Listrik Mati di Lumbung Energi

Penulis : Yustinus Sapto Hardjanto

Freelance – Non Government Individual

Tikus mati di lumbung padi, begitu bunyi sebuah perumpaan yang mau mengambarkan sebuah ironi, sebuah kenyataan yang mestinya tidak terjadi namun dalam kenyataannya tidaklah demikian. Kita sebagai sebuah bangsa yang kaya akan Sumber Daya Alam terutama yang terkait dengan energy, atas salah satu cara kerap mengalami kejadian yang mencerminkan perumpamaan tadi.

Balikpapan misalnya, kota yang berjuluk sebagai Kota Minyak, ternyata kerap mengalami pemadaman listrik bergilir. Jatah pemadaman bisa saja seminggu sekali dan lamanya bisa sampai 6 jam. Byar pet listrik seperti ini bukan terjadi satu atau dua tahun belakangan ini melainkan semenjak puluhan tahun lalu.

Kejadian seperti ini bukan hanya di Balikpapan, melainkan kota-kota lain di Provinsi Kalimantan Timur. Padahal Kalimantan Timur dikenal sebagai lumbung energi, daerah penghasil gas, minyak bumi dan batubara yang merupakan sumber energy listrik. Tapi kenyataannya provinsi yang dikaruniai kekayaan alam dalam rupa gas, minyak bumi dan batubara ini ternyata tak mampu menyediakan cukup listrik untuk warganya.

Adalah jamak di kota-kota seantero Kalimantan Timur bagi perusahaan, apapun itu jenis usahanya menyediakan sendiri sumber pembangkit listriknya. Di daerah pedalaman bahkan setiap rumah tangga juga harus mempunyai mesin generator untuk kebutuhan listriknya.

Tanpa mengusahakan sendiri kebutuhannya listriknya bisa dipastikan masing-masing rumah tangga tidak akan bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. Karena pasokan kebutuhan listrik yang disediakan untuk masyarakat umum hanya hidup seperempat hari.

Aliran listrik yang mati hidup bukanlah monopoli Kota Balikpapan, Kota Samarinda, dan Kota lain di Provinsi Kalimantan Timur. Melalui media sosial dengan mudah ditemukan keriuhan akibat pemadaman listrik di berbagai kota pada berbagai provinsi di Indonesia. Ambil contoh saja Kota Manado di Provinsi Sulawesi Utara dan Kota Gorontalo di Provinsi Gorontalo.

Ketika listrik padam dengan mudah kita baca entah kicauan atau status berisi keluhan panjang, sumpah serapah hingga aneka doa untuk PLN. Di Gorontalo bahkan ada sekelompok warga yang membuat video parodi yang mengambarkan mereka siap berjuang untuk menghadapi PLN.

Dan seperti biasa, PLN sebagai penyedia jasa listrik satu-satunya di Indonesia tidak terlalu banyak berkata-kata.Soal pemadaman listrik dengan mudah mereka berkilah bahwa sudah diberi pengumuman, melalui koran atau radio. Sebuah jawaban yang sungguh jadul karena kini semakin banyak orang memperoleh informasi bukan dari koran dan radio, sehingga pengumuman PLN tidak dibaca atau didengar oleh masyarakat yang dituju.

Alasan lain yang terus menerus dipakai adalah kendala pasokan BBM untuk PLTD, penurunan debit air untuk PLTA, pemeliharaan mesin pembangkit yang tak ada cadangannya, kerusakan jaringan dan lain sebagainya. Dan apapun yang disampaikan oleh PLN harus diterima oleh semua konsumen begitu adanya.

Listrik adalah salah satu kebutuhan dasar masyarakat dan keperluan itu dimandatkan oleh negara kepada PLN. Dan sebagaimana kebutuhan dasar lainnya yang juga pengurusannya diserahkan negara pada perusahaan atau badan yang dibentuk oleh negara, hampir kesemuanya belum pernah berada pada level cukup untuk memenuhi kebutuhan warga negara, baik perorangan maupun badan usaha.

Kita semua diajarkan untuk tidak boleh mengantungkan sesuatu pada saluran tunggal. Tetapi hampir semua kebutuhan pokok kita ternyata berada dalam sistem penyediaan yang tunggal. Kita tidak punya pilihan lain, kecuali menyediakan sendiri apabila kebutuhan listrik misalnya tidak bisa dipenuhi oleh PLN.

Beberapa tahun lalu saya sempat mengunjungi satu desa yang berada di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Kepala desa yang tamatan STM, mengembangkan sendiri pasokan listrik dengan membuat instalasi listrik mikrohidro. Semua diusahakannya sendiri hingga akhirnya listrik yang dihasilkan cukup untuk memenuhi kebutuhan minimal warga desanya.

Kepala desa itu mengatakan, pembangkit listrik mikrohidro harus dibuat olehnya karena kalau menunggu masuknya jaringan listrik dari PLN tidaklah memungkinkan. Sebab desa itu jauh dari desa lain, untuk masuk ke desa itu bahkan harus menyeberang sungai yang tak ada jembatannya.

“Listrik dari PLN tidak akan pernah masuk ke sini, karena mereka pasti akan rugi. Investasi memasang jaringannya pasti akan jauh lebih besar dari pada pemakaian warga per bulannya,” kata Pak Kepala Desa.

Kita mempunyai banyak sumber energi yang bisa dimanfaatkan tanpa harus membangun jaringan besar yang rentan menimbulkan black out. Tapi sistem dan kebijakan energi kita tidak mendukung pengembangan energy, yang kemudian disebut sebagai energi alternatif itu menjadi pilihan. Benar ada upaya untuk meluaskan jangkauan energi listrik misalnya dengan panel surya, namun pendekatannya adalah proyek untuk daerah-daerah terpencil dan kelasnya adalah rumah per rumah.

Listrik yang dihasilkan menjadi sangat terbatas, hanya cukup untuk penerangan. Dan di luar itu, pelaksana proyek hanya memasang tanpa mengajarkan kepada masyarakat yang memakai berbagai hal yang bisa membuat mereka mampu memelihara atau memperbaiki jika ada kerusakan.

Dibandingkan dengan sistem dan teknologi komunikasi informasi, sistem dan teknologi kelistrikan kita memang tidak berkembang. Hampir tidak ada terobosan yang kita lihat muncul dari PLN sebagai perusahaan yang bertanggungjawab atas ketersediaan energy listrik. Yang berkembang hanyalah kemampuan PLN untuk ngeles dan memberikan jawaban jika kemudian listrik byar pet dan para pemakainya menyampaikan sumpah serapah hingga kutukan.

Saya menduga di balik semua ketidakseriusan pemerintah dan tentu saja PLN dalam mengembangkan kemandirian energi, membiarkan jurang makin lebar antara ketersediaan dan kebutuhan, semua ini dipersiapkan agar suatu saat ketika semua berteriak soal kebutuhan listrik yang begitu besar dan tak ada pembangkit yang mampu memenuhi, maka terbukalah untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Dan andai itu terjadi, maka kita kembali akan terpuruk, sebab dikala banyak negara lain memulai kecenderungan untuk memakai energi yang bersih, kita justru kemudian memilih sistem pembangkit yang meskipun digdaya namun menyimpan resiko yang luar biasa.

@yustinus_esha

(Visited 1.945 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *