Film Dokumenter Ini Ungkap Mengapa Orang Kepincut ISIS

Sulutpos.com, Canberra – Noor Huda Ismail saat ini sedang melanjutkan pendidikan PhD di Universitas Monash dan di sela-sela studi sering melakukan perjalanan memberikan pendapat mengenai terorisme.

Foto : Noor Huda menjelaskan filmnya di depan pegiat perdamaian dari lembaga Initiatives of Changes di Melbourne. [Foto: Bruce Gil]

Dia sekarang sedang membuat film dokumenter berjudul “Jihad Selfie” setelah bertemu dengan beberapa WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak.

Setelah serangan di Paris yang diduga dilakukan oleh pendukung ISIS pada pertengahan November lalu, kebanyakan dari Anda mungkin sulit membayangkan para pelaku itu orang normal bukan?

Lalu, bagaimana menjelaskan orang bisa kepincut bergabung ISIS dan kemudian melakukan aksi terorisme?

Dalam acara ‘preview’ film ‘Jihad Selfie’ di Melbourne yang dihadiri puluhan aktifis perdamaian dari berbagai negara seperti dari Australia, Inggris, Afghanistan, Itali dan juga Pakistan, hari Senin (23/11/2015).

saya menjelaskan kenapa di tengah kesibukan menyelesaikan PhD Politik dan Hubungan International di Monash University, Melbourne, saya nekad membuat film dokumenter, “Jihad Selfie” padahal saya bukan seorang pekerja film profesional. Pembuatan film ini dimulai dari sebuah kebetulan.

Setelah selesai memenuhi undangan seminar tentang kajian saya di Istanbul (Turki), saya meluangkan waktu untuk jalan-jalan melihat keindahan negara yang pernah menjadi pusat peradaban Islam di masa Usmaniyah.

Ketika sedang makan kebab di kota Kayseri, saya melihat ada seorang remaja di pinggir jalan. Dari wajah dan gerak-geriknya, saya yakin dia orang Indonesia.

“Adik orang Indonesia?” tanya saya iseng.

“Iya” jawabnya lirih.

“Temanin saya makan kebab mau?”

Akhirnya kita makan bersama di warung kebab. Remaja ini ternyata sangat cerdas. Ia baru berumur 16 tahun, hafal Al Quran dan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Turki untuk belajar agama setingkat SMA di sini.

Tapi karena teman sekolahnya yang sering main bareng di warnet dan main game online itu menghilang selama tiga bulan, remaja ini galau. “Tiba-tiba dia nongol di status FB nya Mas. Selfie! gagah dan keren banget Mas dengan pakain militer dan bawa AK 47. Dia berjihad di Suriah.” ceritanya seru.

“Lewat FB messager, dia mengajak saya ke sana Mas. Katanya asik banget. Bisa makan kebab setiap hari, naik kuda dan bener-bener bisa menembak” tambahnya.

Heran, kaget dan was-was, dengan jawab si remaja yang ternyata dari Aceh ini, saya kemudian mengikuti perkembangan sikap, pemikiran dan jaringan yang menggerakkan anak-anak muda sepertinya untuk bergabung
dengan ISIS.

“Apakah sekolah remaja itu memang mengajarkan satu narasi tunggal tentang makna jihad seperti madrasah di negara kami?” tanya salah satu penonton dari Pakistan setelah menonton preview film. “Kenapa para tokoh agama tidak meluruskan faham jihad para anak remaja ini?” timbal seorang peserta dari Inggris.

“Iya, padahal kami di Afghanistan selalu melihat Islam di Indonesia itu sebagai model lho selama ini.” tambah penonton dari Afghanistan.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit itu, saya hanya bisa menceritakan pengalaman saya ‘ngecai’ (istilah lokal untuk minum teh) dengan para pemberontak rezim Assad di perbatasan Suriah. Waktu itu, penjagaan dari pemerintah Turki masih longgar untuk orang keluar dan masuk Turki dan Suriah terutama bagi para pengungsi yang jumlah mereka tiap hari terus naik.

Sambil nyruput teh panas, kaum pemberontak Assad itu bercerita kalau pendukung ISIS itu terbagi menjadi dua kelompok besar:

Kelompok pertama adalah penduduk lokal yang bergabung ISIS karena alasan ingin membalas kekejaman rezim Asad. “Banyak di antara mereka itu yang tidak bisa baca Al Qur’an, apalagi tahu ‘asbabun nuzul’ setiap ayat-ayatnya” jelas salah satu pemberontak.

‘Asbabun nuzul’ itu bahasa Arab yang dipakai dalam ilmu tafsir yang artinya sebab musabab turunnya sebuah ayat dalam Al Qur’an.

”Bagi mereka, ideologi ISIS bukanlah alasan utama, tapi lebih karena alasan pembalasan dan juga mereka tidak kuasa lari dari ISIS seperti pengungsi yang lain” imbuhnya. Ia kemudian menjelaskan bahwa kelompok kedua adalah para pendukung ISIS yang datang dari luar Iraq dan Siria.

Hari ini, jumlah mereka itu bisa mencapai 20an ribu orang dari 80an negara.  Diantara mereka itu ada sekitar 400-an lebih WNI yang datang sendiri atau dengan keluarga mereka.

Setelah menelusuri jejak pendukung ISIS di perbatasan Turki, Jakarta, penjara Nusakambangan, Solo, Semarang dan juga Lamongan untuk film Jihad Selfie, saya menyimpulkan bahwa tidak ada alasan tunggal kenapa orang asing kepincut ISIS itu.

Sebagian kecil memang karena alasan ekonomi seperti adanya janji mendapatkan gaji sekitar $ 250-an (sekitar Rp 2,5 juta) per bulan. Tapi ada juga karena alasan solidaritas.

Mereka ini terdiri dari kalangan terdidik dan orang-orang normal. Dalam istilah psikologi, mereka itu mempunyai rasa empati, welas asih yang tinggi untuk menolong orang yang tertindas dan bahkan ingin membangun peradaban baru.

Ada juga karena alasan pencarian jati diri. Barangkali, bagi remaja Aceh yang saya temuin di warung kebab itu, alasan kepincut ISIS lebih karena gelora jiwa muda dia yang haus akan petualangan dan pengorbanan.

Penulis dari Inggris, George Orwell, pernah mereview Mein Kampf nya Adolf Hitler’s tahun 1939. Ia kemudian mengatakan:  Hitler menemukan bahwa manusia itu tidak hanya ingin perdamaian, keamanan, kenyamanan dan kebebasan.

Mereka juga pengin petualangan, kejayaan dan pengorbanan diri” Melalui film ‘Jihad Selfie’ ini, saya ingin mengajak penonton untuk memahami bahwa langkah awal untuk melawan pesona ISIS itu haruslah dimulai dari hal yang paling sederhana: membicarakan isu ini dengan kepala dingin, penuh kejujuran, tidak langsung menghakimi dan
cepat beralih ke teori konsiparasi yang sangat disukai oleh kebanyakan dari kita. [SP/ABC/L-8]

(Visited 352 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *