Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Material Cagar Budaya ( II )

Foto Cover : Waruga di Sawangan, Minahasa Utara (Ilustrasi)


Oleh: Ir. Yoesoef. BA
Direktorat Tinggalan Purbakala

 

3. Perubahan Iklim

a) Perubahan Iklim
Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang yang terjadi pada pola rata-rata cuaca di suatu wilayah atau bumi secara menyeluruh. Perubahan cuaca mencerminkan variasi abnormal yang terjadi pada iklim di bumi, yang selanjutnya berdampak terhadap bagian bumi yang lain, seperti pencairan lapisan es. Perubahan iklim yang ekstrim dapat menyebabkan penyimpangan iklim yang jauh dari normalnya sehingga bisa mengakibatkan kekeringan, kemarau panjang dan banjir.

b) Penyebab Perubahan Iklim
Faktor penyebab perubahan iklim tak lain adalah manusia sendiri. Kegiatan-kegiatan manusia seperti konsumsi energi, meningkatnya industri dan transportasi, dan pembukaan lahan baru merupakan pemicu awal dari perubahan iklim.

c) Dampak Perubahan Iklim
Laporan “Climate Change, Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability (2007)”, telah memprediksi kemungkinan dampak perubahan iklim yang sudah dan yang mungkin akan terjadi di masa depan. Salah satu kesimpulannya, pemanasan global akan memberi dampak negatif yang nyata bagi kehidupan ratusan juta warga di dunia. Salah satunya adalah meningkatnya suhu permukaan bumi sepanjang lima tahun mendatang. Ini akan mengakibatkan gunung es mencair. Dampaknya panen gagal, yang hingga tahun 2050 membuat 130 juta penduduk dunia terutama di Asia mengalami kelaparan. Pertanian gandum di Afrika juga bernasib sama. Pemanasan global juga membuat permukaan laut meningkat, lenyapnya beberapa spesies dan bencana nasional yang makin meningkat. 30% garis pantai di dunia lenyap pada 2080. Lapisan es di kutub mencair hingga terjadi aliran air di Kutub Utara dan membuat Terusan Panama terbenam.

Naiknya suhu udara akan memicu topan yang lebih dasyat hingga mempengaruhi wilayah pantai. Banyak tempat yang kering akan makin kering, sebaliknya sejumlah tempat yang basah akan makin basah. Hal ini membuat distribusi air secara alami kian tidak teratur dan berpotensi meningkatkan ketegangan dalam pemanfaatan air untuk kepentingan industri, pertanian dan sosial. Sekitar 1-3 milyar orang di dunia terutama di wilayah miskin, diperkirakan akan menderita kekurangan air kronis pada 2100.

Dari seluruh dampak yang muncul, Asia menjadi bagian dari bumi yang akan menderita paling parah. Setiap kenaikan suhu 2 derajat celcius akan menurunkan produksi pertanian di China dan Bangladesh hingga 30% pada 2050. Kelangkaan air meningkat di India seiring dengan menurunnya lapisan es di pegunungan Himalaya. Sekitar 100 juta warga pesisir di Asia pemukimannya tergenang karena peningkatan permukaan laut antara 1-3 mm/tahun.

Untuk Indonesia sendiri, ada sejumlah dampak perubahan iklim. Dalam periode 2003-2005 saja, terjadi 1.429 kejadian bencana. Sekitar 53,3% adalah bencana terkait hidro-meteorologi (Bappenas dan Bakornas PB, 2006). Banjir adalah bencana yang paling sering terjadi (34%), diikuti oleh longsor (16%). Kemungkinan pemanasan global akan menimbulkan kekeringan dan curah hujan ekstrim yang lebih parah, yang pada gilirannya akan menimbulkan risiko bencana iklim yang lebih besar (Trenberth dan Houghton, 1996). Laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (2006) mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan satu dari negara-negara yang rentan terhadap bencana terkait dengan iklim.

Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah rapuhnya bangunan-bangunan sepanjang pesisir, terutama bangunan yang sudah tua. Bangunan tua tersebut sebagian besar adalah Cagar Budaya yang harus dilestarikan.


C. Cagar Budaya

1. Cagar Budaya
Pengertian Cagar Budaya menurut Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.

Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.

Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas

2. Kondisi Cagar Budaya di Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai harganya, baik yang berupa budaya materi (tangible) maupun budaya non materi (intangible). Budaya materi sering disebut dengan Cagar Budaya yang dibedakan menjadi dua, yaitu Cagar Budaya tidak bergerak dan Cagar Budaya bergerak. Cagar Budaya yang tidak bergerak ini mempunyai masa atau periode yang berbeda, yaitu periode prasejarah, periode klasik (Hindu–Buddha), Islam, dan Kolonial. Sedangkan jenis bangunannya menjadi beberapa, antara lain gua prasejarah, menhir, candi, pura, masjid kuno, rumah adat, benteng, gedung, dan lain sebagainya.

Waruga, tinggal menyisakan Penutup karena sebagian tenggelam kedalam tanah
Waruga, tinggal menyisakan Penutup, sebagian tenggelam kedalam tanah.

Namun pada saat ini Cagar Budaya telah banyak mengalami kerusakan, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu umur yang sudah tua, lingkungan alam maupun ulah manusia akibat pembangunan, dan lain sebagainya. Kalau hal ini dibiarkan maka kerusakan Cagar Budaya akan dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitasnya serta nilai intangible yang dikandungnya.

Pelestarian Cagar Budaya harus tetap terjaga agar tidak rusak dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

D. Material Penyusun Cagar Budaya

1. Batuan
Adalah segala macam yang menyusun kerak bumi baik padat maupun lepas seperti pasir dan debu. Sifat fisik batuan adalah berat jenis, porositas, kadar air jenuh/natural, volume pori, dan volume butir. Sedangkan sifat mekanik batuan adalah kuat tekan (retak dan pecah ), kuat tarik, dan elastisitas.

Batuan tersusun atas beberapa jenis mineral. Mineral adalah zat padat dari unsur atau persenyawaan kimia yang dibentuk oleh proses anorganik dan mempunyai susunan kimia tertentu, contohnya adalah K (AlSi3O8) atau Ortoklas dan (Mg,Fe)2 (SiO4) atau Olivin.

Mineral terang (Felsik) secara berurutan adalah Olivin – orto piroksin – klino piroksin – Amphibol – biotit. Sedangkan Mineral gelap (mafik) secara berurutan adalah: Anortit – Bitownit – Labradorit – Andesin – Oligoklas – Albit

Mineral sekunder adalah mineral yang dibentuk dari mineral utama oleh proses pelapukan, sirkulasi air atau larutan dan metamorfosma.
Contoh:
2(KAlSiO3)O8 Al2Si2O3(OH)4
plagioklas lempung (*/Bersambung)

(Visited 698 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *