Arkeologi Membuktikan Bahwa Sulawesi Utara adalah Gerbang Asia Pasifik Sejak Prasejarah ( II )

Sulawesi Utara pada masa lalu merupakan wilayah penghasil rempah-rempah, beras, dan emas yang potensial yang menjadi ajang pertarungan kepentingan hegemoni ekonomi antara bangsa Portugis, Spanyol, Belanda dan Kerajaan-kerajaan di sekitar daerah ini, yang akhirnya bermuara pada pertarungan politik dan militer (Meilink-Roelofsz, 1962: 93-100).


Sulutpos.com, Jakarta – Pada masa lalu daerah ini juga menjadi route perdagangan antara barat dan timur serta penyebaran agama Kristen, Islam maupun kepercayaan atau agama yang di bawa oleh pedagang-pedagang Cina. Sulawesi Utara juga berperan dalam perjuangan-perjuangan kemerdekaan dengan munculnya pahlawan-pahlawan asli dari daerah ini.

Mesolithikum
Kebudayaan Mesolithikum

Wilayah Indonesia Timur termasuk daratan Sulawesi Utara dan kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, sejak dahulu adalah merupakan wilayah yang strategis di kawasan Pasifik, karena merupakan jembatan penghubung antara kawasan Asia dengan Kepulauan Pasifik (Bellwood, 1996; Veth 1996). Pada masa lalu wilayah ini menjadi bagian dari route perjalanan migrasi fauna dan manusia beserta kebudayaannya.

Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa di dalam migrasi fauna prasejarah pernah melewati dan singgah di wilayah ini adalah ditandai dengan adanya fosil gading gajah purba (stegodon) yang ditemukan di Pintareng, di Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara (Husni, 1996/1997, 1999), dan geraham binatang purba di lembah Napu di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, serta fosil-fosil binatang purba lainnya di Cabenge di Sulawesi Selatan (Santoso, 2001, 2002, 2003).

PENINGGALAN BUDAYA AUSTRONESIA

Adapun migrasi manusia dari wilayah Asia ke Pasifik melalui route ini ditengarai dengan menyebarnya kebudayaan Austronesia di pulau-pulau di sekitar Pasifik, seperti ditunjukkan oleh penggunaan bahasa-bahasa yang tergolong ke dalam rumpun bahasa Austronesia, serta ditemukannya sisa-sisa budaya yang mengenal pemakaian alat-alat batu muda (neolitik) yang berupa beliung batu persegi di Liang Tuo Mane’e di Kabupaten Talaud dan di daerah lain di Sulawesi Utara.

Peta Lokasi Desa Passo.[Google Map]
Peta Lokasi Desa Passo.[Google Map]

Disamping itu ditemukan pula sisa-sisa budaya masa logam tua (paleometalik) yang mengenal penggunaan tempayan kubur seperti yang ditemukan di Liang Buiduane di Talaud dan di Bukit Kerang Passo di Minahasa, serta peninggalan budaya megalitik (kebudayaan yang mengenal penggunaan batu-batu besar) tersebar di wilayah kepulauan Sulawesi dan kepulauan Maluku Utara (Bellwood, 1978).

Sehubungan dengan hal itu wilayah ini menurut para pakar diperkirakan menjadi daerah kunci yang dapat memberi jawaban atas permasalahan daerah asal (home land) dari suku bangsa yang berbahasa Austronesia yang pada masa kemudian mendiami daerah-daerah antara Madagaskar di bagian barat sampai dengan Easter Island di kepulauan Pasifik di bagian timur, serta Formosa Island di bagian Utara (Solheim, 1966; Shuttler, 1975, Bellwood, 2001).

Watu Pinawetengan. Inzet : Ritual yang sampai sekarang masih tetap dilakukan sabagi salah satu bentuk pelestarian nilai nilai budaya.
Watu Pinawetengan. Inzet : Ritual yang sampai sekarang masih tetap dilakukan sebagai salah satu bentuk pelestarian nilai nilai budaya.

Budaya yang dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia meninggalkan warisan-warisan budaya yang terdiri dari alat-alat batu neolitik beliung persegi, benda-benda yang terbuat dari batu-batu besar (megalitik) dan penguburan dengan menggunakan tempayan tanah liat.

Warisan budaya semacam itu banyak ditemukan peninggalannya di Sulawesi Utara. Alat-alat batu neolitik telah ditemukan di gua-gua di daerah Talaud, di Guaan Bolaang Mongondow dan daerah Oluhuta (Provinsi Gorontalo) yang sebelum pemekaran wilayah daerah itu termasuk ke dalam wilayah Sulawesi Utara.

Demikian juga benda-benda megalitik banyak ditemukan di Sulawesi Utara dalam bentuk kubur batu waruga, batu bergores ‘watu pinabetengan’, menhir ‘watu tumotowa’, kubur tebing batu Toraut dan lesung batu, yang umunnya ditemukan di Tanah Minahasa dan Bolaang Mongondow. Sedangkan kubur tempayan tanah liat ditemukan di beberapa daerah seperti di Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas Minahasa, di Liang Buiduane Salibabu, di Tara-tara (Kota  Tomohon), Kombi (Tondano) dan di beberapa daerah lainnya.

Dengan uraian di atas jelas peranan Sulawesi Utara sebagai gerbang Asia-Pasifik sejak masa prasejarah tidak perlu diragukan lagi. Fosil-fosil binatang purba yang ditemukan di daerah ini adalah salah satu bukti nyata peranan tersebut. Demikian juga dengan bukti-bukti sejarah dan budaya yang dimiliki oleh daerah ini adalah merupakan saksi-saksi bisu yang menjelaskan bagaimana peranan Sulawesi Utara sebagai Gerbang Asia-Pasifik sejak masa prasejarah sampai masa sejarah bahkan tentunya sampai masa sekarang seperti yang diperjuangkan Gubernur Sulawesi Utara pada saat ini.

Dengan kenyataan-kenyataan tersebut, maka wilayah ini dapat digambarkan berdasarkan fenomena-fenomena dasarnya sebagai berikut (Ambary 1998: 150):

  1. Dari segi zoografi, wilayah ini merupakan wilayah transisi antara dua lini fauna, yakni Wallace dan Weber (Bellwood, 1978:37; Veth, 1996).
  2. Dari segi geolinguistik, wilayah ini dianggap sebagai tanah asal dari suku-suku bangsa pemakai bahasa Austronesia (Andili, 1980; Bellwood, 2001: 340-347).
  3. Dari segi geokultural, wilayah ini merupakan daerah lintasan strategis dalam migrasi-migrasi manusia dan budaya dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia, serta Oceania (Solheim, 1966; Duff, 1970; Shuttler, 1975: 8-10).
  4. Dari segi ekonomi, wilayah ini merupakan wilayah penghasil rempah-rempah, emas dan beras (Ulaen, 2003: 42-44), yang menyebabkan wilayah tersebut menjadi ajang potensial di dalam pertarungan kepentingan hegemoni ekonomi, yang akhirnya bermuara pada pertarungan politik dan militer (Meilink-Roelofsz, 1962: 93-100). Selain itu dari segi ekonomi pada saat ini Sulawesi Utara merupakan daerah yang relatif aman baik untuk investasi dan pariwisata.

Dengan demikian jelas terbukti bahwa daerah Sulawesi Utara sngguh-sungguh berperan sebagai pintu gerbang antara Asia dan Pasifik sejak masa yang telah lama lalu yaitu sejak masa prasejarah, bahkan peran sebagai pintu gerbang Asia-Pasifik ini terus berlanjut sampai sekarang. Selesai. (*)

Penulis Artikel : Santoso Soegondho

DAFTAR ACUAN

Ambary, Hasan Muarif, 1998. Menemukan Peradaban. Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Editor Jajat Burhanuddin. Penerbit Logos.

Andili, A. Bahar, 1980. Profil Daerah Maluku Utara: Halmahera dan Raja Empat, Konsep dan Strategi Penelitian. Editor E.K.M. Masinambouw, Jakarta: LEKNAS-LIPI.

Bellwood, P.S, 1976. Archaeological research in Minahasa and Talaud Islands, Northeastern Indonesia. Asian Perspective, vol XIX, p. 240-288.

Bellwood, Peter, 1978. Man’s Conquest of the Pacific, The Prehistory of Southeast Asia and Oceania. William Collins Publ. Auckland.

Bellwood, Peter, 1996. The Northern Mollucas as Crossroads between Indonesia and The Pacifik. The International Conference on Linguistic and Culture Relations in East Indonesia, New Gguinea and Australia. Yogyakarta.

Bellwood, Peter, 2001. Formosan Prehistory and Austronesian Dispersal, di dalam : Austronesian Taiwan, ed. David Blundell

Daud Tanudirjo, Jeanny Dhewayani, Joko Siswanto, 1995. Laporan Penelitian Kepurbakalaan di Kabupaten Sangihe-Talaud

Daud Tanudirjo. 2001. Islands in Between: Prehistory of the Northeastern Indonesian Archipelago. Phd. Thesis pada Australian National University.

Duff, Roger, 1970. Stone adzes of Southeast Asia, Mueum Bulletin no. 3, Christchurch, New Zealand.

Geldern, Heine von, 1945. Prehistoric Research in the Netherlands Indies, Science and Scientists in the Netherlands Indies, New York, hal. 129-167.

Heekeren, H.R. van, 1972. The Stone Age of Indonesia, VKI, 62, 2nd Revised Edition, The Hague, Netherlands.

Lapian, A.B, 1996. Peta Pelayaran Nusantara dari Masa ke Masa. Al-Turas, vol. 2,
No. 5, halaman 51-65.

Meilink-Roelofsz, M.A.P. 1962. Asian Trade and European Influence. The Hague: Martinus Nijhoff.

Salindeho, Winsulangi dan Pitres Sombowadile, 2008. Daerah Perbatasan Keterbatasan Pembatasan. Fuspad, Jogja.

Santoso Soegondho, 2001. Pospek dan Strategi Balai Arkeologi Manado Menghadapi Tantangan Issue-Issue Global. Paper pada EHPA, tahun 2001 di Yogyakarta.

Santoso Soegondho, 2002. A Small Prospect And Challenges Of North And Central Sulawesi Archaeology. Paper pada Konggres IPPA, tahun 2002 di Taiwan.

Santoso Soegondho, 2003. Prospek Arkeologi Dan Pariwisata Daerah Sulawesi Utara di Era Globalisasi. Jejak-Jejak Arkeologi, No, 3 Tahun 2003. Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata. Balai Arkeologi Manado.

Shutler, Richard Jr. And Jeffrey C. Marck, 1975. On the Dispersal of the Austronesian Horticulturalist. APAO, vol. X, No. 2, July: 103.

Soejono, R.P (Editor), 1976. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Solheim, Wilhelm G. II, 1976. Reflections on the New Data of Southeast Asian Prehistory. Asian Perspective, vol. XVIII, no. 2. Hal. 154.

Ulaen, Alex J., 2003. Nusa Utara. Dari Lintasan Niaga Ke Daerah Perbatasan. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2003.

Veth, Peter (et all), 1996. Bridging Sunda and Sahul: The Arcahaeological Significance of the Aru Islands, Maluku.The International Conference on Linguistic and Cultural Relation in East Indonesia, New Guinea and Australia. Yogyakarta.

(Visited 1.643 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *