Arkeologi Membuktikan Bahwa Sulawesi Utara adalah Gerbang Asia Pasifik Sejak Prasejarah ( I )

[maxbutton id=”8″]   Saat ini sedang hangat dipermasalahkan bahwa daerah Sulawesi Utara adalah merupakan Pintu Gerbang Asia-Pasifik. Banyak orang yang tidak tahu bahwa berdasarkan penelitian arkeologi telah dibuktikan bahwa sebenarnya sejak masa prasejarah atau masa sebelum ada dokumen tertulis.


Sulutpos.com, Jakarta – Wilayah Sulawesi Utara sudah merupakan pintu gerbang bagi wilayah Asia-Pasifik. Bahkan para sarjana menyebutnya sebagai jembatan darat yang menghubungkan wilayah Asia dengan wilayah Pasifik. Para pakar memperkirakan sebenarnya Gajah Purba (Stegodon) pernah bermigrasi dari daratan Asia ke Kepulauan Indonesia melalui Sulawesi Utara.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil gading dan geraham binatang tersebut di Desa Pintareng Tabukan Selatan di pulau Sangihe. Demikian juga ditemukan bukti bahwa budaya yang disebarkan dan dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia, menyebar dari Daratan Asia lewat Formosa dan Filipina masuk ke wilayah Pasifik melalui Sulawesi Utara.

Dari Sulawesi Utara budaya ini kemudian menyebar ke bagian Timur sampai di Pulau Paskah di Kepulauan Pasifik dan ke bagian Barat sampai di Madagaskar.

FOSIL GAJAH PURBA

Pada saat terjadi peng-esan (zaman glacial) di muka bumi pada masa Plestosin, pernah terjadi migrasi fauna dari daratan Asia ke Selatan melalui Filipina dan Sulawesi Utara. Oleh sebab itu di Filipina dan di Sulawesi Utara terdapat peninggalan fosil-fosil binatang purba seperti gajah purba (stegodon) dan fosil hewan lainnya.

Salah satu koleksi Museum Geologi, Stegodon Trigonocephalus Martin. (Foto: Deni Sugandi./geomagz.geologi.esdm.go.id)
Salah satu koleksi Museum Geologi, Stegodon Trigonocephalus Martin. (Foto: Deni Sugandi./geomagz.geologi.esdm.go.id)

Di Desa Pintareng di Tabukan Selatan di Pulau Sangihe, telah ditemukan adanya fosil-fosil gading dan geraham gajah purba tersebut.

Menurut para ahli dari Museum Geologi Bandung dan dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, fosil-fosil tersebut dinyatakan sebagai bagian dari fosil Stegodon yang pernah hidup di Kepulauan Nusantara pada masa Plestosin sekitar 2 juta tahun lalu.

Gajah purba ini selain di Pintareng telah ditemukan fosil-fosilnya di Sangiran, di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, di Lembah Cabenge di Sulawesi Selatan dan di Lembah Besoa di Sulawesi Tengah.

Stegodon di dunia diperkirakan pernah hidup sejaman dengan binatang purba lainnya. Di Indonesia stegodon hidup dengan binatang-binatang purba lainnya seperti Rinocheros (badak purba) serta kerbau purba dan lain sebagainya. Dengan temuan fosil gajah purba di Pintareng, Tabukan Selatan Sangihe tersebut, maka sebenarnya pada masa lalu gajah pernah hidup di Pulau Sulawesi dan terutama di Sulawesi Utara.

Seperti diketahui pada masa plestosin sekitar 2.5 juta tahun yang lalu, iklim di bumi mengalami perobahan total yaitu penurunan suhu yang sangat drastis. Masa itu dikenal dengan zaman glacial (zaman es). Fenomena alam ini erat hubungannya dengan perubahan dari parameter astronomi mengenai posisi bumi terhadap matahari. Kejadian ini berlangsung secara periodik, yang telah mengakibatkan berubahnya jumlah total dan pembagian energy dari matahari yang diterima bumi. Selama apa yang disebut zaman es (zaman glasial) itu berlangsung, air di bumi terkumpul dalam bentuk es di daerah-daerah yang bergaris lintang tinggi.

Mammoth atau Gajah Purba di seri FarCry Primal
Mammoth atau Gajah Purba di seri FarCry Primal.

Hal ini berarti kandungan air di samudra menjadi berkurang, akibatnya muka air laut menjadi turun. Sebagai contoh, pada puncak zaman glacial terakhir yang terjadi sekitar 18.000 tahun yang lalu, muka air laut terletak 100 meter lebih rendah dari sekarang. Ternyata selama 1 juta tahun terakhir, muka air laut telah mengalami lebih dari 10 kali pendangkalan yang mencapai sekurang-kurangnya 80 meter.

Jalur Perpindahan Hewan dan Manusia
Jalur Perpindahan Hewan dan Manusia

Perubahan tersebut di atas sangat mempengaruhi bentuk kepulauan nusantara. Laut Cina Selatan dan Laut Jawa menjadi surut, sehingga mengakibatkan terbentuknya jembatan daratan yang luas yang menghubungkan Benua Asia dengan Kepulauan Asia Tenggara. Jembatan daratan inilah yang memungkinkan berlangsungnya proses migrasi dari daratan Asia ke Asia Tenggara bahkan ke Pulau-pulau lain di sekitarnya.

Beberapa jenis hewan seperti halnya Gajah yang mampu menyeberangi lautan, tidak menyianyiakan kesempatan itu untuk bermigrasi mencari daerah yang lebih memberikan jaminan untuk kelangsungan hidupnya. Oleh sebab itu tidak heran kalau gajah purba dari jenis Stegodon ditemukan di Filipina dan beberapa daerah di Indonesia seperti Pintareng, Besoa, Cabenge, Flores dan Sangiran. Para ahli memperkirakan bahwa Sulawesi Utara menjadi pintu gerbang di dalam migrasi binatang purba ini.

SEJARAH PERADABAN DI SULAWESI UTARA

Sejarah peradaban manusia di daerah ini cukup panjang dan menarik. Daerah ini pada jaman es melanda dunia pada masa plestosin jutaan tahun yang lalu, merupakan bagian daratan yang menghubungkan pulau Sulawesi dengan daratan Filipina bahkan daratan Asia. Setelah jaman es berakhir, Sulawesi Utara menjadi daratan yang membentuk jazirah Pulau Sulawesi dan kepulauan di bagian Utaranya.

Dataran Sundah dan Datana Sahul
Sumatera, Jawa dan Kalimantan masih bersatu dengan Benua Asia (Dataran Sunda).

Selain daratan yang sebagian besar merupakan dataran tinggi, Sulawesi Utara juga terdiri dari pulau-pulau yang jumlahnya cukup banyak, lebih dari 150 pulau. Daerah ini mempunyai karakter alam yang khas yaitu dataran tinggi lebih luas dari dataran rendahnya, memiliki banyak gunung berapi dan sebagian besar masih aktif termasuk gunung api bawah laut, memiliki banyak gugusan karang yang membentuk pulau-pulau, selain itu kerak bumi daerah ini berdekatan bahkan sebagian berada tepat di daerah terjadinya proses subduksi (perbenturan) lempeng-lempeng (plates) tektonik antara lempeng Pasifik-Filipina-Australia dengan lempeng Sangihe dan Halmahera. Bahkan terletak dekat dengan pertemuan lempeng-lempeng dunia seperti lempeng Pasifik, Eurasia dan Australia.

Posisi di daerah subduksi inilah yang menyebabkan kemunculan gunung-gunung berapi dan sering terjadinya berbagai gempa bumi di daerah ini sejak jaman dahulu kala. Gunung-gunung berapi Sulawesi, Halmahera dan Sangihe, adalah merupakan hasil zona subduksi lempengan Sangihe dan Halmahera.

Sebagian besar lempengan Maluku telah tertindih (tersubduksi) oleh zona subduksi Halmahera di bagian Timur dan oleh zona subduksi Sangihe di bagian Barat. Gunung-gunung berapi di Sulawesi, Sangihe dan Halmahera diberi pasokan magma yang dibangkitkan di mantle asthenospherik yang termodifikasi oleh fluida yang dihasilkan dari lempengan Maluku yang tertindih. Dalam beberapa juta tahun semua lempengan Laut Maluku akan tersubduksi dan lempengan Sangihe serta Halmahera yang sudah saling menindih pada ujung-ujung lempengannya akan bertabrakan hebat (Salindeho, Winsulangi dan Pitres Sombowadile, 2008: hal. 12, 144-149).

Fenomena alam yang telah digambarkan tersebut, disatu sisi telah menyebabkan berbagai bencana seperti bencana gempa bumi atau letusan gunung api yang mendatangkan kesulitan bagi masyarakat. Akan tetapi d sisi lain telah memberi warisan yang berupa keindahan alam dan kekayaan alam yang menguntungkan bagi masyarakat. Warisan yang menguntungkan itu antaralain keindahan alam pegunungan maupun bahari termasuk keindahan terumbu karang bahkan juga hasil rempah-rempah yang sudah terkenal di dunia sejak ratusan tahun lalu, adalah merupakan warisan yang menguntungkan masyarakat. Demikian juga warisan alam yang berupa logam bernilai ekonomis tinggi seperti emas, perak, timbal, seng dan tembaga. Semua itu telah terekam di dalam dokumen-dokumen sejarah alam daerah ini.

Waruga
Waruga.

Dari uraian tersebut diperoleh gambaran bahwa Sulawesi Utara berdasarkan alamnya, terkenal keseluruh dunia dengan kekhasan dan kekayaan alamnya yang indah dan subur, dengan adanya taman-taman laut seperti Bunaken maupun adanya tambang-tambang emas, serta tanaman cengkih-pala dan perkebunan kelapa yang sangat luas, demikian juga dengan fauna langkanya seperti Anoa, Maleo, Tarsius dan lain sebagainya.

Map Shows How Humans Migrated Across The Globe

Credit: Science Insider/Yotube.com

Berdasarkan penelitian arkeologi diketahui bahwa tanda-tanda kehidupan manusia di Sulawesi Utara sudah berlangsung sejak 30.000 tahun yang lalu seperti yang ditemukan buktinya di gua Liang Sarru di Pulau Salibabu. Bukti yang lain menunjukkan adanya kehidupan sekitar 6.000 tahun lalu di Situs Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas dan 4.000 tahun yang lalu sampai awal Masehi di gua Liang Tuo Mane’e di Arangkaa di Pulau Karakelang. Kemudian muncul kebudayaan megalitik berupa kubur batu ‘waruga’, menhir ‘watutumotowa’, lumpang batu dan lain-lain sejak 2.400 tahun yang lalu sampai abad 20 Masehi di Bumi Minahasa. Bersambung(*)

Penulis Artikel : Santoso Soegondho

Slide : Teguh Darmadi

Sumber : iaaipusat.wordpress.com

(Visited 2.305 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *