Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Material Cagar Budaya (III)

Foto Cover : Toar, gambaran wajah leluhur Suku Minahasa yang dipahatkan pada dinding batu, Bukit Kasih Kanonang, Minahasa.


Oleh: Ir. Yoesoef. BA
Direktorat Tinggalan Purbakala

Berdasarkan komposisi, sifat, dan asal terbentuknya, batuan dibedakan menjadi beberapa kelompok.

a. Batuan Beku
Adalah batuan yang terjadi dari pembekuan magma.
Penggolongan batuan beku berdasarkan tiga hal yaitu :
– Pembagian genetik berdasarkan tempat terjadinya (ekstrusif dan intruksif)
– Pembagian kimia berdasarkan senyawa oksidanya :
SiO2, TiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, MgO, CaO, Na2O, K2O, H2O
P2O (Granit, Diorit, Gabro, Peridotit).

Berdasarkan kandungan silika: Batuan asam > 66% , menengah 52 – 66 %, basa 45 – 52%, ultra basa < 45%. Batu lapuk mempunyai komposisi kimia berbeda dengan batu segar. – Pembagian berdasarakan susunan mineralogi: Kwarsa, Feldspar plagioklas, (mineral felsik), amphibol, piroksin dan olivin (mineral mafik) Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral. Dalam membicarakan masalah sifat fisik batuan beku tidak akan lepas dari Tekstur (kristalin, granularitas), struktur (masif, vesikuler), dan komposisi mineral.

b. Batuan Sedimen

Batuan sedimen atau sering disebut sedimentary rocks adalah batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya terendapkan. – Batuan sedimen klastik diendapkan dengan proses mekanis. Contoh: breksi, konglomerat, dan batu pasir. – Batuan sedimen evaporit (proses hidrolisis dengan larutan kimia yang cukup pekat), contoh batu gip dan batu garam. – Batuan sedimen batu bara (terbentuk oleh unsur organik) – Batuan sedimen karbonat terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera yang bercangkang kapur.

c. Batuan Metamorfosa

Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperatur dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperatur dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tekstur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contoh batuan metamorfosa adalah marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. 2. Bata Bata merah adalah suatu unsur bangunan yang diperguakan untuk konstruksi bangunan. Bata merah dibuat dari tanah dengan atau tanpa bahan baku lain dibakar cukup tinggi sehingga tidak larut dalam air. Proses pembuatan bata mulai dari penggalian tanah, pencampuran dengan air dan bahan bahan lain jika perlu hingga pemberian bentuk, semua dikejakan dengan tangan.

Tanah yang baik sebagai bahan dasar adalah jenis lempung padas. Bila terlalu banyak lempung, bata akan mudah pecah pada waktu proses pengeringan. Bila terlalu banyak pasir, bata akan getas. Perbandingan antara lempung pasir perlu pengalaman tersendiri dalam proses pembuatan. Perlu analisis laboratorium mengenai kandungan unsur garam tanah. Campuran bahan dasar, biasanya terdiri atas bahan organik, misal sekam, abu tidak dianjurkan/hindari campuran dengan bahan yang korosif misal garam.

Ukuran bata normal adalah 230 x 110 x 50 mm, sedangkan bata kuno berukuran 350 x 200 x 100 mm. Pembakaran bata biasanya menggunakan bahan kayu, sekam, sekam campur garam dan belerang. Suhu pembakaran sebaiknya mencapai 700º C agar partikel air yang terjebak di antara butir bisa hilang/menguap Berdasarkan kuat tekannya, bata dikelompokkan menjadi :  Tingkat I > 100 kg/cm²
 Tingkat II 80 – 100 kg/cm²
 Tingkat III 60 – 79 kg/cm²

3. Kayu
Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri atas senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat) dan zat ekstratif. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial, dan tangensial). Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara di sekelilingnya, dan mempunyai titik jenuh serat. Bila kadar airnya di bawah TJS kayu akan mengerut. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit serta dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.

Tabel 1. Contoh kayu dengan kelasnya

No

Jenis kayu

Kelas awet

1. Kranji I
2. Cemara II – III
3. Merbau I-II
4. Keruaing III
5. Bangkirai I-II ( III )
6. Meranti putih II-III
7. Ulin I
8. Jati I ( II )
9. Mindi IV-V
10. Sono keling I

4. Bata Berplester
Bata berplester adalah bata yang dilapisi oleh plester yang terbuat dari semen. Semen yang mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras di dalam air disebut semen hidrolik. Yang tergolong semen hidrolik antara lain kapur hidrolik, semen pozolan, dan semen port land.
Proses pembuatan kapur hidrolik:
Proses pembakaran
CaCO3 CaO + CO2
Proses mematikan
CaO + H2O Ca(OH)2 + panas
Proses pengerasan
Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2O

Sifat :
Agar proses pengerasan dapat berlangsung sempurna diperlukan carbon dioksida yang cukup. Kapur hidrolik memiliki kekuatan yang rendah dengan berat jenis rata-rata 1000kg/m³.

Semen Pozolan adalah bahan pozolan yang bila dicampur dengan kapur padam (Ca (OH)2) dan air akan membentuk benda padat dan keras. Pozolan adalah bahan alami maupun buatan yang terdiri atas unsur silikat dan aluminat yang reaktif. Bahan yang tergolong sebagai pozolan antara lain semen merah, abu terbang, bubukan terak tanur tinggi. Zeolit atau batuan mendidih merupakan senyawa alumino silikat yang secara kimia dan fisik mempunyai kemampuan sebagai pozolan. Sifat semen pozolan antara lain sukar larut dalam air (wahyu wijarnako : httn://wahyu.com).

E. Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya Akibat Perubahan Iklim

Kerusakan adalah suatu proses perubahan bentuk yang terjadi pada suatu benda dimana jenis dan sifat-sifat fisik maupun kimiawinya masih tetap (disintegrasi).

Pelapukan adalah suatu proses penguraian dan perubahan dari bahan asli ke bahan lain dimana jenis dan sifat-sifat fisik dan kimiawi dari bahan tersebut sudah berubah (dekomposisi).

1. Gejala Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya
a) Gejala kerusakan :
Biasanya dapat dilihat secara visual/langsung (retak, patah, miring, pecah, bengkok dll)
b) Gejala pelapukan :
Pada tingkat awal belum nampak dan baru nampak pada tingkat menengah hingga lanjut, (diskomposisi, pembusukan, perubahan warna).

2. Faktor Penyebab Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya
Kerusakan dan pelapukan bisa disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal penyebab kerusakan dan pelapukan antara lain adalah:
– Kualitas dan jenis material
– Teknologi pembuatan struktur bangunan
– Sifat tanah sebagai dasar bangunan

Faktor internal penyebab kerusakan dan pelapukan antara lain adalah:
– Iklim
– Bencana alam
– Organisme

Beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan dan pelapukan material:
a) Kayu
– Air hujan
– Degradasi oleh pengaruh suhu dan kelembaban
– Degradasi cahaya
– Degradasi mikrobia

b) Batu
– Air hujan
– Pembentukan carbonat (HCO3)
– Oksidasi (2Fe2O3.3H2O)
– Hidrasi atau hidrolisis
– Suhu dan kelembaban udara, intensitas sinar matahari
– Angin

c) Bata
– Penggaraman
– Kelembaban relatif
– Kapilarisasi air (15.10 -6 /r meter)
– Suhu dan kelembaban udara, intensitas sinar matahari
– Angin (arah dan kecepatan)

3. Dampak perubahan iklim global terhadap kelestarian benda cagar budaya:
a) Meningkatnya kerusakan bangunan karena adanya perubahan daya dukung tanah, erosi, banjir, longsor, dan kapilarisasi air, yang disebabkan oleh meningkatnya runoff dan debit aliran air pada daerah basah (contoh Stasiun Tawang, Gedung Sobokarti Semarang).
b) Meningkatnya risiko kebakaran pada bangunan kayu.
c) Meningkatnya kerusakan fisis (retak, pecah, melengkung, degradasi warna) pada bangunan batu, bata, dan kayu karena fluktuasi suhu yang sangat besar dan intensitas penyinaran yang lebih tinggi (contoh Gereja Blendok Semarang).
d) Proses pelapukan kimiawi akan lebih cepat, karena banyaknya unsur terlarut, dan meningkatnya penguapan (misal pengelupasan, penggaraman dan degradasi struktur material).
e) Pertumbuhan mikroorganisme pada daerah basah akan meningkat, sedangkan pada daerah kering pertumbuhan mikroorganisme tertentu yang bisa bertahan hidup (golongan mikroorganisme thermofil). Serangan serangga pada bangunan kayu akan meningkat, seiring dengan tingkat kelembaban dan kekeringan yang tinggi

Waruga. Selain kerusakan faktor alam, pembongkaran/pencurian isi waruga, adalah salah satu penyebabnya.
Waruga. Selain kerusakan faktor alam, pembongkaran/pencurian isi waruga, adalah salah satu penyebabnya.


F. Konsep Penanganan Dampak Perubahan Iklim Terhadap Cagar Budaya

Untuk mengantisipasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap Cagar Budaya, maka diperlukan suatu konsep penanganan agar kerusakan yang terjadi akibat perubahan iklim tersebut bisa diminimalisasi. Selain itu konsep penanganan juga diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari Cagar Budaya yang telah terkena dampak perubahan iklim. Beberapa konsep tersebut adalah:
 Monitoring jenis kerusakan yang disebabkan oleh faktor iklim secara periodik;
 Mempersiapkan SDM yang paham tentang klimatologi;
 Untuk monitoring kondisi iklim setempat, perlu adanya sarana stasiun klimatologi di dekat/di sekitar Cagar Budaya baik rekayasa maupun minta bantuan BMKG atau monitoring melalui stasiun klimatologi terdekat (apabila menggunakan AWS akses lewat internet);
 Dalam pelaksanaan pemugaran agar dipikirkan adanya lapisan kedap air di dalam struktur bangunan untuk mencegah adanya air rembesan dan kapilarisasi air agar tidak memicu terjadinya hidrolisis dan meningkatnya kelembaban yang bisa berakibat terjadinya pelapukan kimiawi dan biologi;
 Mengurangi material Cagar Budaya dari sinar matahari secara langsung, dengan jalan membuat pertamanan yang rindang dan tidak menebang pohon perindang di sekitar Cagar Budaya;
 Menyempurnakan sistem drainase (menghitung debit maksimum berdasarkan intensitas curah hujan) di sekitar Cagar Budaya untuk mengurangi kapilarisasi air dan kelembaban. Untuk Cagar Budaya yang rawan longsor buat talut penahan yang kuat dan kurangi air yang masuk ke halaman atau kawasan situs Cagar Budaya;
 Dalam pemugaran, agar dipilih bahan pengganti yang berkualitas baik dan tahan terhadap pengaruh iklim;
 Bila terjadi rembesan dan kapilarasi air pada Cagar Budaya agar segera diatasi penyebabnya;
 Instalisasi listrik pada Cagar Budaya kayu agar disempurnakan untuk menghindari kebakaran;
 Bila terjadi rembesan air pada Cagar Budaya batu dan bata, sebelum rembesan tersebut teratasi sebaiknya air rembesan dibersihkan setiap 15 hari untuk menghindari adanya endapan garam;
 Cagar Budaya yang dekat pantai agar selalu dimonitor dan dilindungi/dibuatkan dinding pelindung dari kemungkinan kenaikan air laut dan terjadinya badai.


G. Penutup

Dampak dari perubahan iklim terhadap kehidupan manusia meliputi hampir seluruh aspek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perubahan iklim tersebut tidak dapat dicegah, namun bisa diperlamban. Cagar Budaya mengalami dampak yang serius akibat perubahan iklim global, terutama Cagar Budaya yang usianya sudah sangat tua dan berada dalam wilayah berisiko tinggi terhadap perubahan Iklim. Material Cagar Budaya yang sudah rapuh sangat rentan terhadap perubahan iklim yang terjadi. Apabila hal ini tidak segera ditanggulangi, maka dikhawatirkan Cagar Budaya tersebut akan rusak dan hilang di waktu mendatang.


H. Referensi

– Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

– Aris Munandar, Dampak Perubahan Iklim Global Terhadap Benda Cagar Budaya

– Nasrullah, Dampak Perubahan Iklim pada Aktivitas Pelestarian Cagar Budaya

– Syafrudin, Dampak Perubahan Iklim terhadap Lingkungan

– United Nations Development Programme – Indonesia, 2007. Sisi lain perubahan iklim – Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya. ISBN: 978-979-17069-0-2

– Meiviana, Armely, Diah R Sulistiowati, Moekti H Soejachmoen, 2004. Bumi Makin Panas – Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia. Kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup Bidang Pelestarian Lingkungan, Pelangi dan JICA.(*)


Dimuat dalam Jurnal Arkeologi 2011

iaaipusat.wordpress.com

(Visited 679 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *