Tren Warna Indonesia 2017: Wayang Nusantara

Foto Cover : Wayang Nusantara. (sci-pusat.blogspot.co.id)


Sulutpos.com, Manado – Trend warna Indonesia 2016 hingga artikel ini dimuat masih terus menjadi trending topik. Memasuki bulan ke-3 tahun 2016 ini, SCI i-color creation kembali memberikan prediksi tren warna Indonesia untuk Tahun 2017.

Prediksi Tren Warna Indonesia 2017 ini mengambil tema tentang “Wayang Nusantara”. Sesuai tema, maka kami akan memberikan inspirasi warna-warni yang terinspirasi dari keindahan warna-warni wayang tradisional dari bumi Nusantara – Indonesia yang sangat unik dan bernilai seni tinggi.

Apa itu Wayang?

Wayang merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang sendiri meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sasra, seni lukis, seni pahat dan juga seni perlambang.

Menurut penelitian ahli sejarah, sebetulnya budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia yang sudah ada jauh sebelum agama Hindu masuk ke pulau Jawa. Memang, cerita wayang yang populer saat ini merupakan adaptasi cerita dari karya sasra India, yaitu Ramayana dan Mahabrata. Tetapi sudah mengalami adaptasi untuk menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia.

Pengertian wayang sangat tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya. Kata wayang dapat diartikan secara luas, tetapi seringkali dibatasi dengan makna boneka, gambar, tiruan dari manusia, tokoh/pemain dalam suatu pertunjukan/sandiwara. Arti ini mirip dengan yang ada dalam Kamus Umum Bahasa Sunda, yaitu wayang adalah boneka atau penjelmaan dari manusia yang terbuat dari kulit atau pun kayu. Namun ada juga yang mengartikan bahwa perkataan wayang berasal dari bahasa Jawa, yang artinya perwajahan yang mengandung penerangan.

Berikut ini adalah warna-warni wayang nusantara yang diprediksi akan menjadi trend warna Indonesia di tahun 2017:

Tren Warna Indonesia 2017: Wayang Nusantara
Tren Warna Indonesia 2017. (sci-pusat.blogspot.co.id)

BROWN 

Tema warna ‘brown’ (coklat) ini diambil dari warna alami kayu yang dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan wayang golek; Wayang Golek adalah suatu seni tradisional sunda pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan, Daerah penyebarannya terbentang luas dari Cirebon di sebelah timur sampai wilayah Banten di sebelah barat, bahkan di daerah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat sering pula dipertunjukkan pergelaran Wayang Golek.

 

MATURE YELLOWS
Tema warna ‘mature yellows’ ini diambil dari warna kuning api yang seringkali menjadi warna dominan pada Wayang kulit Gunungan (pada gambar hanya ditampilkan bagian belakangnya saja); Dalam wayang kulit Gunungan terdapat filosofi tentang air, api, angin dan tanah. Wayang kulit Gunungan mewakili lima unsur alam, yaitu tanah, air, api, angin dan ruang. Semua benda di alam ini merupakan kombinasi dari kelima unsur tersebut. Pada saat pertunjukan pagelaran wayang, sebelumnya hanya ada layar putih saja dengan Gunungan yang berada di tengah-tengahnya. Setelah Gunungan dimainkan dan kelima unsur tersebut membentuk alam, maka dimulailah cerita kehidupan di alam ini.

 

GOLDENRODS

Tema warna ‘goldenrods’ ini merupakan warna campuran dari kuning-coklat-emas, dimana ketiga warna tersebut sangat mendominasi pada warna wayang kulit; Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata ‘Ma Hyang’ yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna ‘bayangan’, hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja.

Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. (*)

(Visited 462 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *