Mengenal Bahasa Manado

Sulutpos.com, Manado – Bahasa Manado hampir menyerupai bahasa Indonesia, namun memiliki dialek khas. Selain berasal dari bahasa Melayu, bahasa Manado dipengaruhi kolonialisme. Menurut Inyo Yos Fernandez, bahasa Melayu datang di kawasan timur Indonesia secara bertahap, yaitu pada abad III-V masehi. Jauh lebih dahulu dibanding bahasa Portugis misalnya, yang baru mulai dikenal pada tahun 1520.

Walaupun kota Manado sebelum berdiri sendiri merupakan wilayah Minahasa, namun bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa di daerah Minahasa seperti Tombulu, Tolour (Tondano), Tountemboan, Tonsea, dan bahasa
Bantik.

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa awal mula bahasa Manado banyak dipakai oleh para pedagang saat bertransaksi di sekitar bendar atau pelabuhan laut Manado. Juga berkembang di pusat keramaian seperti di pasar-pasar tradisional di Manado.

Dalam perkembangannya, bahasa Manado telah diperkaya dengan berbagai kata-kata serapan yang berasal dari bahasa asing seperti Portugis, Belanda, Spanyol, Prancis, Inggris, dan bahasa asing lainnya. Juga diperkaya oleh bahasa daerah sekitarnya.

Kosa kata bahasa asing yang memperkaya bahasa Manado ada yang diserap sebagian, fiktif-fiktif, dan diserap penuh. Bahasa Belanda merupakan yang paling banyak diserap, diikuti Protugis, Spanyol dan sejumlah bahasa asing lainnya. Beberapa kosa kata bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Manado adalah sebagai berikut:

a.Kata serapan yang berasal dari bahasa Portugis. Di dalam tanda kurung ( ) adalah bahasa Portugis. Antara lain: Fastiu (Fastio)= kebosanan; Capeo (chapeu)= topi; Milu (milho)= jagung; Mantega (manteiga) = mentega; Pai (pai)= ayah; Mai (mae)= ibu; Testa (Testa)= dahi; Kadera (cadeira)= Kursi; Sabong (sabao)= sabun; Martelu (martelo)= palu; Tabako (tabaco)= tembakau; Tamate (tomate) = tomat; Fressko (fress)= segar; Pombo (pombo)= merpati; Kawayo (kavalo)= kuda; Gargantang (garganta)= tenggorokan; Oras (horas)= jam; Tempo (tempo)= waktu; Tuturuga (tarturuga)= penyu; Lenso (lenco)= sapu tangan; Blus (blusa)= kemeja wanita; Par (par) = pasangan; Suar (sour)= keringat; Sono (sono)= tidur; Mangga (manga)= mangga; Capatu (sapatos)= sepatu; Garfu (garfo)= garpu.

b.Kata serapan yang berasal dari bahasa Spanyol. Di dalam tanda kurung ( ) adalah bahasa Spanyol. Antara lain: Papaya (papaya)= papaya; Tamate (tomate) = tomat; Mama (mama)= mama; Papa (papa)= papa; Kawayo (caballo)= kuda; Gargantang (garganta)= tenggorokan; Kol (col) = kubis; Oras (horas)= jam; Tempo (tempo) = waktu; Capatu (zapatos)= sepatu; Moraya (Muralla)= dinding, benteng.

c. Kata serapan yang berasal dari bahasa Belanda. Di dalam tanda kurung ( ) adalah bahasa Belanda. Antara lain: Forok (vork)= garpu; Nanas (ananas)= nenas; Koor (koor)= paduan suara; Tart (taart)= kue; Klar (klaar)= selesai; Mar (maar)= tetapi; Vruk (vroeg)= pagi-pagi; Vor (voor)= untuk; Opa (opa)= Kakek; Oma (oma)= nenek; Om (oom)= paman; Dol (dol)= gila; Kol (kool) = kubis; Fasung (fatsoen)= kesopanan, cantik; Tanta (tante)= bibi; Kakarlak (kakkerlak)= kecoa; Klak (klacht)= keluhan, pengaduan; Swak (zwak) = lemah; Huk (hoek)= sudut; Spok
(spook)= hantu; Stad (stad)= kota; Fol (vol)= penuh; pompa (pomp) = pompa. Potlot (potlood) = pensil.

Kata ganti orang dalam Bahasa Manado berbeda dengan bahasa Indonesia. Kata ganti orang pertama tunggal (saya) dalam bahasa Manado disebut kita. Kata ganti orang pertama jamak (kami) disebut torang. Kata ganti orang kedua tunggal (anda) disebut ngana. Kata ganti orang kedua jamak (kalian) disebut ngoni. Kata ganti orang ketiga tunggal (dia) disebut dia. Kata ganti orang ketiga jamak (mereka) disebut dorang.

Kata somo, pang, pangba, pe, akang, ada dan kase, adalah sejumlah ciri khas bahasa Manado. Ba, ma, ta dan ka, adalah awalan (prefix) dalam bahasa Manado. Berikut ini adalah penjelasan kata somo, pang, pangba, pe, akang, ada dan kase beserta contoh dan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.

1.Somo, adalah kata yang menggambarkan kejadian atau yang baru akan dimulai, atau yang bakal terjadi. Contoh: somo makan = sudah mau makan; somo ta sono = sudah mau tidur.

2.Pang, adalah kata yang menggambarkan perbuatan, yang umumnya negatif. Contoh: Pang dusta = pendusta; pang marah = pemarah; pang judi= penjudi.

3.Pangba, adalah kata yang menggambarkan suatu perbuatan yang disukai. Contoh: Pangba tidor = senang tidur; pangba makan= gemar atau suka makan; pangba minum = gemar atau suka minum.

4.Pe, adalah kata ganti yang menyatakan milik atau kepunyaan. Contoh: Itu kita pe buku = itu saya punya buku; dorang pe barang itu = mereka punya barang itu; ngana pe calana ini = anda punya celana ini.

5.Ada dan kase, adalah dua kata yang penyebutannya sering disingkat. Kata ada disingkat da dan kata kase disingkat se. Kata ada memiliki arti mempunyai dan menandakan keberadaan. Juga memiliki arti lagi, sedang atau sementara. Selain itu, kata ada memiliki arti telah melakukan suatu tindakan atau berbuat. Contoh: Opa da baca koran= opa sedang membaca koran; oma da di dapur= oma ada di dapur.

Kata kase yang disingkat se memiliki arti beri, buat menjadi, atau jadikan. Contoh: Jangan se biar tu ade, nanti jato = jangan dibiarkan adik, nanti jatuh; Se makan itu ayan di kandang = beri makan itu ayam di kandang.

6. Akang, digunakan ketika menyuruh atau minta tolong kepada seseorang. Contoh: Bantu akang pa Tonny = berikan bantuan kepada Tonny; berdoa akang pa kita, kita da saki = doakan saya, saya sedang sakit.

Di dalam bahasa Manado, umumnya awalan (prefix) ber berubah menjadi ba; awalan me berubah menjadi ma; awalan ter berubah menjadi ta, dan awalan ke berubah menjadi ka. Contoh: Berdusta = badusta; memasak = mamasak; tertidur = tatidor/tasono; keluar = kaluar; kelapa = kalapa.

Ada beberapa kata dalam bahasa Manado yang penyebutannya disingkat. Kata pergi disebut pigi dan disingkat pi. Kata coba disingkat co; kata sudah disebut so, kata mau disebut mo. Contoh: Mo pi mana ngoni = mau pergi
kemana kalian. Co Herry rasa ini ikan = coba Herry cicipi ikan ini. So klar = sudah selesai. So kenyang = sudah kenyang.

Di dalam bahasa Manado terdapat kata-kata tambahan yang tidak beraturan penempatannya dan tidak memiliki makna sama sekali. Kata-kata tersebut termasuk dalam bahasa non standar atau dikenal dengan istilah prokem.
Kata-kata tersebut sama dengan bahasa di Jakarta, antara lain:

I yo no= ya dong, adalah kata yang diucapkan untuk membenarkan sesuatu. I yo stou = ya kali, dimaksudkan untuk sesuatu yang belum diketahui.

I ya dang = ya deh, adalah untuk menyetujui sesuatu atau setuju dengan sesuatu yang ditawarkan.

Mau no = mau dong, adalah ucapan untuk menghendaki sesuatu.

I ya kote = I ya, ya?!, adalah kata yang diucapkan mengenai sesuatu yang baru diingat.

Bahasa Manado selain memiliki imbuhan (affix) yang terdiri dari awalan (prefix), sisipan (infix) dan akhiran (suffix), juga memiliki reduplikasi dan pemerkah aspek. Pemerkah aspek adalah penandas suatu kejadian seperti selesai, sudah, sering, jarang atau selalu.

Reduplikasi adalah penggandaan/pengulangan kata dan atau unsur kata. Manado merupakan salah satu kota yang memiliki banyak reduplikasi kata. Berikut ini adalah beberapa contoh reduplikasi di dalam bahasa Manado.

1.Reduplikasi yang berkaitan dengan makanan dan cara makan, antara lain: Tustus = kerak nasi. Poki-poki= terung. Rica-rica= sambal yang dibuat dari cabai. Dabu-dabu= sambal. Ongol-ongol = kue yang terbuat dari sagu dan gula batu (gula merah). Onde-onde = kue yang dibuat dari tepung beras ketan, berunti gula batu (gula merah) dan bagian luarnya dilumuri kelapa muda cukur. Tore-tore = garing, renyah. Colo-colo = celup, misalnya colo roti ke teh atau kopi hangat. Gula-gula = permen, candy.

2.Reduplikasi yang berhubungan dengan tubuh dan alat bantu penyangga tubuh, antara lain: Pala-pala = paha. Poco-poco = montok. Pongo-pongo = pipi. Toto=buah dada. Kile-kile = ketiak. Gidi-gidi = air liur. Diki-diki = tongkat. Pica-pica = babak belur.

3. Reduplikasi yang berhubungan dengan kepribadian dan kebiasaan, antara lain: Bogo-bogo = bodoh, abnormal. Bingo-bingo = pikiran tidak fokus, gelisah. Seno-seno atau mengong-mengong = gila-gilaan. Popo-popo = tidak
memiliki rasa takut, berani tanpa perhitungan. Tako-tako = tidak bernyali, merasa takut. Pui-pui atau pokos-pokos atau opo-opo = magis/ilmu hitam. Loyo-loyo = lemas. Mulu-mulu = tukang gossip. Mabo-mabo = mabuk-mabukan. Grap-grap=lucu-lucu. Iko-iko = ikut serta. Inga-inga= jangan lupa. Camu-camu=ngemil. Rabu-rabu = sebentar, tidak lama. Tibo-tibo=leveransir. Bae-bae = baik-baik. Koki-koki = kecil. Bera-bera = mencret/diare. Wowo = bisu. Kaka= kakak. Foti-foti=sedikit-sedikit (tentang pemberian). Lao-Lao = suam-suam. Cumu-cumu = sebut-sebut. Ngisi-ngisi = tertawa-tawa.

4. Reduplikasi yang berhubungan dengan lingkungan alam, flora dan fauna, antara lain: Posi-posi = bakau, mangrove. Rinte-rinte = gerimis. Igu-igu = tempat ayam bertelur, umumnya dibuat dari buluh. Boto-boto=belalang. Lawa-lawa=jaring laba-laba. Kura-kura = penyu. Somu-somu=mendung. Sibu-sibu= alat penangkap udang atau ikan, terbuat dari jaring berbentuk bulat lonjong, berdiameter antara 30-50 cm. Para-para = tempat untuk membuat kopra atau untuk meletakan piring, yang umumnya terbuat dari buluh. Roto-toto atau rogi-rogi = permukaan dinding atau lantai yang tidak rata. Kusu-kusu = kano-kano = alang-alang. Soa-soa= biawak.

5. Reduplikasi yang berhubungan dengan alat atau peralatan, antara lain: Aya-aya=pengayak pasir. Dubo-dubo = galah pengcungkil buah. Gepe-gepe = penjepit atau jepitan. Gate-gate = pengait. Bue-bue = ayunan/buaian
bayi. Dego-dego= tempat duduk santai di halaman rumah, yang umumnya dibuat dari buluh. Ram-ram= ventilasi dari kawat atau dari anyaman buluh.

6.Reduplikasi yang berhubungan dapur dan atau alat dapur, antara lain: Gata-gata=penjepit tradisional yang terbuat dari buluh. Tapis-tapis atau dapi-dapi= saringan, penyaring (teh, kopi) atau untuk zat cair (minyak). Lesa-lesa = tatakan untuk mengukus kue. Palo-palo = gayung. Teto-teto = cincang (daging, ikan, buluh).

Reduplikasi di dalam bahasa Manado tidak menunjukan banyaknya suatu objek atau benda sebagaimana di dalam bahasa Indonesia. Contoh: pala-pala bukan menunjukkan banyaknya pala, tetapi memiliki arti paha.

7.Perubahan makna sejumlah bahasa asing resapan Terdapat sejumlah bahasa asing resapan yang telah mengalami pergeseran makna. Misalnya kanino diserap dari kata canino (bahasa Spanyol), yang artinya anjing, namun di dalam bahasa Manado telah berubah maknanya menjadi sesuatu (benda, orang), yang artinya kecil.

Contoh lainnya adalah burako berasal dari kata buraco (Portugis), yang artinya lubang; juga berasal dari kata borracho (Spanyol), yang artinya mabuk; namun di dalam bahasa Manado telah berubah maknanya menjadi
perilaku seseorang yang hidupnya tidak teratur dalam hal berpakaian, makan, tata karma atau sopan santun, dan sejumlah perilaku lainnya yang menyimpang dari aturan.

Perubahan makna lainnya adalah dari kata fasung yang diserap dari kata fatsoen (bahasa Belanda), yang artinya kesopanan, namun di dalam bahasa Manado telah mengalami perubahan makna menjadi cantik atau ganteng.

Kata minder (Belanda), yang artinya kurang, namun di dalam bahasa Manado telah mengalami perubahan arti menjadi tidak percaya diri atau malu.

Kata serapan lainnya yang mengalami perubahan makna adalah klak, yang diserap dari kata klacht (bahasa Belanda), yang artinya keluhan, namun di dalam bahasa Manado berubah maknanya menjadi pengaduan.

Pergeseran makna lainnya adalah dari kata dol, yang diserap langsung dari kata dol (bahasa Belanda), yang artinya gila, namun dalam bahasa Manado selain diartikan gila juga dimaknai antara baut dan pasangannya tidak lagi menyatu.[sm]

Sumber : Humas

(Visited 5.639 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *