Pemerintah Desak DPR Percepat Pengesahan Revisi RUU Terorisme

Foto Cover: Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla saat melihat langsung lokasi bom bunuh diri di terminal kampung melayu Jakarta Timur kamis 27 Mei 2017 (foto: Biro Pers Kepresidenan)

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, polisi perlu payung hukum untuk menindak tegas pelaku dan jaringan teroris, khususnya untuk pencegahan sebelum terjadinya aksi teror.


Sulutpos.com, Jakarta – Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly meminta DPR segera merevisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UU Terorisme). Menurut Yasonna di Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jakarta Timur Minggu (28/5), hal ini berkaca pada adanya aksi teror bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.

Pemerintah Desak DPR Percepat Pengesahan Revisi RUU Terorisme

“Saya berharap teman-teman di DPR segera menyelesaikan bersama pemerintah rencana revisi undang-undang terorisme. Ini rencana revisi undang-undang terorisme sudah lama sekali, belum dapat kita selesaikan,” ujar Menkum HAM Yasonna Laoly.

Untuk itu Yasonna meminta DPR untuk bisa menyelesaikan revisi undang-undang terorisme agar tidak ada korban ledakan bom yang dilakukan teroris. Apalagi, polisi perlu payung hukum untuk menindak tegas pelaku dan jaringan teroris.

“Sebelum jatuh korban lagi, supaya kepolisian bisa mengambil langkah antisipatif. Karena ada payung hukum undang-undang maka mau tidak mau kita harus percepat. Karena itu, saya dorong teman di DPR bersama untuk mempercepat rencana revisi undang-undang terorisme,” imbuh Menkum HAM Yasonna Laoly.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo saat melihat langsung lokasi bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu Jakarta Timur menegaskan Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) harus mempercepat penuntasan pembahasan Rancangan Undang-Undang Terorisme (RUU Terorisme), dan segera mengesahkannya.

“Dan kalau kita lihat negara-negara yang lain memiliki undang-undang memiliki regulasi yang memudahkan aparat untuk menyelesaikan sebelumnya. Artinya pencegahan. Oleh sebab itu kita ingin Pemerintah dan DPR segera menyelesaikan Undang-Undang Anti Terorisme. Sehingga akan memudahkan aparat penegak hukum agar memiliki landasan yang kuat dalam bertindak. Dan lebih mampu melakukan upaya pencegahan sebelum kejadian itu terjadi. Ini yang paling penting,” ujar Presiden Joko Widodo.

Kepolisian Temukan keterlibatan ISIS

Dalam kesempatan terpisah Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto melihat ada hubungan keterkaitan kelompok teroris internasional Negara Islam Irak – Suriah (ISIS) dalam ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu.

“Ada kemungkinan mengarahnya ke ISIS ya. Ada hubungan ya. Kita masih dalami karena ini jaringan internasional. Teror global itu mereka ada hubungannya ke ISIS,” ujar Irjen Setwo Wasisto.

Setyo menambahkan ada kemiripan bom yang diledakan di Kampung Melayu, Jakarta Timur dengan bom panci di Cicendo Kota Bandung akhir Februari 2017. Pada kedua peristiwa itu, pelaku sama-sama menggunakan panci sebagai wadah bom dan gotri sebagai penambah daya ledak.

“Ini termasuk lebih sempurna dari yang kemarin ditemukan tidak jadi meledak,” imbuh Irjen Setyo Wasisto.

Rabu malam (24/5) dua ledakan bom mengguncang Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, hingga menewaskan 5 orang, di antaranya tiga anggota polisi dan dua terduga pelaku bom bunuh diri. Sementara korban luka sebanyak 5 warga sipil dan 5 anggota polisi.

Sebelumnya serangan bom menyerang beberapa kota di belahan dunia. Seperti teror bom di konser penyanyi Ariana Grande di Manchester Arena Inggris. Kemudian teror serangan bersenjata kelompok militan simpatisan ISIS juga menyerang negara tetangga di Kota Marawi Filipina. [al/em]

Andylala Waluyo

VOA News

(Visited 93 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *