Perang Melawan Kekeringan

Sulutpos.com, Manado – Negeri ini kembali kekeringan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kemarau tahun ini berlangsung hingga November atau masih sekitar empat bulan lagi. Cukup panjang untuk masa tanam tanaman pangan serta ternak. Musim hujan diperkirakan baru datang paling cepat akhir November atau awal Desember mendatang.

Puncak musim kemarau terjadi pada Agustus ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun, menyatakan saat ini Indonesia mengalami bencana kekeringan. Orang kota mungkin hanya merasakan hawa yang makin panas. Dampak terparah di perkotaan paling banter adalah pasokan air bersih menipis.

Namun, bagi para petani bencana kekeringan akan merupakan sengatan berarti bagi penghidupan mereka. Kekeringan bakal menghancurkan panen petani. Artinya, mata pencaharian terganggu. Kemarau panjang tahun ini merupakan dampak fenomena iklim El Nino. Sampai saat ini, sekurangnya sudah tidak ada hujan di 18 provinsi pada dua bulan terakhir, sehingga sebagian lahan pertanian dan perkebunan kekeringan. Penduduk di sejumlah wilayah mulai merasakan kesulitan air bersih.

Pada Agustus ini, upaya membuat hujan buatan sulit dilakukan karena potensi munculnya awan sangat kecil. Bisa terbayang kesengsaraan akibat kekeringan pada dua bulan ke depan. BMKG memperkirakan tingkat keparahan fenomena El Nino kali ini setara El Nino pada 1997. Jika benar demikian, dampak kekeringan akan dahsyat.

Saat itu kekeringan membuat produksi padi terganggu, hingga memaksa pemerintah mengimpor jutaan ton beras untuk membantu kelompok masyarakat miskin. Belum lagi dampak kekeringan lainnya seperti kesulitan air bersih di banyak daerah, serta kebakaran hutan.

Kebakaran hutan mencapai luas 9,7 juta ha menimbulkan asap yang mengganggu kesehatan warga sekitar, kegiatan sehari-hari serta penerbangan. Asap bahkan menjadi masalah regional ketika sampai ke negara tetangga Singapura, Malaysia, dan Brunei.

Darurat kekeringan saat ini sudah terbaca. Skenario kemungkinan terburuk sudah tergambar. Kita mengapresiasi langkah cepat pemerintah. Presiden Jokowi telah meminta Kementerian Pertanian mengatasi masalah kekeringan, antara lain berkoordinasi dengan kepala daerah untuk memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 6,6 triliun untuk membuat program antisipasi gagal panen. Kementerian diminta membantu petani yang gagal panen dan menyiapkan cadangan beras pemerintah hingga 2,5 juta ton.

Dana bisa digunakan untuk pembangunan embung, dam, parit, dan sumur air tanah dangkal, khususnya di daerah endemis kekeringan dan sawah tadah hujan. Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, pemerintah telah membentuk tim khusus untuk mengantisipasi kekeringan penyebab gagal panen.

Mengutip apa yang diungkapkan menteri Amran, pemerintah sudah mendistribusikan pompa, membuat embung dan sumur dangkal/dalam, serta irigasi tersier. Tampaknya darurat kekeringan tahun ini meskipun dahsyat, sudah diantisipasi.

Kekeringan memang bukan baru di negeri agraris seperti Indonesia. Karena itu, sangat keterlaluan bila bangsa ini tidak bisa belajar dari pengalaman. Berdasarkan pengalaman musim sebelumnya, baik kekeringan, banjir, dan serangan hama bisa merusak sekitar 159.000 hektare sawah.

Karena itu, pemerintah telah memperkirakan kekeringan 200.000 hektare setiap tahun. Sungguh sebuah prestasi luar biasa bila benar pemerintah telah berhasil menyelamatkan kurang lebih 100.000 hektare karena antisipasi yang cepat. Persoalan tidak kemudian selesai.

Sekitar empat bulan ke depan adalah masa peperangan sebenarnya. Di sanalah pembuktian dari apa yang sudah disiapkan. Apakah embung, sumur, saluran, bermanfaat? Jangan-jangan pompa-pompa belum seluruhnya tersebar
atau termanfaatkan.

Bukan tidak mungkin kekeringan lebih luas dari perkiraan. Pemerintah harus sudah punya rumus penanggulangan kondisi terekstrem. Selain itu, menteri dan para pejabat di daerah harus “blusukan” lagi untuk mengecek langsung kondisi lapangan. Dengan demikian, apa yang dirasakan masyarakat langsung dapat direspons.

Blusukan juga untuk mengecek apakah apa yang dipersiapkan sebagai antisipasi kekeringan, sudah benar-benar terealisasi di lapangan. Semoga dampak El Nino tahun ini sesuai perkiraan. Menteri Amran memperkirakan hanya 8.000 ha sawah yang puso dari luas panen padi keseluruhan 13 juta ha. Sungguh jumlah luasan yang tak perlu dikhawatirkan. Itu semua terjadi bila memang semua upaya memerangi kekeringan sesuai prediksi
serta tak ada penyimpangan pada tahap implementasi. ***

[SP]

(Visited 435 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *