Petani di Minsel Mulai Sulit Mendapatkan Pupuk Bersubsidi

Sulutpos.com, Amurang – Para petani di Minahasa Selatan (Minsel) diawal tahun 2016 ini mulai mengeluhkan ketersediaan pupuk bersubsidi dipasaran. Seperti halnya pupuk Phonska, dari para distributor mengatakan jika stok pupuk tersebut kosong.

Jhon Kindangen salah satu petani asal Modoinding mengungkapkan bahwa dengan kelangkaan pupuk bersubsidi ini, para petani sudah beberapa kali menunda penanaman tomat dan cabe. Kondisi tersebut jelas merugikan para petani, bahkan dampaknya bisa dirasakan masyarakat akibat menurunnya produksi tomat dan cabe dipasaran.

“Dengan kondisi ini, diharapkan peran pemerintah dalam mengambil tindakan terkait kelangkaan pupuk bersubsidi saat ini. Seperti halnya menelusuri kelangkaan tersebut, jangan sampai ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menimbun pasokan sehingga terjadinya kelangkaan. Dan jika memang kelangkaan ini murni kosongnya stok, kiranya pemerintah juga diharapkan mencarikan solusi agar usaha para petani tidak terus menerus merugi,” urai Kindangen.

Adapun dipasaran, para petani masih bisa memperoleh pupuk yang non subsidi. Akan tetapi, mereka enggan membeli pupuk tersebut karena harganya lebih mahal, yang perbedaan harganya berkisar 20-30 ribu rupiah per karung.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Minsel Decky Kientjem ketika dikonfirmasi tak menampik persoalan tersebut. Menurutnya, kelangkaan pupuk bersubsidi dikarenakan saat ini sedang masa transisi, yang memang terjadi hampir setiap awal tahun. Sebab pemerintah pusat harus melakukan penyesuaian terhadap nilai subsidinya.

Namun demikian Keintjem mengatakan bahwa pihaknya akan mengupayakan mengatasi persoalan seperti ini. Nantinya kedepan pihaknya akan melatih para petani supaya bisa membuat pupuk sendiri. Sehingga dengan demikian mereka tidak hanya bergantung dari pupuk yang dijual di pasaran. (Andre Dotz)

(Visited 312 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *