Merubah Informasi Menjadi Aksi


Awal tahun 2000, seseorang merasa keren kalau memegang PDA dan Communicator. 5 atau 6 tahun kemudian PDA dan Communicator tergeser seiring dengan mulai menanjaknya popularitas Blackberry. Sebenarnya saat itu sudah mulai muncul juga mobilephone yang berbasis android, namun masih kalah pamor dengan Blackberry yang bukan hanya merujuk pada handset melainkan juga sebagai jenis layanan sambungan internet mobile.


Selain itu juga mulai muncul layanan internet nirkabel (Wifi) yang berbasis di kafe-kafe. Layanan yang kemudian membuat produk netbook menjadi terkenal. Namun umur netbook tidak lama karena digeser oleh Tablet baik yang berbasis android maupun IOS. Tablet yang awalnya dianggap keren ternyata merepotkan karena ukurannya yang besar. Muncullah Minitablet, namun juga tak berkembang seperti yang diharapkan oleh produsennya. Beberapa produsen kemudian mengeluarkan yang disebut Phablet yang ukurannya lebih kecil namun ternyata juga tak meledak karena dianggap tak nyaman untuk dimasukkan ke dalam kantong.

Dan menjelang tahun 2010 akhirnya mulai populer dengan yang handset yang disebut smartphone berbasis Android maupun IOS. Popularitas Smartphone kemudian didukung oleh para service provider yang berlomba-lomba mengeluarkan kartu paket data yang memungkinkan pemakai Smartphone online dimana saja dan kapan saja selama ada signal. Teknologi 3G memungkinkan dunia maya hadir dalam genggaman.

Kehadiran Smartphone menghadirkan babak baru dalam dunia online. Generasi pemakai Smartphone tidak lagi mengakses internet dengan komputer di warnet, memburu wifi gratis di kafe melainkan asyik sendiri karena akses internet kini berada di gadgetnya.

Akses internet dalam genggaman ini kemudian membuka cakrawala baru di dunia maya, berbagai aplikasi sosial kemudian menjadi semakin terkenal. Pemakai aktif aplikasi media sosial semakin meningkat karena kemudahan untuk melakukannya.

Kini tentu saja tak ada pemakai Smartphone yang tidak mempunyai account media sosial, sekurang-kurangnya setiap pemakai pasti mempunyai aplikasi untuk pertukaran pesan (messanger). Pemakaian media sosial yang semakin meningkat membuka ruang demokratisasi informasi dimana sumber-sumber informasi menjadi semakin meluas.

Namun sayangnya sebagian besar pemakai media sosial masih memanfaatkan aplikasinya untuk kepentingan pribadi, untuk bersenang-senang dan belum mendayagunakan kekuatannya untuk kepentingan bersama, mendorong kebijakan publik yang semakin partisipatif, mendorong perubahan secara kolektif.

Bahwa tidak bisa dipungkiri, sudah ada banyak contoh pendayagunaan media sosial untuk menyuarakan suara mereka yang tidak didengarkan, membela mereka yang dimarjinalisasikan, menagih keadilan dan lain sebagainya, namun masih ada peluang yang sangat besar untuk meningkatkan semua itu sehingga pemakaian media sosial tidak hanya bercorak private atau mengabdi pada kepentingan individual semata.

Fungsi utama dari media sosial adalah pertukaran informasi. Dan tujuan dari pertukaran informasi adalah melahirkan aksi. Dengan demikian penting bagi para pemakai media sosial untuk memahami berbagai langkah ataupemanfaatan media sosial untuk menjadikan informasi menjadi sebuah aksi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan aplikasi media sosial kita?.

Menjadi Community Organizer : Memobilisasi Massa

Kelebihan sosial media adalah daya jangkau. Dengan sekali klik kita bisa melakukan broadcast pesan ke berbagai penjuru. Melalui media sosial kita bisa mengajak berbagai pihak untuk berkumpul, melakukan kegiatan bersama pada tempat dan waktu tertentu. Kita tak perlu menulis undangan, memperbanyak dan kemudian mengantar satu per satu pada kelompok yang ingin kita ajak.

Ajakan bergerak di media sosial juga bisa dilengkapi dengan link video yang menggugah, pamflet atau poster yang menarik dan lain sebagainya sehingga membuat orang terdorong untuk ikut dalam sebuah aksi. Penyebaran ajakan di sosial media juga bisa menjadi viral apabila pesan kita dibagikan (share/retweet/repost) oleh mereka yang kita melihat atau menjadi tujuan pesan kita. Yang disebut dengan aksi untuk tujuan tertentu bisa dalam bentuk kumpulan online maupun bertemu secara fisik.

Menjadi Saksi Mata : Rekam dan Sebarkan

Smartphone adalah gadget yang mengkonvergensi berbagai fungsi dalam satu genggaman. Dalam Smartphone ada fungsi rekam baik suara, gambar maupun audiovisual. Dengan fungsi ini maka mudah bagi kita untuk menangkap kejadian dalam berbagai bentuk rekaman utamanya adalah rekaman audiovisual.

Dengan kemampuan itu maka kita misalnya bisa merekam berbagai pelanggaran atau perilaku-perilaku yang tidak semestinya dari para pelayan publik terhadap masyarakat. Rekaman kita menjadi bukti bahwa ada banyak hak-hak masyarakat yang dilanggar oleh mereka yang seharusnya melayani masyarakat.

Rekaman seperti ini apabila disebarkan ke media sosial biasanya akan tersebar secara viral dan kemudian akan mendorong pihak yang berkepentingan untuk menjatuhkan sanksi kepada mereka yang melakukan pelanggaran.

Penyebaran audiovideo, foto dan lain-lain di media sosial juga mampu menerobos sensor yang mungkin saja dilakukan oleh media mainstreams atau pemerintah yang otoriter apabila gambar atau video itu kita kirimkan ke media mainstreams untuk dipublikasikan oleh mereka.

Menjadi Visualisator : Buat Animasi dan Peta

Ada banyak informasi atau bahan yang berguna untuk disebarluaskan kepada masyarakat luas. Namun jangkauan internet yang luas akan menimbulkan problema bahasa, jurang pemahaman dan pengetahuan. Untuk mengatasi hal ini, sebuah pesan bisa dibuat dalam bentuk video animasi, peta dan lain sebagainya yang membuat siapapun yang melihat akan memahami lewat berbagai cara.

Menjadi penutur : Perkuat dengan Kisah Pribadi

Orang selalu ingin tahu kisah orang lainnya. Tak perlu menjadi orang terkenal untuk ‘dikepoin’ begitu kata anak-anak alay. Fakta ini menjadi penting untuk diperhatikan setiap kali kita menyampaikan pesan atau informasi kepada masyarakat luas di media sosial.

Sampaikan kisah, misalnya tentang bagaimana pedagang tradisional bertahan menghadapi serbuan pasar-pasar modern, bagaimana dinamika hidup mereka dan seterusnya. Apa yang mereka sampaikan ini bisa kita tulis dalam bentuk tulisan yang dilengkapi dengan foto, rekaman video atau bahkan streaming atau siaran langsung lewat beberapa aplikasi yang tersedia di internet.

Atau kita bisa menyediakan sebuah makro blog yang berisi peta, dimana siapapun yang mengalami masalah berdasarkan isu tertentu bisa mengirimkan foto peristiwa dan tempat kejadiannya yang kemudian akan dipakai untuk menandai peta yang ada dalam makro blog kita.

Menjadi komedian : Tambahkanlah Humor

Di media sosial sudah terlalu banyak pesan atau informasi yang sangat serius sehingga membuat siapapun yang membaca menjadi berkerut dahinya. Sehingga perlu sebuah usaha untuk merebut perhatian dari pemakai media sosial atas pesan atau informasi yang kita sampaikan.

Humor dan lelucon adalah sebuah pilihan agar orang tertarik kepada pesan kita. Humor atau kelucuan bisa kita sampaikan lewat berbagai cara seperti tulisan, grafis, meme, karikatur dan juga video kejadian yang lucu.

Sesuatu yang lucu bukan hanya menarik perhatian tapi juga akan mendorong siapapun yang melihat untuk membagikannya.

Menjadi networkers : Aturlah Kontak Kita

Kita mungkin banyak mempunyai koneksi dalam lingkaran pertemanan melalui media sosial kita. Namun banyaknya kontak tidak identik dengan efektifitas pesan yang kita sampaikan mengingat tidak semua kontak kita mempunyai kepedulian dan perhatian yang sama atas sesuatu hal.

Maka menjadi penting untuk melakukan profiling atas kontak-kontak yang ada dalam media sosial kita. Paling tidak meliputi apa yang menjadi perhatian atau kepedulian mereka, hal apa yang menarik untuk mereka perbincangan, atau isu-isu apa yang biasa mereka bagikan.

Dengan demikian kita mempunyai clustering kontak dengan karakternya masing-masing. Dengan clustering ini maka kita bisa melakukan broadcasting pesan secara terarah. Hal ini penting agar lingkaran pertemanan, jejaring di dalam media sosial menjadi efektif untuk menyebarkan pesan dan mendorongkan sebuah aksi bersama.

Menjadi Penyederhana : Mudahkanlah Tampilan Data atau Informasi yang Kompleks

Banyak orang membutuhkan informasi tertentu namun akses dan pemahaman mereka atas informasi itu terbatas. Ambil contoh misalnya masyarakat disekitar tambang yang perlu pemahaman tentang AMDAL dari perusahaan yang beroperasi di sekitar mereka. Mereka perlu tahu apa yang kewajiban yang harus dilakukan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan dan lain sebagainya.

Namun memberikan dokumen AMDAL yang tebal mungkin juga percuma untuk mereka. Untuk itu berbagai informasi yang penting dalam dokumen AMDAL itu perlu diringkas atau disajikan dalam bentuk lain yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami dan disebarluaskan melalui media sosial.

Berdasarkan dokumen AMDAL kita juga bisa membuat peta yang menandai potensi-potensi ancaman dari operasi pertambangan atas masyarakat disekitarnya sehingga mernjadi peringatan dini untuk masyarakat sekaligus sebagai pendorong agar masyarakat bertindak untuk mencegahnya.

Menjadi pelapor : Gunakanlah Kecerdasan Kolektif

Ada banyak kejadian dan informasi penting yang lepas dari perhatian media dan aparatur pemerintah. Media sosial memungkinkan kita untuk mengumpulkan itu melalui jejaring pemakainya. Kita bisa menyediakan sebuah wadah bagi para pemakai media sosial untuk mengirimkan pesan dan informasi terkait sebuah pesan dalam bentuk visual dan narasi kejadian.

Pesan yang terkumpul dalam sebuah tempat dan dikanalisasi berdasarkan isu yang terpilah akan menjadi rujukan bagi siapapun termasuk para pengambil kebijakan untuk menentukan langkah atau melakukan aksi yang menolong untuk mengatasi persoalan yang disampaikan.

Namun mengumpulkan informasi dari pemakai media sosial (user content generated) perlu sebuah kehati-hatian. Kita perlu memastikan bahwa pengirim dan informasinya bisa dipercaya dan independen.

Menjadi Pendengar : Biarkan Orang Bertanya

Media sosial adalah sarana interaksi yang mewadahi komunikasi dua arah. Ini kerap kali kita lupakan sehingga kita hanya berlaku sebagai pemberi dan pembagi pesan, tapi abai untuk berinteraksi dengan orang lainnya.

Menjadi pendengar di media sosial amatlah penting agar kita bisa menerima masukan, pesan atau informasi tambahan lainnya dari jejaring kita. Ada kalanya kita perlu mempublikasi pertanyaan atau pesan yang tidak lengkap Sehingga akan beroleh jawaban atau juga pertanyaan dari jejaring sosial media kita.

Pertanyaan yang muncul dari banyak orang kemungkinan besar akan menimbulkan diskusi dalam jejaring media sosial sehingga akan menambah banyak dimensi informasi lainnya yang kita perlukan bersama.

Menjadi Investigator : Temukan dan Publikasikan

Ada banyak informasi penting yang berdampak pada masyarakat banyak. Namun informasi semacam ini sering tersembunyi atau sengaja disembunyikan oleh para pihak dengan tujuan masing-masing. Mereka yang seharusnya bekerja untuk mengatasi sesuatu masalah namun tak mau melakukan pekerjaannya dengan baik dan benar karena tujuan tertentu kerap kali menutup-nutupi informasi yang seharusnya dibuka untuk masyarakat banyak.

Kita dengan kekuatan jejaring di media sosial bisa mengambil inisiatif untuk melakukan penyelidikan, membuka informasi yang seharusnya dibuka untuk publik.

Apa yang bisa kita lakukan?. Misalnya soal lubang tambang yang dibiarkan terbuka tanpa pengamanan sehingga berisiko untuk masyarakat. Kita bisa memotret, menandai lokasi dan mencari tahu perusahaan apa yang bekerja di lokasi itu serta bagaimana statusnya.

Jika kita mempunyai fasilitas lebih, seperti drone maka kita bisa mengambil aerealphotography untuk menunjukkan misalnya betapa lubang itu sangat dekat dengan pemukiman misalnya.

Kemudian publikasikan temuan kita dalam berbagai bentuk sehingga akan menjadi perhatian bukan saja masyarakat sekitar lubang tambang melainkan juga instansi yang terkait dengan hal itu agar mengambil langkah yang diperlukan.

@yustinus_esha

Pegiat pewartaan warga dan demokrasi digital. Documentary maker, blogger di ceritakota.info, kontributor mongabay.co.id dan social media campaigner untuk Gerakan #MemungutSehelaiSampahSKM

*Tulisan ini diadaptasi dari buku 10 taktik merubah informasi menjadi aksi (edisi terjemahan bahasa Indonesia) terbitan ICT Wacth

(Visited 859 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *