Mendidik Anak di Era Digital

Muhammad Ivan. Alumnus Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan Alumnus Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI

Penulis : Muhammad Ivan, M.Si. Alumnus Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan Alumnus Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI


Perubahan sosial budaya yang begitu cepat dalam teknologi memberi aksesibilitas informasi yang lebih baik terkhusus mereka yang lahir di zaman millenial. Mereka dikenal dengan native digital (Marc Prensky [2001a, 2001b]) atau generasi net, yang lahir setelah tahun 1990, yang baru saja masuk universitas dan dunia kerja yang akan mentransformasi dunia yang kita kenal ini, termasuk dunia pendidikan.

Dalam dunia persekolahan, suasana pembelajaran pun akan berubah. Guru tidak lagi dapat menganggap dirinya sebagai center of learning and teaching, yang ke-aku-annya akan mulai terdestruksi karena gaya belajar siswa yang sudah mulai berubah. Tapscott berargumentasi bahwa model pedagogi bagi generasi net telah mengubah pendekatan fokus guru yang berlandasarkan instruksi ke model fokus siswa yang berlandaskan kolaborasi (Jones and Ramanau 2009a).

Ekosistem pendidikan yang dicanangkan Mendikbud Anies Baswedan dapat menjadi rujukan penting bahwa teknologi bukanlah untuk dimusuhi atau dijauhi dari siswa, melainkan bagaimana guru mampu memberi perspektif yang dialogis terhadap pengunaannya dan sisi baik untuk mengakses hal-hal yang terabaikan dalam kegiatan belajar mengajar. Ekosistem pendidikan menjadikan media sebagai kendaraan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan kedinamisan dan komunikasi lintas sektor terkhusus hubungan sekolah, keluarga, dan anak itu sendiri.

Mulai dari keluarga

Lingkungan keluarga tak terkecuali terpapar pula dengan teknologi yang telah mengubah cara berkomunikasi antar anggota keluarga. Orang tua yang abai biasanya secara permisif melakukan pembiaran terhadap apa yang dikenakan, digunakan, atau dilakukan anak. Mereka cenderung percaya bahwa sekolah satu-satunya institusi yang bisa mengubah anak menjadi warga negara yang baik.

Di era digital, keluarga tidak lagi kuat secara sosial-kapital. Tanpa keajegan sebuah kebijakan, peran keluarga akan semakin terdegradasi. Berbagai peneltian mengatakan bahwa dari segala hal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, yang paling kritis bagaimana orang tua harus sensitif, responsif, dan dipercaya (Lurie-Hurvitz, 2009). Untuk itu, orangtua memegang peran kunci yang dikonfirmasi oleh ilmuwan bahwasanya untuk mencapai potensi optimal, anak harus memiliki hubungan yang sejak dini  menyediakan stabilitas, konsistensi, afeksi, dan responsif sebaik melindungi anak dari hal-hal yang buruk dan mendukung dalam menumbuhkan keterampilan dan kapabilitas baru  (Glasser and Heath, 2004; Shonkoff and Phillips, 2000).

Faktanya, saat ini, banyak  orang tua yang tidak lagi tinggal dengan keluarga besarnya yang secara tradisional mendukung secara informal, nasehat, dan asistensi. Banyak anak yang memiliki kedua orangtuanya yang bekerja karena kebutuhan ekonomi. Ini menyisakan sedikit waktu untuk tanggung jawab keluarga, perawatan diri, atau menemukan kegiatan sosial yang mendukung.

Instabilitas keluarga tentu saja menjadi tantangan harus ditopang dengan pengelola pembinaan keluarga yang profesional. Barth (2009) menekankan bahwa program dengan orang tua yang mengalami depresi, penyalahgunaan narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, atau risiko serius lainnya telah terbukti lebih berhasil bila tantangan ini diakui dan ditangani dengan layanan tambahan ( Barth , 2009).

Layanan tambahan atau khusus ini harus ada untuk menyelamatkan anak yang hidup dengan lingkungan yang tidak dapat mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Mereka yang hidup dengan orangtua tunggal atau ditinggalkan kedua orang tua karena ketidakmatangan dan kesiapan sebagai orangtua.

Dalam data KPAI, tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus.  Data tersebut menyebutkan bahwa kekerasan anak rentan terjadi di lingkungan rumah dan sekolah. Bukankah angka ini seperti fenomena gunung es, masih banyak yang tak terlihat, karena minimnya pengawasan, pemantauan, dan tempat pengaduan. Ditambah sikap masyarakat yang masih menganggap kalau kekerasan orangtua terhadap anak adalah privat, bukan masalah publik.

Inilah mengapa ekosistem pendidikan yang paling sulit untuk dipengaruhi adalah keluarga.

Beberapa langkah

Pertimbangan yang tepat jika Kemdikbud melalui Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat melahirkan tubuh baru, yakni direktorat pembinaan pendidikan keluarga untuk mengikat keluarga sebagai domain yang harus mendapat perhatian secara holistik dan komprehensif. Mengingat pentingnya keluarga sebagai pemain kunci dalam pembangunan bangsa, keluarga berperan strategis dalam hubungannya dengan sekolah, yang selama ini kapabilitas perannya terlalu lemah dalam pendidikan anak.

Kebijakan lintas sektor dibawah direktorat :

  1. Harus memberikan perspektif kemitraan sehingga satu program tidak tumpah tindih dengan program lainnya. Penyediaan tenaga profesional dalam layanan khusus baik untuk pengaduan, konsultasi, dan rehabilitasi sangat dibutuhkan mengingat penanganan yang dihadapi bukanlah perkara yang biasa, melainkan menyentuh hal-hal yang sensitif dan privat.
  2. Tempat yang nyaman dan kondusif serta layanan yang tidak berbelit menjadi unsur-unsur yang harus ada dalam penanganan korban membuat kebijakan atau himbauan di seluruh intansi baik negeri atau swasta untuk pegawai perempuan yang memiliki tanggungan anak harus diberikan waktu pulang lebih cepat untuk mengurus dan merawat anak. Diharapkan anak memperoleh waktu yang lebih banyak dengan sang ibu yang memang secara emosional lebih dekat dengan anak. Hubungan dekat ini akan mempengaruhi sisi psikologis anak yang dapat berkembang dan tumbuh dalam suasana yang hangat dan ramah.
  3. Parenting education di tiap institusi  juga diperlukan untuk menguatkan dan mengingatkan pegawai akan tanggungjawabnya sebagai ayah dan ibu di dalam keluarga.
  4. Tempat pengaduan, konsultasi, dan rehabilitasi di tiap kecamatan akan mempermudah untuk memetakan permasalahan dan apa penyebabnya serta intervensi apa yang harus diambil.  Ada 7024 kecamatan (BPS tahun 2014) dan 14048 untuk menempatkan tenaga profesional sebagai mitra dari K/L yang terlibat dalam pembinaan pendidikan keluarga.

Tidak ada yang imun dengan perubahan yang terjadi, namun keluarga sebagai tempat pertama dan utama perlu mendapat penyadaran bahwa anak-anak adalah aset untuk masa depan bangsa ini. Perawatan mental dan fisik harus secara proporsional direncanakan, agar anak tidak terdestruksi oleh gemerlapnya laju perubahan sosial budaya karena terpaan teknologi informasi yang kian menggerus keluarga di titip terendah. Inilah saatnya pengambil kebijakan dan pegiat pendidikan keluarga bekerjasama dan bermitra serta mengeliminasi ego sektoral yang membuat kita terkotak-kotak dan parsial dalam menyelesaikan permasalahannya.[***]

(Visited 744 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *