Menggauli Sampah

Apa fungsi got dan sungai ?

Sebuah jawaban menarik saya temukan dari seorang Ketua RT yang wilayah kepemimpinannya berada di tepian sungai. Dia mengatakan kalau seseorang membersihkan halaman, maka sesampahannya akan dibuang ke got, sementara sampah dan limbah rumah tangganya akan dibuang ke sungai.


Ini bukanlah jawaban yang konyol ala para komika yang ingin melucu melainkan hasil pengamatan bertahun-tahun atas perilaku warganya. Buatnya got dan sungai sama sekali tidak ada hubungan dengan tata kelola air permukaan, atau exit strategi untuk menghindarkan wilayahnya dari banjir di kala musim penghujan.

Buktinya jelas, air di got dan sungai menghitam serta berbau, sesampahan menghiasi permukaan sungai. Sungai menjadi tempat sampah terpanjang sedunia, menjadi supermarket sampah karena keragaman buangan di dalamnya.

Kalau mau jujur wajah got dan sungai seperti yang digambarkan oleh Pak Ketua RT adalah gambaran got dan sungai-sungai di berbagai penjuru negeri. Bukan hanya got atau sungai di kota-kota besar melainkan juga got dan sungai di pedalaman. Sampah bukann hanya masalah perkotaan melainkan juga masalah perdesaan.

Beruntung di tengah ledakan sampah, muncul para pemulung. Meski bisa mengurangi volume sampah di permukaan sungai atau got, namun sampah yang diambil oleh pemulung adalah sampah tertentu, seperti botol atau gelas minuman dalam kemasan. Namun mereka tak akan membongkar sampah yang dikemas dengan baik, terbungkus tas plastik atau karung yang terikat rapat kemudian dilempar ke sungai.

Nah, syukurnya kemudian di beberapa alur sungai muncul sosok orang yang peduli. Dalam diam mereka mulai memungut sampah di sungai setiap hari dan kemudian membuangnya pada tempat yang semestinya. Niat baik dari orang-orang seperti ini, orang yang rela menggauli sampah untuk membersihkan sungainya tidak selalu mendapat tanggapan baik. Ada yang mengatakan dirinya sebagai orang gila.

Tak sedikit pula yang mengatakan apa yang dilakukannya sia-sia belaka karena jumlah sampah yang dibuang dan diangkat olehnya tidak sebanding. Ya, lebih banyak yang memilih sebagai pembicara ketimbang mulai turun ke sungai untuk memungut sampah. Atau bahkan memilih untuk mencurigai aksi pungut sampah sebagai aksi cari muka, menarik perhatian agar bisa beroleh sumbangan yang menguntungkan bagi dirinya entah dari pemerintah atau pihak lainnya.

“Kalau mahasiswa atau anak sekolah yang memungut mereka sukarela, tapi kalau orang itu pasti diam-diam makan uang pemerintah,”

Terdengar menyakitkan, tapi itulah kenyataan yang terjadi ketika ada sebuah kepeloporan yang tak populer. Bisa jadi ketulusan memang sudah begitu langka di negeri ini, atau banyak aksi yang kelihatannya tulus ternyata pada akhirnya berujung pada pamrih tertentu, sehingga masyarakat kita kemudian menjadi sinis.

Menumpukan kebersihan sungai pada seseorang atau sekelompok orang yang rela meluangkan waktu untuk memungut sampah memang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sungai yang panjangnya puluhan kilometer bakal bersih karena aksi sekelompok orang yang pasti bakal kelelahan menghadapi sampah selama satu sampai dua jam saja.

Aksi pungut sampah di sungai harus dipandang dari sisi keteladanan dan pendidikan. Aksi ini ingin menghidupkan kembali harapan bahwa sungai akan kembali bersih, kembali pada fungsinya semula apabila terbebas dari sampah. Aksi pungut sampah adalah sebuah suara yang mengatakan “Jangan buang sampah ke sungai.”.

Menjadi sebuah keteladanan karena menasehati orang lain tidak dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan. Sebab memperingatkan dengan kata-kata, meskipun benar dan baik tidak selalu mendapat tanggapan baik dari yang diberi peringatan. Kalau tak percaya, silahkan coba memperingatkan orang yang membuang sampah sembarangan. Bukannya terima kasih yang bakal kita dapatkan melainkan justru kita yang dimarahi balik. “Siapa kamu, apa urusanmu,”

Atas semua hal itu, maka harus menyatakan kekaguman dan salut kepada para relawan pemungut sampah di sungai. Dan karena saya tidak bisa bangun pagi untuk turut serta memungut, atau punya waktu luang di sore hari, maka saya memilih untuk membantu mengkampanyekan apa yang mereka lakukan lewat tulisan, foto dan video. Semoga saja apa yang saya lakukan bisa membantu memperluas gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai dan meningkatkan jumlah orang yang kemudian malu membuang sampahnya ke sungai. Niscaya jika semakin banyak orang memungut sampah di sungai maka akan bertambah pula jumlah orang yang tidak membuang sampahnya ke sungai.

Dan #sungaibebassampah bukan lagi merupakan impian di siang hari bolong.

@yustinus_esha

Pegiat pewartaan warga dan demokrasi digital. Documentary maker, blogger di ceritakota.info, kontributor mongabay.co.id dan social media campaigner untuk Gerakan #MemungutSehelaiSampahSKM

(Visited 980 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *