Sejarah Perang Minahasa — Spanyol 1651-1664 (Bagian II)

Foto Cover : Ilustrasi

Sa’ a Tou, e Mendo endo Tou : Apabila merasa diri manusia, maka berperilakulah sebagai manusia. (Sastra Tua Minahasa/Malesung)


Perang Kedua (1654). Kedatangan Spanyol ke tanah Minahasa, disambut oleh para Ukung setempat, dengan syarat agar apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang Spanyol waktu lalu tidak diulang kembali. Tapi, ternyata bangsa kastela ini tidak jera atas kekalahan yang pernah diderita pada tahun 1651. Kali ini yang memimpin Spanyol ke TM adalah Bartolomeo De Soisa langsung menduduki kampong Uwuran Amurang, dengan maksud untuk menguasai kembali produksi beras dan hasil bumi lainnya, terutama dari Tondanouw dan Pontak (lihat Supit 1986:31).

Singkatnya, pada perang kedua ini, OM sama sekali tetap pada pendirian yakni tidak pernah kompromi dengan kelakuan biadab Spanyol terhadap penduduk setempat (rampok dan perkosaan). Dan pada tahun 1654 diadakanlah musyawarah di bukit Tindurukan Pinawetengan dengan menghasilkan keputusan untuk meminta bantuan kepada bangsa Belanda yang berada di Ternate. Utusan OM ke Ternate (wilayah kekuasaan Belanda) adalah Ukung Lonto, Ukung Supit dan Ukung Ranti yang dikawal oleh sejumlah waraney (pasukan adat/milisi). Akan tetapi, armada Belanda yang dipimpin oleh Paulus Andriessen mengalami kekalahan di laut dari armada Spanyol ketika sedang menuju TM. Akibatnya superioritas Spanyol terhadap OM semakin mendominasi.

Hal ini mendorong pihak Belanda untuk membantu pasukan waraney-waraney Minahasa, dengan perjanjian apabila bangsa Spanyol dikalahkan dan keluar dari TM, maka OM melalui para pemimpinnya untuk mengijinkan Belanda mendirikan benteng di Manado. Atas persetujuan Gubernur Belanda Jacob Hustaard di Ternate yang diserah terimakan kepada Simon Cos untuk memimpin pasukan Belanda masuk di pelabuhan Manado, kemudian mendirikan benteng yang dikenal dengan nama “De Netherlandsche Vastigheit”.

Pendirian benteng tersebut mendapak reaksi keras dari Spanyol karena menganggap pihak Belanda telah melanggar perjanjian Munster (1648), berakhirnya perang Spanyol-Belanda. Tapi, pihak Belanda bergeming, bahkan menambah kekuatan militer yang didatangkan dari Batavia diangkut oleh kapal Moluco dan Diamant, tiba di manado dan langsung memberi ultimatum kepada pasukan Spanyol agar segera meninggalkan tanah Minahasa.

Perang Lintas Walak Minahasa dengan Pasukan Spanyol (1661-1664). Meskipun, orang-orang Kastela ini telah keluar dari Manado, namun di daerah-daerah tertentu lolos dari pengawasan kompani Belanda yang sudah menduduki Manado dan sekitarnya. Seperti kemunculan pasukan Spanyol di Kema, Tomohon, Tondano, Tonsea dan Amurang yang dijadikan markas. Perangai biadab kembali dipertotonkan, seperti biasa yakni merampok hasil bumi, dan aksi kekerasan maupun pemerkosaan terhadap perempuan Minahasa.

Perlamanan Walak Tomohon. Sebagaimana juga yang terjadi di kawasan Tombulu/Tomohon. Sebagai reaksi OM atas perlakuan biadab bangsa Spanyol ini, penduduk Tomohon yang dipimpin oleh Ukung-Ukung setempat melakukan aksi perlawanan, dan pecahlah perang dahsyat dengan Spanyol dan berhasil memukul mundur keluar dari kawasan wilayah adat Walak Tombulu. Tapi, pasukan Spanyol berhasil menculik putri Ukung Tombulu yang bernama Tendenuata. Menyadari bahwa putrinya sudah diculik, segera ia memerintahkan waraney-waraney Tombulu untuk mengejar pasukan Spanyol terutama untuk mendapatkan kembali putrid kesayangannya. Hasil pengejaran berhasil membunuh beberapa perwira Spanyol dan mendapatkan kembali putri Ukung Tombulu dengan selamat.

Perlawanan Walak Toulour. Spanyol yang berhasil masuk ke wilayah adat Walak Toulour dibuat murkah atas sikap Ukung setempat yang bernama Mononimbar. Terutama tidak mau menuruti perintah untuk mengumpul hasil tanaman padi dan diberikan kepada Spanyol, meskipun sudah dibayar. Melalui strategi licik orang-orang Kastela tersebut, yakni salah seorang bernama Pedro Alkasas berhasil memperdayai Mononimbar melalui minuman keras (whisky). Dalam keadaan mabuk Mononimbar ditangkap dan diikat pada sebatang pohon hingga tewas. Mendengar pemimpin walaknya sudah tewas, bangkitlah kemarahan orang-orang Tondano, kemudian dengan semangat berani mati, diperangilah orang-orang Kastela ini. Daya tempur dari pihak waraney Tondano yang cukup mematikan, berhasil membuat pasukan Spanyol mundur dan lari ke kawasan pantai timur Minahasa (Tondano Pante). Sejak saat itu, Spanyol kapok kembali ke Tondano.

Perlawanan Walak Tonsea. Pasca kekalahan dari walak Tondano, ternyata pasukan Spanyol tetap bersikeras untuk menguasai Minahasa bagian utara, yakni walak Tonsea. Tepatnya di kawasan Sawangan. Bersama dengan pasukan dari Tidore berhasil membunuh seorang Walian yang sedang mengadakan upacara – ritual Poso. Beberapa perempuan berhasil ditangkap dan dijadikan budak. Kemudian bersama dengan pasukan Bolaang Mongondouw dan ditambah dengan pasukan Tidore pasukan Spanyol mememerangi walak Tonsea di pantai Kaburukan. Tapi, waraney-waraney Tonsea tidak gentar menghadapi jumlah pasukan Spanyol dalam jumlah yang banyak. Beberapa Teterusan (panglima perang), antara lain Rumopa Porong, Wenas, Dumanau, Lengkong, dan Wahani yang menjadi pemimpin perang, berhasil menghancurkan pasukan Spanyol. Dengan kata lain, pasukan Spanyol dan sekutunya mengalami kekalahan, dan dengan sisa-sisa pasukan yang masih hidup lari meninggalkan pantai Kaburukan.

Perlawanan Walak-Walak Tonsawang, Tombasian dan Temboan di Amurang. Oleh karena jarak antara Filipina dan Minahasa relative dekat, maka pihak pasukan Spanyol yang sudah berkali-kali mengalami kekalahan dengan waraney-waraney Minahasa, tidak pernah surut nafsu kolonialismenya untuk kembali ke Tanah malesung Minahasa. Tepatnya, pada tahun 1664 mereka kembali berlabuh di Amurang lengkap dengan jumlah pasukan yang lebih banyak. Seperti tujuan semula, adalah untuk menguasai perdagangan hasil bumi dengan Minahasa, khususnya dari Pontak dan Tonsawang.

Bagi orang Spanyol yang merasa sebagai perintis peradaban melalui misi keagamaan (Katolik), ternyata masih menunjukkan perangai kebiadaban terhadap kaum pribumi Minahasa. Kali ini waraney-waraney Minahasa yang dipimpin oleh panglima-panglima perang yang tangguh (Teterusan), antara lain Ukung Oki dan suaminya Londe, Lelengboto, Pongulu, Koba, Mororongan, Gandey, Pondolos, Ratumbanua, Karema Urei,. Otombuat, dan Tenden Wulan. Dan Teterusanteterusan dari Tombasian dan Temboan adalah Rumokoy, Worotikan, Tumiwa, Raranta, Mamarimbing, Sangian + Wawu Kineke, Kendang Wulan, dan Lingkan Wene.

Dalam pertempuran melawan pasukan Spanyol, berlangsung sampai tahun 1665, diperkirakan puluhan pasukan/perwira ditawan dan ratusan terbunuh, sisanya (termasuk beberapa Pastor) melarikan diri bersama armada laut yang dinakhodai oleh Bartholomeo de Sousa, menuju Filipina.

Refleksi

Apa yang dikemukakan oleh Ketua Umum Komunitas Sejarah Indonesia (KSI) Dr. Muklis Paeni, bahwa salah satu suku bangsa di Asia yang secara historis mampu mengalahkan pasukan Spanyol (salah satu bangsa/negara adidaya pada waktu itu) adalah Minahasa, bukanlah cerita omong kosong. Tetapi, secara akademik (history) dapat dipertanggung jawabkan.

Nah, sebagaimana fungsi dari ilmu sejarah, salah satunya adalah sebagai sumber inspirasi, maka kisah heroik perlawanan Orang Minahasa terhadap Spanyol merupakan simbol kebanggaan tersendiri atas apa yang pernah dilakukan oleh leluhur Minahasa bahwa Spanyol yang dikenal sebagai salah satu kampiun bangsa kolonial pada waktu itu, ternyata mengalami pengalaman yang pahit, karena kehadiran bangsa ini di tanah Minahasa, tidak diberi kesempatan untuk memperpanjang waktu kolonialismenya sebagaimana yang dilakukan oleh kolonial Belanda di di nusantara maupun di dunia. Dengan kata lain, kolonialisme Spanyol di Tanah Minahasa hanyalah mitos.

Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi, Manado – Sulawesi Utara.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Gosal, Paulus A dan C.H Gosal (2010) Melawan Bangsa Spanyol. Dalam Tou-Minahasa: Dari Utara Sampai Malesung. Pemda Minahasa Induk.
  2. Henley, David E.F (1996) Nasionalisme dan Regionalisme dalam Konteks Kolonialisasi Minahasa di Hindia Belanda Bagian Timur. Terjemahan. KITLV Press Leiden.
  3. Kusen, Albert WS (2007) Antropologi Minahasa: Identitas & Revitalisasi. Buku Teks. Belum Diterbitkan.
  4. Watuseke, Frans S (1968) Sejarah Minahasa. Manado: Yayasan Penerbitan Merdeka.
  5. Wenas, Jessy (2007) Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Jakarta: Institut Seni Budaya Minahasa.
(Visited 1.711 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *