Sejarah Perang Minahasa — Spanyol 1651-1664 (Bagian I)

Foto Cover : Leluhur Orang Minahasa: Toar, Lumimu’ut, dan Karema. (Ilustrasi)


Oleh: Albert WS Kusen

Introduksi

Pembentukan ilmu-ilmu sosial dan institusi-institusinya terjadi dan berkembang di Asia dan Afrika pada mulanya dilakukan oleh sarjana-sarjana dan pemegang kekuasaan di masa penjajahan sejak abad ke 18, dan juga oleh orang Eropa lainnya secara langsung maupun tidak langsung. Tinjauan atas persoalan ketidaktepatan pada tataran filosofis, teoritik, empiris, dan terapan merupakan konsekuensi dari pertemuan antara teori dan cara Barat di satu pihak dengan kenyataan setempat (nasional maupun regional/lokal) di pihak lain (Alatas 2003:3) dalam Kusen (2007).

Sebagaimana kiprah ilmu-ilmu sosial (antropologi) dan ilmu humaniora sejarah yang menggarap asal-usul leluhur suatu etnik maupun kisah heroik perjuangan yang disinggung dalam ‘etnografinya’ (mitologis-historis) sejak abad ke 18 cenderung didominasi oleh penulis asing (Graflaand, Schwarz, Riedel, Palm, etc.) yang sudah sejak lama dijadikan referensi atau sumber data penulis-penulis lokal ketika mereka mewacanakan (tulisan-lisan) sejarah dan kebudayaan tentang Minahasa. Seakan-akan kalau tidak merujuk dari kepustaan atau penulisan asing tersebut, bobot akademik dari suatu karya etnografi atau pun sejarah yang dimaksud dianggap hanya karangan yang tidak berbotot. Sebagaimana sejarah tentang perlawanan orang Minahasa dalam perang dengan bangsa asing Spanyol (kolonial).

Bahwa mengandalkan penulis dan sumber-sumber lokal juga tidak kalah bobot akademiknya, meskipun hanya mengacu melalui tutur lisan berdasarkan pengalaman yang dikomunikasikan dari mulut ke mulut. Apalagi para penulis lokal yang memiliki kapasitas akademik sebagai ilmuwan yang berkompeten. Dalam komunitas antropologi penulis lokal yang menggarap suatu penelitian di daerahnya sendiri, disebut nativeanthropologist (ahli antropologi pribumi). Sama halnya dengan sejarawan lokal (native-historian). Dapat dikatakan, selain penguasaan teori berdasarkan latar belakang kompetensi keilmuannya (antropologi atau sejarah), tetapi juga pengalaman hidupnya di daerahnya sendiri, merupakan kelebihannya, kelimbang hanya mengandalkan sumber penulis asing yang hanya mengandalkan sumber-sumber dokumen laporan pemerintahan kolonial ketika mereka berkuasa (Lihat LeVine 1981).

Meskipun demikian, sebagaimana kekuatan dan/atau kelemahan ilmiah ilmu-ilmu sosial, tentu memiliki keterbatasan untuk mendapatkan hasil studi dan penelitian yang benar-benar akurat (objektif), terlebih hanya mengandalkan parameter ilmiah kuantitatif (positivist), tanpa didukung oleh parameter kualitatif (naturalistik) yang menekankan pada analisis pemahaman makna secara interaksi simbolik (Geertz 1973; Keesing 1986; d’Andrade 1981; Spradley 1972).

Catatan ini coba mengungkapkan kembali kedatangan bangsa Spanyol di Tanah Minahasa. Secara historis tujuan dan/atau alasan penulisan berkenaan dengan timbulnya perlawanan Orang Minahasa (OM) terhadap bangsa pendatang atau asing. Salah satunya bangsa Spanyol ketika berhadapan dengan penduduk asli OM, beberapa kali terjadinya perang, pada akhirnya dimenangkan oleh Waraney-waraney Minahasa. Sehubungan dengan ini, maka sejarah sebagai sumber inspirasi, penting untuk ungkapkan, mengingat selama ini di kalangan OM pada umumnya cenderung hanya mengetahui kisah heroik melawan kompani Belanda yang dikenal dengan Perang Tondano (1809), dan/atau perang dalam kancah pergolakan permesta (1957-1961), ketimbang kisah perang lainnya seperti Peristiwa Perang Minahasa –Spanyol (1651-1664).

Kisah heroik Orang Minahasa Menaklukkan Kolonial Spanyol

Kisah ini terjadi seputar tahun 1651 – 1664, ketika orang Minahasa (OM) menghadapi musuh bersama, yakni Spanyol (dikenal orang Kastela) yang berusaha untuk menjadikan tanah Minahasa sebagai daerah koloni alias daerah jajahan. Berdasarkan catatan sejarah, perang yang berlangsung selama satu dekade lebih, berdasarkan data historis dan diakui oleh nara sumber yang berkompeten, dimenangkan oleh para Waranei-waraney Minahasa (pasukan adat/milisi), di mana orang-orang Kastela (Spanyol) tersebut berhasil dipukul mundur dan lari ke Filipina.

Peristiwa OM melawan Spanyol pernah dikomentari oleh Pastor J. Van Passen (dosen filsafat ST Filsafat Pineleng Minahasa), dikatakan “terjadinya perlawanan orang Minahasa terhadap pasukan Spanyol, karena adanya golongan Mestizos yang telah menjadi ‘provokator’ mengobarkan perang mengusir Spanyol dari Minahasa di tahun 1664 tersebut. Golongan Mestizos adalah orang Minahasa keturunan Portugis-Spanyol (lihat Wenas 2000:45; Sinolungan 2002; Supit 2004:163; Kusen 2007).

Demikian juga isu kekalahan Spanyol pernah dikemukakan oleh Ketua Umum Komunitas Sejarah Indonesia (KSI)/Ketua Badan Sensor Film Indonesia (BSF) Dr. Muklis Paeni pada acara Temu Guru-Guru Sejarah se-Sulawesi Utara pada tahun 2010 lalu dihadapan ahli-ahli sejarah nasional, salah satunya adalah Prof.Dr AB Lapian, dikatakan “salah satu suku di Asia yang pernah mengalahkan bangsa Spanyol adalah suku Minahasa”.

Latar Belakang Terjadinya Perang

Singkatnya, pada tahun 1615 Raja Manado – Babontehu (lihat Watuseke 1962) mengundang Panglima Lucas De Vergara untuk berkunjung ke Manado. Yang diutus adalah dua orang Pater bernama Sciallamonte dan Cosmas Pintto. Seperti juga bangsa Portugis yang lebih awal mengunjungi tanah Minahasa (TM), demikian juga bangsa Spanyol, tujuan utamanya adalah menyebarkan agama Kristen-Katolik, dan dibarengi dengan tujuan perdagangan, mengingat hasil bumi di TM kaya dengan rempah-rempah yang akan dijadikan komoditas perdagangan.

Sejarah Perang Minahasa -- Spanyol 1651-1664 (Bagian I)
Foto: by jamga/Art of Gary Jamroz-Palma.

Mengingat, kedatangan orang-orang Kastela ini relatif lama akan tinggal di TM, maka pada tahun 1617 dibangunlah sebuah benteng didekat sungai Manarow (Manado) sebagai tempat pemukiman, penampungan bahan-bahan perdagangan sekaligus dijadikan sebagai benteng pertahanan dari ancaman musuh baik dari pihak sesama bangsa kulit putih (Portugis, Inggris dan Belanda) maupun dari pihak pribumi OM. Dan pada tahun 1619, penghuni orang Kastela di benteng tersebut bertambah sehubungan dengan kedatangan orang-orang Kastela yang lari dari Filipina menyelamatkan diri dari kancah peperangan di sana.

Berdasarkan data kepustakaan (lihat Henley 1996:31) dalam Gosal (2010) pemerintah kerajaan Spanyol semakin tertarik untuk menancapkan kuku kolonialismenya di Minahasa, karena tertarik dengan jenis makanan pokok OM , yaitu kebiasaan OM Tondanouw memakan nasi dari tanaman padi atau gabah. Sejak saat itu, mulai diadakan hubungan perdagangan dengan pemimpin adat setempat (Ukung Oki). Berdasarkan hasil musyawarah dengan tetuah adat lainnya, diperkenankanlah untuk mengadakan kegiatan pembelian hasil bumi.

Merasa kegiatan berdagang dengan pribumi OM secara signifikan menguntungkan pihak Spanyol, maka pada tahun 1623 Raja Spanyol memerintahkan untuk membuat kapal niaga yang bernotasi besar untuk mengangkut komoditas hasil bumi dari tanah Minahasa. Maka sejak benteng di Manado direhap sedemikian rupa menjadi lebih besar yang dilengkapi dengan senjata meriam berkaliber lebih besar (9 mm), maka hal ini mempengaruhi posisi Spanyol semakin lebih kuat. Sementara bangsa asing lain seperti Portugis semakin melemah yang pada akhirnya meninggalkan TM (Catatan: beberapa orang Portugis yang sudah menetap di pelosok Minahasa dan mungkin sudah kawin mawin ada yang tetap bermukim berbaur dengan OM).

Perang Pertama (1651). Oleh karena merasa kehadiran Spanyol di TM semakin mendominasi, maka mulailah muncul ekses konflik dengan OM, terutama perlakuan oknum-oknum militernya yang dinilai oleh tetuah adat Minahasa sudah melanggar kesepakatan, seperti melakukan pemaksaan, perampasan/perampokkan hasil pertanian penduduk setempat bahkan ditunjukkan dengan kelakua biadab seperti penganiayaan dan pemerkosaan terhadap perempuan (wewene) Minahasa.

Dan yang paling dianggap penghinaan terhadap jati diri OM adalah pihak Spanyol mewajibkan kepada OM harus membayar upeti alias pajak kepada mereka. Akibatnya, marahlah OM yang diwakili oleh para Ukung untuk segera melakukan konsolidasi umum untuK melawan perlakuan biadab bangsa Spanyol tersebut. Diperintahkan kepada semua laki-laki dan perempuan mengangkat senjata memerangi orang-orang Kastela tersebut. Seperti dikemukakan bahwa perang pertama ini dengan gemilang berhasil dimenangkan oleh waraney-wulan Minahasa. Beberapa perwira militer Spanyol yang dibunuh, kepala mereka di pajang dipinggir pantai sampai menjadi tengkorak (Catatan: bagi OM ini adalah simbol kemenangan perang). Sepeninggalan Spanyol, mulai saat itu OM sudah mengenal senjata api dan menggunakan meriam. (Bersambung)

(Visited 1.939 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *