Minahasa: Sejarah Perjalanan Malesung hingga Peristiwa Ma’wetik (II)

Foto: Watu Tomotowa atau Menhir, Watu Tumotowa banyak tersebar di daerah Minahasa. (lokasi: desa Lelema, Minahasa Selatan)

Pinahaleiku Wia nisia, wehane A’asaren Aku. Sa sei si Ama’na, wo sei Ina’na. Sa kura u lalan-na, an ika’ayome wia. Wo kura um pa’ar-na in tumou wia. (Artinya: Aku (Karema) meminta kepadanya (Lumimuut), berikan Aku Cerita. Kalau siapakah Ayahnya, dan siapakah Ibunya. Dan bagaimanakah jalannya, sampai dapat tiba disini (Tanah Malesung). Dan bagaimana keinginannya untuk hidup disini). Sastra tua Malesung – Zazanian ni Karema/Nyanyian Dewi Karema.


Kisah perjalanan para pengembara, lepas dari cerita rakyat ataupun Legenda, secara ilmiah (berbagai penelitian dari para ahli), Sulawesi Utara adalah Pintu Masuk/gerbang, jalur penyebaran Manusia Prasejarah, termasuk budayanya. Rute yang ditempuh dari Utara pulau Sulawesi, sebagian melanjutkan pengembaraannya ke Selatan (Sulawesi Tengah), sebagiannya lagi berbelok ke Timur menuju Papua, sampai ke kepulauan Pasifik.

A map of the Pacific showing the “Out of Taiwan” scenario of Austronesian expansion, and a majority rule consensus tree concordant with this expansion scenario (adapted from Greenhill and Gray 2005).
A map of the Pacific showing the “Out of Taiwan” scenario of Austronesian expansion, and a majority rule consensus tree concordant with this expansion scenario (adapted from Greenhill and Gray 2005).

Beberapa ahli berpendapat bahwa, telah terjadi pertukaran budaya antara para pendatang baru dengan penduduk yang datang lebih awal, yang kemudian menciptakan budaya baru pula. Kelompok manusia dari Yunan/China Selatan, (3000 tahun Sebelum Masehi (SM) – 1500 SM dan 1500 – 500 SM), dan Bangsa Austronesia (Taiwan).

Out of Yunnan
Out of Yunnan`

(Teori ‘Out of Yunnan’ sendiri sangat berbeda dengan Teori ‘Out of Taiwan’, Teori ‘Out of Yunnan’ dinilai memiliki banyak kelemahan terutama dari segi bahasa, dan yang hanya berdasarkan dari bentuk fisik dan budaya megalith, sedangkan Teori ‘Out of Taiwan’ diperkuat dengan berbagai temuan arkeologis, Genetika, dan Linguitik (bahasa))

Kurangnya penelitian arkeologis menjadi sebuah ironi, bahwa Sulawesi Utara, sebagai Gerbang penyebaran dari sebuah peradaban. Kita bisa saja membandingkan, contohnya Peradaban megalitikum Lembah Besoa,  Lore Lindu, Poso – Sulawesi Tengah yang mirip dengan budaya megalit di Provinsi Xieng Khouang, Laos.

Three Europeans by a megalith ("Palindo", Bada Valley)
Three Europeans by a megalith (“Palindo”, Bada Valley) (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures/Creative Commons)

Begitu juga dengan peradaban Rapanui dengan Patung Moai di Rano Raraku, Pulau Paskah (Pasifik), dan Rongorongo yang mirip Aksara Malesung (Tulisan Minahasa). Tablet Rongorongo di kepulauan Pasifik juga sangat mirip dengan Cap Mahenjo Daro dari peradaban prasejarah Lembah Sungai Indus  di India.

Moai Rano raraku
Moai, Rano Raraku. (https://id.wikipedia.org/wiki/Moai)

Rongorongo

Rongorongo_Qr3-7_color
Rongorongo. (https://id.wikipedia.org/wiki/Rongorongo)

Namun demikian, beberapa penemuan penting hasil penggalian arkeologis dapat dijadikan acuan untuk itu, seperti fosil gading gajah purba (stegodon) yang ditemukan di Pintareng, di Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara, geraham binatang purba di lembah Napu di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, Alat-alat batu neolitik telah ditemukan di gua-gua di daerah Talaud, di Guaan Bolaang Mongondow dan daerah Oluhuta (Provinsi Gorontalo, yang sebelumnya masuk Provinsi Sulawesi Utara).

Seperti temuan sisa-sisa makanan manusia di tepi danau Tondano. Peter Bellwood (sejarahwan/arkeolog), ia menemukan sekumpulan Kulit Kerang Air Tawar di desa Passo, sisa makanan yang dalam bahasa daerah disebut ‘Renga‘ atau ‘Kolombi‘ disamping temuan-temuan lain seperti tulang babi hutan, sapi hutan, Anoa, monyet, tikus, burung, penyu, ular, dan lain sebagainya. Bukti arkeologis diatas dapat memastikan bahwa di Minahasa sejak 6000 – 7000 tahun Sebelum Masehi telah ada sekelompok manusia yang hidup dari ‘Berburu’ makanan. (bersambung)

Penyebaran pertanian merupakan faktor utama yang membentuk keragaman linguistik, budaya dan genetika manusia; (Bellwood 2005; Bellwood dan Renfrew 2003) 

An intoduction to Taiwan’s indigenous Peoples-part 1

(Video diatas dapat dilihat bagaimana Negara Modern Taiwan yang tetap menjaga dan melestarikan Budaya Leluhur Mereka. Tradisi ini tetap mereka pelihara selama berabad-abad, ditengah era Modernisasi Global. Video Credit: Youtube.com)

(Visited 1.662 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *