Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Material Cagar Budaya ( I )

Foto Cover : Waruga. Salah satu benda cagar budaya yang ada di Sulawesi Utara.(Ilustrasi)


Oleh: Ir. Yoesoef. BA
Direktorat Tinggalan Purbakala

 

A. Pendahuluan

Lingkungan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Perubahan sedikit saja pada kondisi lingkungan akan mengakibatkan dampak yang besar bagi kehidupan manusia, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Akhir-akhir ini dunia digemparkan dengan munculnya fenomena perubahan iklim. Secara umum pasti kita sudah pernah mendengar tentang rumah kaca. Rumah yang dibangun dengan konstruksi khusus pada bagian atapnya ini biasa digunakan untuk lahan proses pembibitan pada kegiatan perkebunan dan berfungsi untuk menghangatkan tanaman yang berada di dalamnya.

Hal di atas juga terjadi pada bumi, di mana radiasi yang dipancarkan oleh matahari, menembus lapisan atmosfer dan masuk ke bumi. Radiasi matahari yang masuk ke bumi dalam bentuk gelombang pendek, menembus atmosfer bumi dan berubah menjadi gelombang panjang ketika mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun sayangnya, tak semua gelombang panjang yang dipantulkan kembali oleh bumi dapat menembus atmosfer menuju angkasa luar karena sebagian dihadang dan diserap oleh gas-gas yang berada di atmosfer – disebut Gas Rumah Kaca (GRK). Akibatnya radiasi matahari tersebut terperangkap di atmosfer bumi.

Karena peristiwa ini berlangsung berulang kali, maka kemudian terjadi akumulasi radiasi matahari di atmosfer bumi yang menyebabkan suhu di bumi menjadi semakin hangat. Peristiwa alam ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca (ERK), karena peristiwanya serupa dengan proses yang terjadi di dalam rumah kaca.

Dalam Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change – UNFCCC), ada enam jenis gas yang digolongkan sebagai GRK, yaitu karbondioksida (CO2), dinitroksida (N2O), metana (CH4), sulfurheksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFCs) dan hidrofluorokarbon (HFCs). GRK terutama dihasilkan dari kegiatan manusia yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara) seperti pada penggunaan kendaraan bermotor dan penggunaan alat-alat elektronik. Selain itu penebangan pohon, penggundulan hutan, kebakaran hutan, cerobong industri serta TPA juga merupakan sumber emisi GRK.

Meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer akibat aktivitas manusia inilah di berbagai belahan dunia akan berakibat meningkatnya radiasi yang terperangkap di atmosfer. Akibatnya suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi meningkat. Peristiwa ini disebut Pemanasan Global. Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim lainnya, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan di udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya mengubah pola iklim dunia. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Perubahan Iklim.

B. Perubahan Iklim Global

1. Iklim
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam satu tahun dan meliputi wilayah yang luas. Secara garis besar, iklim dapat terjadi karena adanya rotasi, revolusi bumi, perbedaan lingkungan geografis dan lingkungan fisis. Rotasi adalah pergerakan melingkar bumi terhadap sumbunya sendiri yang menjadikan adanya siang dan malam serta distribusi panas matahari ke seluruh permukaan bumi. Sedangkan revolusi adalah pergerakan bumi dalam mengelilingi matahari yang dicapai dalam 365 hari atau satu tahun dalam sekali putarannya.


2. Faktor-faktor Pembentuk Iklim Indonesia

Faktor faktor yang mempengaruhi iklim di Indonesia adalah

a) Perairan laut Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki wilayah laut yang sangat luas, sehingga terbentuk iklim laut yang sangat berpengaruh di Indonesia.

b) Topografi

Indonesia memiliki topografi wilayah yang sangat bervariasi seperti dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan yang memiliki suhu yang berbeda-beda. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan iklim secara vertikal seperti iklim panas, sedang, sejuk, dan dingin.

c) Letak Astronomis

Posisi wilayah Indonesia secara Astronomis berada di antara 6º Lintang Utara – 11º Lintang Selatan dan 95º – 141º Bujur Timur. Keberadaan wilayah Indonesia dalam posisi ini menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun.

d) Letak Geografis

Indonesia berada di antara benua Asia dan Australia sehingga menjadi tempat perlintasan arah angin yang berubah setiap enam bulan. Hal ini menyebabkan terjadinya dua musim di Indonesia, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Angin dari benua Australia yang kering menyebabkan musim kemarau, sedangkan angin yang bertiup dari Samudera Pasifik melewati Laut Cina Selatan yang basah menyebabkan musim penghujan di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, iklim di Indonesia juga dipengaruhi oleh iklim musim.(*/bersambung)

(Visited 693 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *