Minahasa: Sejarah Perjalanan Malesung hingga Peristiwa Ma’wetik (I)

Foto: Toar, Lumimu’ut, dan Karema (Novy/ilustrasi)

Niakumo Si Ma’we’-na’as e, yah wiamoangkaya’an. Yah werenan-ku an tana’, aleme’ loyot kampe. Si Suatan mahra’ar sumena-sena. Ta’an ka’si’i umpele-peleng rima’i-za’i. (Artinya: Saya ini si pemberi akal budi pikiran, dan saya sudah ada. Saya lihat permukaan tanah, masih sangat lembut (akibat air bah). Bersamaan dengan panas matahari yang bersinar terang. Tetapi semuanya itu sangatlah menyenangkan) — Zazanian ni Karema; bait 2. Sastra tua Minahasa — Nyanyian Dewi Karema.


SulutPos.com, Manado – Sulawesi Utara, wilayah ini saat jaman es hampir menutupi dunia pada masa plestosin, jutaan tahun yang lalu, adalah bagian daratan pulau Sulawesi yang terhubung dengan daratan Filipina, Taiwan bahkan daratan Asia.

The Indonesian region as it is now (left), and as it was during the last glacial period when the Sunda Shelf was exposed (right). Credit: Pedro DiNezio, University of Hawaii
The Indonesian region as it is now (left), and as it was during the last glacial period when the Sunda Shelf was exposed (right). Credit: Pedro DiNezio, University of Hawaii

Setelah jaman es berakhir, dengan naiknya permukaan air laut, menenggelamkan dataran rendah, sehingga Sulawesi Utara kemudian menjadi daratan yang membentuk jazirah Pulau Sulawesi dan kepulauan di bagian Utaranya, terpisah dengan Filipina sekarang, dan secara umum jalur lintas darat bagi makhluk hidup dari Asia ke Sulawesi terputus.

Zaman es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan atau mencairnya es pada zaman ini berlangsung lama, beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu. Menurut para ahli, perubahan iklim ini yang menjadi salah satu penyebab penyebaran manusia saat itu.

Ahli geologi berpendapat bahwa kematian meluas terjadi pada akhir Pleistosen, termasuk kepunahan beberapa spesies seperti Mammoth (gajah raksasa,), manusia Neandertal dan Cro-Magnon.

Penelitian arkeologi telah menemukan adanya tanda-tanda kehidupan manusia di Sulawesi Utara sudah berlangsung sejak 30.000 tahun lalu. Jauh sebelum Nusantara didatangi kelompok-kelompok manusia dari Yunan, yang menurut teori berlangsung sekitar 3000 Sebelum Masehi (SM) – 1500 SM dan 1500 – 500 SM.

Hal ini dibuktikan dengan Situs Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas yang berusia 6000 tahun SM, atau Situs Batu Pinawetengan di Tompaso yang menurut para ahli gambar-gambar disamping Batu itu sama persis dengan Situs prasejarah di Gua Angono, Filipina, sekitar 3000 tahun SM.

Lukisan di dinding Gua Angono, Filipina.
Lukisan di dinding Gua Angono, Filipina.

Austronesia 

Dari berbagai penelitian, dapatlah dijelaskan tentang asal usul nenek moyang Minahasa, bahkan Indonesia secara menyeluruh. Taiwan, dikatakan sebagai tempat pemukiman dan asal dari bangsa Austronesia. Salah satu pendekatan yang dilakukan yaitu melalui Bahasa. Walaupun keberadaan bangsa Austronesia sendiri masih jauh lebih muda (baru), dibandingkan dengan teori Out of Africa, yang menggambarkan kehidupan manusia purba di Sulawesi Utara telah ada sekitar 35 sampai 40 ribu tahun Sebelum Masehi (SM).

Genographic, Out of Africa
Out of Africa (Google)

Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa Austronesia secara kesuluruhan, Comrie (2001:28)

Taiwan. Google Map
Taiwan, kotak merah. (Google Map)

Sementara itu, Sagart (2002), memilki pandangan bahwa bukti dari ilmu bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet. Kemudian, Fox (2004:8): “Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi kepulauan Penghu di antara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina daratan, terutama apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang terpencar”.

Blust: menampilkan pengelompokan sembilan cabang utama dari bahasa Austronesia, kesemuanya adalah bahasa-bahasa Formosa. Sedangkan Wouk & Ross (2002) menyebutkan bahasa-bahasa di Sulawesi sebagai Bahasa Bahasa Melayu-Polinesia termasuk bahasa-bahasa Kalimantan-Tagalog (Filipina), dan Minahasa, masuk dalam cabang Bahasa Austronesia. Selain bahasa, banyak pula ditemukan bukti-bukti arkeologis Peninggalan Budaya Austronesia. (nv/bersambung)

(Visited 1.664 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *