Mencintai atau Membenci Orang


Banyak pelakon menolak untuk melakukan peran antagonis. Pasalnya jika seseorang sukses memerankan lakon antagonis dalam sebuah film atau sinetron, kerap kali sosok yang dia lakonkan itu akan terbawa hingga di dunia nyata. Yang membuat dirinya dimaki-maki, dimarahi atau dipelototi dengan pandangan tidak senang kala berjumpa dengan orang di tempat-tempat umum.

Padahal dirinya sebagai orang jahat, judes, serakah, menjengkelkan atau apapun itu hanyalah peran yang harus dimainkan, bukan sesuatu yang mencerminkan dirinya yang sesungguhnya. Namun itulah resiko seorang pelakon yang handal, yang mampu memerankan perannya dengan sangat baik sehingga membuat pemirsanya menangkap bahwa itu adalah nyata.

Demikian pula sebaliknya, jika seorang pelakon memainkan peran protagonis dengan sangat berhasil maka dia akan menjadi kecintaan publik, menjadi seorang putri atau pangeran kesayangan bagi masyarakat. Sebuah hal yang menyenangkan tapi mungkin juga akan menjadi beban lantaran merasa dirinya tidak seideal itu.

Bicara soal mencintai dan membenci, Mustofa Bisri menuliskan begini : Salah satu ‘keajaiban’ medsos melaluinya orang bisa menyinta atau membenci orang lain tanpa bertemu muka dan berkenalan sekali pun.

Kalimat ini disampaikan melalui kicauan di twitter , yang pada hari Selasa (16 Februari 2016) jam 19.34 wita telah diretweet sebanyak 965 kali dan difavoritkan oleh 325 orang.

Mustofa Bisriadalah seorang kyai yang aktif dalam menggunakan media sosial dan apa yang disampaikan olehnya ini merupakan hasil refleksi atas fenomena yang menyertai kehadiran berbagai aplikasi media sosial di jagad internet.

Kehadiran media sosial memang menimbulkan perilaku baru, bukan hanya di jagad maya saja melainkan juga terbawa ke alam nyata. Ada banyak keanehan, perilaku-perilaku baru yang sebelumnya tidak kita temukan kini kemudian menjadi sesuatu yang biasa kita lihat atau kita alami sehari-hari.

Salah satu dampak ‘buruk’ media sosial sebagaimana yang disampaikan oleh Mustofa Bisri adalah kedangkalan dalam menilai sesuatu. Media sosial kemudian mendorong orang untuk dengan cepat memberikan penilaian, mengomentari atau memberi feed back.

Ini menjadi buruk jika kemudian menyangkut penilaian ke orang lain. Kita menjadi mudah untuk menghakimi seseorang hanya berdasarkan selarik judul yang link-nya disebar melalui media sosial. Atau kemudian kita menjadi pemuja seseorang hanya karena followers-nya banyak dan sebagian besar memuji-muji orang itu.

Ada kebiasaan yang tidak disadari oleh banyak pemakai media sosial yaitu perilaku memindai. Kita hanya melihat atau membaca dengan sepintas dan merasa sudah mendapat semua yang kita perlukan layaknya kerja mesin scanner.

Padahal membenci atau mencintai seseorang adalah sebuah keputusan besar yang harus didasari oleh rangkaian proses pengenalan dan penilaian berulang. Dalam bahasa politik sebelum kita memutuskan untuk menentukan pilihan maka kita harus menilai track records atau rekam jejak, perjalanan hidup seseorang sehingga diketahui mutu dan kwalitas dirinya.

Maka seseorang yang memutuskan untuk jatuh cinta dan kemudian menyatakan cintanya kepada orang lain hanya karena tampilan fisik lewat foto-foto yang disebar di media sosial, atau kata-kata manis yang memikat yang bisa saja dikutip dari buku atau perkataan orang lain kerap akan berakhir dengan kekecewaan.

Pun demikian dengan rasa benci pada orang lain yang timbul hanya karena status atau kicauan di media sosial, akan menjatuhkan kita menjadi seorang yang tidak bermutu dan berwatak jahat karena dengan sangat cepat menilai orang lain sebagai buruk tanpa alasan yang kuat.

Semoga apa yang disampaikan oleh Kyai Mustofa Bisri ini bisa menjadi renungan kita bersama agar tidak mudah memberi penilaian entah baik entah buruk kepada orang lain secepat kilat. Sebuah penilaian yang sama-sama akan menjatuhkan kita dalam marabahaya.

@yustinus_esha

Pegiat pewartaan warga dan demokrasi digital. Documentary maker, blogger di ceritakota.info, kontributor mongabay.co.id dan social media campaigner untuk Gerakan #MemungutSehelaiSampahSKM

(Visited 611 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *