Kesadaran Kolektif ‘Masyarakat’ Virtual

Kecepatan penyebaran informasi dalam bentuk visual (foto atau video) sudah tidak terbendung lagi. Sebuah kejadian segera masuk dalam orbit penyebaran begitu ada seseorang merekam atau memfoto dan kemudian menyebarkannya melalui account media sosialnya. Semua orang bisa melakukan hal ini apabila mempunyai mobilephone dan paket data.

Karena mengejar kecepatan, apapun motivasinya. Terkadang penyebar kabar lewat foto atau video menjadi kurang awas soal kepantasan publik. Gambar korban kecelakaan yang berdarah-darah, video orang sedang meregang nyawa beredar begitu saja dan kemudian menyebar bahkan menjadi viral. Dan gambar-gambar itu kemudian juga memancing munculnya kontent tambahan dalam bentuk teks dengan segala ekpresinya.

Beredarnya gambar-gambar di media sosial yang kerap kali dipandang tak pantas, perlahan-lahan mulai mengusik para pengguna sosial media. Dalam kasus bom Thamrin misalnya, tidak lama setelah kejadian muncul pesan-pesan yang berisi anjuran agar tidak menyebarkan gambar yang berdarah-darah. Sebuah pesan yang sebenarnya tidak sekedar menyampaikan soal kepantasan visual melainkan juga untuk mengurangi tensi teror yang disebabkan oleh aksi pemboman itu.

Dan kemudian muncul hastag #BomSarinah #JakartaBombing #PrayforJakarta lewat berbagai percakapan di media sosial. Ramainya perbincangan ini kemudian mengerucut menjadi #KamiTidakTakut dengan berbagai gambar yang menunjukkan aktifitas dari beberapa pedagang yang tetap tenang berjualan.

Proses dari gambar korban berdarah-darah, keprihatinan, doa dan kemudian menjadi sebuah ekpresi sikap untuk menanggapi teroris membuktikan bahwa sosial media bukan sekedar alat atau sarana untuk berkomunikasi atau sarana distribusi informasi dalam berbagai bentuk tetapi juga mendorong munculnya sikap bersama diantara pemakainya untuk kemudian diekpresikan.

Inilah yang disebut dengan virtual collective consciousness atau kesadaran kolektif virtual. Sebenarnya yang disebut dengan kesadaran kolektif virtual dalam ekosistem sosial media di Indonesia bukanlah barang yang baru. Dan banyak orang juga sudah menyadari kekuatan sosial media untuk menyatukan harapan, impian, kepedulian dan perhatian pada isu tertentu. Kita bisa mengambil contoh misalnya gerakan sejuta facebooker untuk mendukung Bibit dan Chandra dalam kasus Cicak vs Buaya. Selain itu juga ada gerakan Koin untuk Prita, yang menjadi viral di sosial media.

Dulu sebelum muncul internet dan aplikasi media sosial, untuk menggalang dukungan atau bersama-sama membuat pernyataan publik perlu upaya pengorganisasian yang butuh sumberdaya besar. Kelompok-kelompok masyarakat perlu didatangi, diajak bicara dan diskusi yang terkadang alot sehingga perlu dilakukan berulang kali hingga kemudian timbul kesepakatan bersama.

Namun kini, kelompok masyarakat bisa dijangkau dengan media sosial. Mereka yang terpisah, saling berjauhan, kemudian bisa disatukan dalam sebuah perbicangan melalui media sosial untuk kemudian melakukan sesuatu secara bersama. Dan jangan hanya dikira apa yang disebut sebagai kesadaran kolektif virtual itu hanya beroperasi di ruang maya. Tidak karena kesepakatan atau sikap yang diputuskan di ruang maya kemudian kebanyakan bisa diwujudkan di dunia nyata, ketika kesadaran kolektif virtual itu perlu diwujudkan dalam aksi.

Ambil contoh saja kasus bom Thamrin, yang memunculkan tanda pagar #KamiTidakTakut. Pernyataan kami tidak takut itu tidak hanya diungkapkan di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang menyatakan itu kemudian berkumpul di lokasi tempat bom diledakkan. Selain menunjukkan empati pada korban dengan meletakkan karangan bunga dan menyalakan lilin, mereka juga berorasi. Banyak tokoh hadir dan turut bersuara, menentang aksi teror secara tegas dan lugas.

Hanya saja ruang maya tetap merupakan ruang pertempuran. Isu atau topik yang berebut untuk menjadi perhatian kelewat banyak dan tidak seluruhnya mempunyai motif untuk kebaikan bersama. Banyak isu yang bersifat partisan kemudian juga memperoleh respon dan dukungan dari netizen yang berujung pada aksi bersifat kekerasan di dunia nyata.

Maka meski terbukti berkali-kali, kehadiran sosial media mampu merekatkan antar manusia sebagai sesama dengan manusia lainnya, namun netizen tetap harus waspada dalam menyaring isu sebelum memberikan responnya. Alangkah baiknya jika media sosial dipakai untuk mengkomunikasikan dan memperbincangkan isu sosial terutama untuk mendorong masyarakat mempunyai perhatian kepada mereka yang lemah, yang dipinggirkan dan tidak bisa bersuara. Atau isu-isu kepentingan dan kebutuhan publik yang mendasar seperti pangan, energi, alat produksi, pendidikan, kesehatan dan seterusnya.

Ini penting agar kita tetap bisa beraktifitas seperti biasa namun tidak meninggalkan kepedulian terhadap keperluan, kepentingan dan kebutuhan banyak orang.  Sudah bukan saatnya kita demo ramai-ramai, menutup jalan, membakar ban, merobohkan pagar dan lain sebagainya yang kerap membuat persoalan menjadi semakin lebar. Mari manfaatkan media sosial karena kesadaran bersama, bisa kita bangun melaluinya.

@yustinus_esha

Pegiat pewartaan warga dan demokrasi digital. Documentary maker, blogger di ceritakota.info, kontributor mongabay.co.id dan social media campaigner untuk Gerakan #MemungutSehelaiSampahSKM

(Visited 360 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *