnya berbentuk limas atau seperti atap rumah, sedangkan waruga-waruga yang ditemukan di wilayah bagian utara Minahasa umumnya berbentuk lebih dinamis dan variatif, dengan bentukan wadah dan penutup yang beragam.

Ukuran Waruga

Ukuran tutup waruga dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu ukuran besar, sedang dan kecil.

a. Waruga berukuran kecil memiliki tinggi keseluruhan antara 40-120cm;

b. Waruga berukuran sedang memiliki tinggi keseluruhan diatas 120-200cm;

c. Waruga berukuran besar memiliki tinggi keseluruhan diatas 200-300cm;

Penggunaan waruga umumnya disesuaikan dengan keadaan ukuran wadah dan orang yang akan dikuburkan dalam waruga tersebut. Namun tidak selamanya demikian, pada orang-orang tertentu yang dikuburkan ukuran wadah tidak menjadi jaminan atau keharusan, tetapi lebih pada penghargaan dan penghormatan kepada orang yang meninggal.

Hiasan Pada Waruga

Dari keseluruhan bentuk dan ukuran waruga yang tersebar di Minahasa, keunikan benda ini terletak pada motif hiasan yang dikerjakan baik melalui pahatan, maupun pengerjaan dengan teknik menggores pada bagian penutup maupun bagian wadah waruga. Pola hias pada waruga-waruga yang tersebar di Minahasa umumnya dijumpai pada bagian penutupnya, tetapi ada pula yang dilakukan atau dibentuk pada bagian wadahnya.

Foto : COLLECTIE_TROPENMUSEUM/Alfurse/graven_op_Minahasa/Celebes/TMnr/60042777(Hendrik Veen/ 1860-1920). Umumnya Makam adalah Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama Purba ( Walian), Panglima/Kepala Walak/Prajurit Perang(Tona’as/Waraney)

 Ragam hias yang terdapat pada bagian wadah dan tutup waruga-waruga yang tersebar di Minahasa ada yang berfungsi sebagai unsure keindahan, ada pula yang memiliki makna-makna tertentu atau memiliki suatu latar belakang tertentu (sebagai simbol/unsure magis).

Adapun teknik-teknik menghias pada wadah dan tutup waruga berupa teknik pahat dan teknik gores yang umum digambarkan pada bagian muka, belakang dan samping atau sisi masing-masing bagian waruga. Pola hiasan ini juga beragam, ada pola hias yang pada pada bagian penutupnya saja tetapi bagian wadahnya polos, ada juga yang bagian penutupnya polos tetapi wadahnya berisi pola hiasan.

Motif hias yang dibuat baik pada bagian penutup ataupun wadah waruga umumnya tidak hanya satu jenis motif hiasan saja, tetapi kadangkala dibuat lebih dari satu hiasan, sehingga terkesan penuh dan indah, ada pula pola hias yang sedang, dimana hiasan yang dibuat pada tutup waruga tersebut tidak penuh atau tidak terlalu banyak. Selain itu ada pula yang polos atau tidak ditemukan satupun hiasan pada tutup waruga maupun badan waruga.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap situs-situs megalitik waruga di Minahasa menunjukan bahwa motif hiasan yang ditemukan dapat dikelompokan menjadi :

1. Pola hias motif binatang (fauna)

Secara umum jenis hewan atau binatang yang seringkali digunakan adalah ular, selain itu beberapa binatang lainnya seperti sapi/lembu, babi, burung, burung, dan beberapa ciptaan kombinasi binatang antara jenis unggas, ular dan binatang memamah biak. Setiap motif binatang ini biasanya dibuat secara berpasangan atau kembar, ada yang bentuk secara terpisah, namun kebanyakan motif binatang ini dibuat menyatu dengan satu badan tetapi memiliki dua kepala. Hiasan atau pola hias binatang ini ditemukan hampir disetiap waruga-waruga yang tersebar di Minahasa terutama di bagian utara, baik yang dibuat pada bagian wadah maupun pada bagian penutupnya.

2. Pola hias motif manusia (dalam berbagai bentuk)

Biasanya dalam bentuk hiasan berupa manusia, baik manusia seutuhnya, bagian tubuh manusia, atau bentuk lain yang menggambarkan sosok manusia. Motif manusia ini dipahatkan dan digambarkan dalam berbagai bentuk dan posisi. Kebanyakan ditemui bentuk manusia yang berpola kangkang dengan penonjolan pada bagian alat reproduksinya (baik laki-laki maupun perempuan).

Waruga di Kampung Tua, Lotta, Pineleng.
Waruga di Kampung Tua, Lotta, Pineleng.

Selain gambaran tersebut pola hias lainnya berupa muka manusia dalam keadaan melotot, hidung lebar dan gigi rating yang digambarkan menonjol, serta memiliki tanduk. Gambaran mausia lainnya berupa gambaran manusia gagah dengan bentukan badan tegap dan perkasa memegang senjata ditangan, hiasan lainnya gambaran seorang ibu yang sedang melahirkan dalam posisi kangkang dan bagian bawah antara kedua kakinya digambarkan seorang bayi yang baru keluar dari rahim sang ibu, dan lain-lain.

3. Pola hias motif tumbuhan (flora)

Bentuk hiasan yang menggambarkan bentuk hiasan tanaman atau tumbuhan, yaitu seperti bunga-bungaan, daun-daunan dan segala bentuk yang menggambarkan wujud tanaman baik yang utuh, atau terlihat langsung maupun dalam bentuk yang telah distilir atau diperindah (Soegondho, 2008).

4. Pola hias motif kombinasi

Bentuk hiasan yang terdiri dari kombinasi bentuk-bentuk seperti garis-garis lurus, garis lengkung, kotak-kotak, gunongan (segitiga terbalik), lingkaran, segitiga dan lain-lain. Hiasan bentukan-bentukan pola hias kombinasi ini umumnya ditemukan pada waruga-waruga yang tersebar di beberapa daerah di Tanah Minahasa.

5. Pola hias motif jumbai/buah kabalas/kendi.

Bentuk hiasan ini biasanya berada di bagian sisi samping (bagian kelebaran waruga). Hiasan ini digambarkan sebagai jumbai atau bentuk lonjong yang menjuntai kebawah (biasanya dipahatkan satu atau dua buah). Masyarakat Minahasa mengenal motif ini sebagai buah kabalas, ada pula yang mengartikannya sebagai sebuah kendi air. Motif hiasan ini ditemukan hampir disetiap situs waruga yang ditemukan di Minahasa.

Pola hias yang dipahatkan pada waruga-waruga di Minahasa ini sebagian disesuaikan dengan kepercayaan yang berkembang pada masa itu, selain itu juga dapat menunjukan profesi atau kegiatan orang tersebut semasa hidupnya, dan hiasan lainnya merupakan hiasan yang bertujuan untuk keindahan atau seni semata. Pahatan atau lukisan manusia merupakan pola hias yang cukup banyak ditemukan pada waruga-waruga di Minahasa.

Berbagai macam bentuk dan gaya manusia yang dibuat baik pada wadah maupun penutup waruga umumnya pola hias ini bukan ditujukan sebagai hiasan dekoratif, tetapi lebih pada “pengungkapan” sesuatu, atau bermakna lebih pada unsure religious-magis, tetapi tidak selamanya demikian. Di beberapa tempat ditemukan gambaran permpuan berdiri, diantara kaki-kainya tampak seorang bayi dengan kepala yang menggantung ke bawah, agaknya gambaran ini menunjukkan tentang “partus” (maton tunuwu).

Menurut penuturan masyarakat bahwa perempuan itu mati waktu melahirkan anak, maka perempuan itu akan diletakan dalam waruga dan apabila orang membuka penutup waruga akan mengaggap bayinya sudah lahir (Bertling;1932). Pendapat lain mengenai gambaran pola hias demikian lebih menunjuk pada profesi orang yang meninggal, disebutkan bahwa gambaran pola hias demikian membawa pengertian bahwa orang yang meninggal pernah berprofesi sebagai dukun beranak.

Beberapa pola hias manusia lainnya digambarkan dengan mimic yang menakutkan dan gaya dengan penonjolan alat reproduksinya, ini bertujuan untuk menghindari jahat yang berada di sekeliling mereka. Contoh lain jika orang yang meninggal merupakan seorang Tonaas atau orang yang dihormati dalam kampungnya, maka pola hias yang digambarkan pada makamnya (waruga) umumnya berupa manusia yang digambarkan kokoh, dengan senjata, dan alat perang dan lain-lainnya.

Pola hias binatang (ular, naga, burung hantu, sapi dan lain-lain) juga banyak ditemukan pada waruga-waruga di Minahasa, terutama di wilayah utara. Motif ular terkadang digambar realistis, dimana simbol ular melambangkan memberikan hidup kembali, karena ular mempunyai kemampuan untuk memperbaharui kulitnya dan memperoleh keremajaannya kembali. Beberapa berpendapat bahwa ular merupakan simbol binatang penjaga, agar supaya orang yang mati tenang menuju ke alam lain.

Waruga (2)
Waruga (2)

Motif binatang lainnya adalah burung hantu, walaupun tidak banyak, tetapi motif binatang ini juga ditemukan. Burung hantu dianggap sebagai kendaraan atau hewan peliharaan para dwa dan merupakan binatang pembawa berita.

Motif hiasan lainnya yang cukup penting dan hampir selalu ada pada setiap waruga adalah motif jumbai yang ada sebelah-menyebelah pada bubung bagian atas penutup waruga. Motif jumbai ini dipahatkan atau digoreskan dalam berbagai bentuk model. Motif ini juga terlihat pada rumah-rumah masyarakat Minahasa pada masa lalu. Motif ini lebih ditujukan sebagai lambing perlindungan dan kekuatan, serta perbuatan baik.

Selain pola hias tersebut di atas beberapa pola hias yang ditemukan pada situs-situs megalitik di Minahasa kemungkinan menunjukkan adanya hiasan atau gambar yang menunjukkan profesi atau kegiatan orang mati tersebut semasa hidupnya. Temuan pola hias yang demikian kemungkinan muncul pada masa kemudian, dimana budaya megalitik tetap hidup dalam masyarakat Minahasa, tetapi nilai-nilai kepercayaan yang ada telah berkembang dan disesuaikan dengan norma-norma yang berlaku selanjutnya dalam masyarakat tersebut.

Umumnya pola hias yang demikian ditemukan pada lokasi di sekitar pemukiman penduduk, perkebunan dan lingkungan pekuburan yang umum masih dipergunakan pada saat ini, tetapi beberapa diantaranya juga ditemukan bercampur dengan temuan-temuan waruga berpola hias prasejarah di lokasi pekuburan tua dan kampong tua. Sebagai contoh pola hias binatang anjing atau senjata tajam, dapat diartikan bahwa orang yang dikuburkan dalam waruga tersebut semasa hidupnya pernah berprofesi sebagai pemburu.

Pada masa selanjutnya, ketika modernisasi dan norma agama telah hadir di Minahasa dan sekitarnya, perkembangan pola hias pada waruga juga mulai bervariasi dan mengesampingkan hiasan-hiasan yang bersifat magis Hiasan-hiasan yang dibuat pada saat itu terlihat lebih bersifat pada keindahan semata, yang bertujuan untuk mengenang orang yang disayangi dan dihormati, dan kemungkinan orang tersebut merupakan orang yang di puja atau terkenal semasa hidupnya.

Namun demikian sejauh ini belum ada penelitian mendalam mengenai kebenaran persepsi pola hias yang umum dibuat pada waruga-waruga yang tersebar di Minahasa ini, hanya kalangan masyarakat Minahasa kepercayaan tentang itu tetap ada hingga saat ini.

Pola hias yang telah dijabarkan di atas sedikit banyak telah menunjukan bahwa penggunaan waruga di wilayah Minahasa ini terjadi pada rentang waktu yang cukup panjang. Budaya megalitik yang pernah hadir di tempat ini menempati waktu, dimulai sejak masa berlangsungnya prasejarah akhir hingga memasuki zaman sejarah.

Data tentang kepurbakalaan berupa Waruga yang tersebar di Tanah Minahasa menunjukan wilayah ini merupakan daerah yang cukup penting dalam rangka penyelusuran masyarakat dan budaya prasejarah, dalam hal ini budaya megalitik sebagai bahan dari penelitian arkeologi. Penemuan situ-situs megalitik yang tersebar di Minahasa ini diharapkan dapat membuka cakrawala dan sejarah budaya Minahsa, sehingga nantinya diharapkan dapat mendukung pengembangan pendidikan dan kepariwisataan di wilayah ini.

Keberadaan situs-situs megalitik waruga yang tersebar di Minahasa sebagai situs Megalitik di wilayah Sulawesi Utara telah menambah khasanah situs-situs megalitik yang ada di Indonesia. Situs-situs ini telah menambah data-data tentang berkembangnya suatu budaya yang kompleks dari sebuah masyarakat yang mendiami Tanah Minahasa pada masa lampau.

Waruga dan Masa Kini

Menjelang akhir tahun 1870, Suku Minahasa mulai membuat peti mati sebagai pengganti waruga, karena waktu itu mulai berjangkit berbagai penyakit, di antaranya penyakit tipus dan kolera. Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Bersamaan dengan itu pula, agama Kristen mengharuskan mayat dikubur di dalam tanah mulai menyebar di Minahasa.

Waruga yang memiliki ukiran dan relief umumnya terdapat di Tonsea. Ukiran dan relief tersebut menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di waruga yang bersangkutan sekaligus menggambarkan mata pencarian atau pekerjaan orang tersebut semasa hidup.

Di Minahasa bagian utara, pada awalnya waruga-waruga yang ada sekitar 370 buah tersebut, tersebar pada hampir semua desa di Minahasa Utara yang akhirnya dikumpulkan ke beberapa tempat seperti kelurahan Rap-Rap sekitar 15 buah, kelurahan Airmadidi Bawah 211 buah dan desa Sawangan 144 buah.

WARUGA di Air Madidi Bawah
WARUGA di Airmadidi Bawah

Kini lokasi waruga-waruga di tempat-tempat tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Sulawesi Utara, dan diperkirakan masi ada sekitar 2000 Waruga di seluruh Minahasa. Tempat ini pun telah dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995.

Pada saat ini waruga menjadi sumberdaya budaya dan aset yang sangat berharga serta berguna bagi pembangunan Sulawesi Utara maupun pembangunan Nasional pada umumnya. Sumberdaya tersebut memegang peranan penting dalam pengembangan dan pembangunan bidang pariwisata, kebudayaan, pendidikan dan ilmu pengetahuan, bahkan sangat berguna untuk meningkatkan kebanggan masyarakat, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Sumberdaya budaya yang berupa peti kubur batu waruga sebagai peninggalan sejarah peradaban manusia masa lalu di Tanah Minahasa itu mengandung nila-nilai pengetahuan dan sejarah serta budaya yang tinggi, sekaligus menunjukkan bagaimana tingkat kemampuan, pengetahuan dan peradaban masyarakat di daerah ini. Pengetahuan tentang bahan batuan, teknologi pengerjaan dan pemahatan batu, dan lain-lain telah dikenal sejak jama dulu.

Norma-norma adat kebiasaan dan pengetahuan serta tata cara kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan waruga menunjukan bahwa masyarakat Tanah Minahasa merupakan masyarakat yang memiliki budaya dan sejarah peradaban yang tinggi sejak ribuan tahun lalu. Nilai budaya dan sejarah peradaban yang tinggi ini memberi rasa bangga kepada masyarakat daerah yang dapat memupuk rasa kebanggan dan jatidiri bangsa.

Warisan budaya ada yang merupakan peninggalan tidak berwujud (intangible) yang tercermin dalam bentuk perilaku, adat istiadat, kebiasaan, hukum, upacara, religi, kesenian dan lain-lain, serta benda berwujud (tangible) dalam bentuk benda seperti peti kubur waruga dalam berbagai macam ukuran dan hiasannya.

Sumberdaya budaya yang bersifat tidak berwujud maupun benda-benda berwujud itu merupakan warisan yang sangat berharga dan penting di dalam usaha meningkatkan pembangunan Tanah Minahasa serta Sulawesi Utara pada umumnya.

Peninggalan budaya yang berupa adat dan kesenian serta benda-benda yang bersifat monumental seperti “waruga” saat ini dijadikan objek wisata, tempat hiburan, rekreasi dan tempat belajar-mengajar bagi siswa dan mahasiswa serta para peneliti. Di sisi lain tradisi masa lalu yang masih hidup (living tradition), seperti tradisi upacara adat dan kesenian tradisional, juga merupakan aset wisata yang tak ternilai harganya.

Dengan kata lain waruga berguna dan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan pariwisata bahkan untuk kepentingan upacara (ceremonial) asal dilakukan sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku.[Novy/dari berbagai sumber/Bersambung]

(Visited 3.759 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *