Bantah Keluhan Warganya, Lurah Lahendong Dinilai ‘Berbohong’

Foto: Lokasi persawahan tepat berada dipinggiran danau Linouw.


Sulutpos.com, Tomohon – Polemik antara Warga Kelurahan Lahendong, kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon dengan Lurah Lahendong terus berlanjut.

Lurah Lahendong, Selvy Datu, ketika dikonfirmasi oleh SulutPos.com, kamis (6/7),  terkait pemberitaan sebelumnya (Keluhkan Kinerja Oknum Lurah, Perwakilan Warga Lahendong buat Petisi Pergantian Lurah), membantah hal itu. Namun demikian, ia tidak menampik adanya bantuan-bantuan di kelurahan yang dipimpinnya.

DSCF6250
Lurah Lahendong, Selvy Datu

Hanya saja, menurut Datu, misalkan bantuan itu dari dinas pertanian, bantuan itu langsung ke kelompok (tani), dirinya hanya mendapatkan pemberitahuan saja, ” Kalau dari Pemkot (Tomohon), bantuannya melalui dinas-dinas terkait, kalau dari PU kan langsung dikerjakan oleh dinas PU,” ujarnya.

Sementara untuk sosialisasi, lanjut Datu, setiap ada acara seperti, kedukaan itu disampaikan. Termasuk di Gereja, atau acara lainya di kelurahan. Bisa saja ada yang tidak tahu, karena mereka itu tidak sempat ke gereja, atau tidak hadir waktu ada kedukaan.

“Jadi mengenai bantuan-bantuan itu, pasti kan bukan dalam bentuk tunai, tapi dalam bentuk material. Sepanjang saya jadi Lurah, tidak pernah menerima bantuan dalam bentuk tunai,” Kata Datu.

Ditambahkannya, bahwa setiap dua minggu sekali ada rapat perangkat kelurahan. Tugas perangkat yang menyampaikan kepada masyarakat.

Danau Linouw (2)
Danau Linouw dilihat dari pinggiran persawahan.

“Saya juga hanya bawahan, apa yang disampaikan oleh atasan saya, itu yang akan saya sampaikan,…kadang disampaikan lewat rapat perangkat, nanti jika ada sesuatu yang perlu dibicarakan, bisa dirapatkan di lingkungan-lingkungan dalam kelurahan,” katanya sembari menekankan bahwa bantuan PT Pertamina Geothermal bukan dalam bentuk dana tunai melainkan dalam Material (bahan bangunan).

“Bahan (Material) dari Pertamina, tapi di kerjakan oleh warga Lahendong. Material itu di pasok oleh toko bangunan, saya hanya terima bahan,” terang Datu sambil menganjurkan untuk mengklarifikasi hal ini ke pihak Pertamina.

Warga Lahendong serahkan Petisi kepada Walikota Tomohon

Dalam wawancara dengan media ini, Tokoh masyarakat Lahendong Laurens ‘Fenn’ Mende, yang didampingi oleh Alex Killis, usai menyerahkan Petisi kepada Walikota Tomohon (6/7/2017), menanggapinya dengan mengatakan” Lurah Lahendong berbohong”

Menurut mereka, penjelasan Lurah tidak sesuai dengan fakta ataupun kenyataan yang sebenarnya. Terlebih dengan apa yang dialami langsung oleh para petani yang seharusnya mendapatkan bantuan dari PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), sebagai kompensasi akibat lahan sawah yang terkena Limbah PT PGE pada tahun 2013.

Tanah Putih, Lahendong
Tanah Putih/sulfur aktiv, Lahendong.

Dikatakan, bahwa bantuan dari Pertamina diterima langsung oleh Lurah Lahendong, tapi tidak pernah diteruskan kepada para petani/pemilik lahan sawah, “Belum lagi soal Inventarisasi Tanah Putih milik kelurahan, tidak jelas, ada beberapa lokasi lahan milik Kelurahan sudah beralih fungsi ke pada pihak lain tanpa diketahui masyarakat kelurahan lahendong status kepemilikannya, apakah disewakan atau sudah dijual, kami tidak pernah diberitahu,” papar Mende.

Terpisah, Marten Wondal, pemilik lahan sawah, menyesalkan tidak adanya perhatian pemerintah atas nasib mereka. Wondal mengeluhkan kebijakan pemerintah setempat yang tidak berpihak pada petani, “Bantuan hanya sekali, itupun dari dinas pertanian pemkot Tomohon, dari Pertamina tidak pernah sampai kepada kami,” keluh Wondal.

Marten Wondal diwawancarai wartawan SulutPos.com
Marten Wondal (topi merah) diwawancarai wartawan SulutPos.com di lokasi persawahan Kelurahan Lahendong, (6/7/2017).

Ada beberapa pemilik lahan, lanjut Wondal, dengan kondisi seperti ini, telah menjual lahan pertanian mereka kepada pengembang wisata dengan harga murah. Ia pun mengaku sudah pernah ditawari untuk menjual lahan sawah miliknya. Hanya saja harganya tidak sebanding dengan nilai ekonomis lahan tersebut.

Berikut Bantuan dari PT PGE kepada petani;

  • 10 ton pupuk
  • 7 ekor sapi
  • 13 karung bibit padi
  • 1 unit traktor tangan
  • 2 unit Sprayer
  • 10 karung pestisida
  • Rp. 100.000.000 pembutan/rehab bendungan

Untuk diketahui, lahan persawahan masyarakat Lahendong dan Tanah Putih/tanah adat, berada dalam lokasi objek wisata Danau Linouw. Memang sangat strategis bagi para pengembang usaha, khususnya sektor wisata. Begitu juga dengan potensi energi yang dihasilkan, yaitu Gas Alam karena kandungan sulfur yang tinggi. (Maxi Rompas/nv)

(Visited 2.143 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *