Buka Konferensi dan Pertemuan Raya Kaum Bapa Katolik, Uskup Suwatan Ingatkan tentang ‘Perubahan Iklim’

Foto: Mgr. Joseph Theodorus Suwatan M.S.C, memimpin Misa saat pembukaan Konferensi ke-VI dan Pertemuan Raya Kaum Bapa Katolik se Keuskupan Manado, di Mangaran, Kabupaten Kepulauan Talaud 25 Juni 2017.


Sulutpos.com, Mangaran – Kita harus peduli terhadap dunia di sekitar kita dan mempertimbangkan sifat setiap makhluk dan hubungan satu sama lain dalam suatu sistem yang tertata. Dalam Khotbanya usai memimpin Misa, Uskup Manado kembali mengingatkan tentang pentingnya kesadaran manusia terhadap lingkungan/alam, dimana perubahan iklim akan berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri.

Sebagian peserta Pertemuan Raya KBK
Sebagian peserta Pertemuan Raya KBK

Dihadapan ribuan peserta konferensi, Uskup mengajak  seluruh umat untuk dapat lebih memperhatikan faktor –  faktor penyebab kerusakan lingkungan sekaligus menjadi pelaku aktif dalam pelestariannya, ” Cinta Kasih akan membawa damai, kepada sesama manusia dan terhadap alam sekitar kita,” ujar Uskup Suwatan. (nv)

Enseklik Laudato si’ dan pernyataan beberapa Paus

Paus Fransiskus dalam enseklik yang dikeluarkan pada tanggal 24 Mei 2015, (Ensiklik Laudato si’ merupakan ensiklik kedua yang dibuat Paus Fransiskus setelah Lumen fidei (Terang Iman), dirilis tahun 2013/enseklik pertama)

Dalam nyanyian yang indah ini, Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama bagaikan saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menopang dan mengasuh kami, dan menumbuhkan berbagai buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rerumputan”

Paus Paulus VI; “Karena eksploitasi alam yang sembarangan, manusia mengambil risiko merusak alam dan pada gilirannya menjadi korban degradasi ini”

Paus St. Yohanes Paulus II; menyerukan pertobatan ekologis global. Penghancuran lingkungan manusia merupakan perkara sangat berat, bukan hanya karena Allah telah mempercayakan dunia kepada manusia, tetapi karena hidup manusia itu sendiri merupakan hadiah yang harus dilindungi dari berbagai bentuk degradasi. Setiap upaya untuk melindungi dan memperbaiki dunia kita memerlukan perubahan besar dalam “gaya hidup, dalam pola produksi dan konsumsi, begitu juga dalam sistem maupun struktur pemerintahan yang sudah baku, yang sekarang ini menguasai masyarakat.

Benediktus XVI; “kerusakan alam sangat terkait dengan budaya yang membentuk koeksistensi manusia”. Lingkungan alam  telah rusak parah oleh perilaku kita yang tidak bertanggung jawab. Lingkungan sosial juga mengalami kerusakan.  Keduanya pada dasarnya disebabkan oleh kejahatan yang sama: gagasan bahwa tidak ada kebenaran yang tak terbantahkan untuk menuntun hidup kita, dan bahwa karena itu kebebasan manusia tak terbatas. Kita telah melupakan bahwa “manusia bukan hanya kebebasan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Dia adalah roh dan kehendak, tetapi juga alam.

Paus Fransiskus; Gerakan ekologi di seluruh dunia telah membuat kemajuan besar dan berhasil membentuk berbagai organisasi yang berkomitmen meningkatkan kesadaran terhadap tantangan-tantangan ini. Sayangnya, banyak upaya untuk mencari solusi konkret atas krisis lingkungan mengalami kegagalan, tidak hanya karena perlawanan dari mereka yang kuat, tetapi juga karena kurangnya minat dari yang lain. Sikap menghalangi, bahkan dari orang-orang beriman, dapat berbentuk penyangkalan masalah sampai dengan ketidakpedulian, pasrah secara acuh tak acuh, atau kepercayaan buta terhadap solusi teknis. Kita membutuhkan solidaritas baru dan universal.

(Visited 557 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *