Kwitansi Jual Beli Vs Putusan Mahkama Agung

Foto: Kwitansi Jual Beli milik dari terlapor ‘JM’. (click gambar untuk memperbesar)


SulutPos.com, Amurang – Pemilik lahan wisata pantai Moinit, Keluarganya Julien Tumbuan (Ahli waris dari Alm Merkurius Decky Tumbuan), telah melaporkan JM ke Polres Minahasa Selatan (Minsel). Laporan Polisi bernomor: TBL/236/VII/2017/SPK/-Res Minsel, dalam laporan tersebut terkait Penyerobotan Tanah yang dilakukan oleh JM, di lokasi Perkebunan Moinit. Pelapor atas nama Catrina Tumbuan CS (Cum Suis, bahasa latin: Dan Kawan-kawannya), kakak kandung dari Julien Tumbuan.

Menurut Julien Tumbuan, JM telah menyerobot tanah/lahan perkebunan milik keluarga mereka, yang mana lahan tersebut adalah tanah warisan dari Almarhum (alm) Ayah mereka Merkurius Decky Tumbuan. Tumbuan mengungkapkan bahwa lahan mereka yang diserobot oleh JM, selain memiliki register tanah di buku register desa Tawaang, juga telah memiliki Putusan Mahkama Agung (1982), Putusan PTUN Makassar (2013/Putusan Banding) dan Putusan Pengadilan Negeri Amurang (2015).

“Kami (Keluarga Tumbuan-red) sudah melaporkannya (JM-red) sekitar tiga (3) bulan yang lalu, akan tetapi hingga sekarang belum ada perkembangan dengan laporan itu, karena dia (JM-red) masih menempati lahan milik kami,” ungkap Tumbuan.

Bukan hanya itu, lanjut Tumbuan, Papan Plang berisi Putusan-Putusan yang berhubungan dengan Hak Kepemilikan lahan sudah dirobohkan, “Itu berisi Putusan tentang hak kepemilikan kami, berani sekali ada oknum yang merusaknya, itu kan (Isi dalam Papan Plang) adalah Produk Hukum,” ujar Tumbuan.

Papan plang yang berisiskan Putusan tentang Status Hukum Kepemilikan Keluarga Tumbuan
Papan plang yang berisiskan Putusan tentang Status Hukum Kepemilikan Keluarga Julien Tumbuan CS.

Lebih jauh, kepada SulutPos.com, (21/10), Tumbuan mengatakan bahwa sudah jelas JM telah melakukan Penyerobotan Tanah, “Lahan itu, ada Registernya, belum Putusan-putusan, apalagi yang harus kami buktikan ? Sedangkan dia (JM-red) hanya berdasarkan Kwitansi Jual beli yang tidak jelas, karena penulisan Kwitansinya rancuh, Penjual tidak diketahui secara pasti, hanya ditulis S Mongkaren,” kata Tumbuan.

Begitu juga dengan ‘Saksi’ dalam Kwitansi tersebut yang ditulis Johnny Dengah, Tumbuan melanjutkan, keluarga dari ‘Saksi”pernah berperkara dengan Keluarga Julien Tumbuan CS, gugatan mereka (keluarga dari Johnny Dengah CS) tidak dapat diterima`

“Jadi siapa itu S Mongkaren yang berperan sebagai ‘Penjual’ dalam Kwitansi itu ? Apa dasar kepemilikannya, apakah Putusan Pengadilan termasuk Putusan Mahkama Agung dapat dikalahkan oleh Kwitansi Jual Beli? Ini namanya Kwitansi versus Putusan MA,” tutup Tumbuan.

Terpisah, Mantan Hukum Tua desa Tawaang, Julian Mandey, pernah diwawancarai media ini, (20/9), mengatakan bahwa Jual Beli yang dilakukan oleh JM tidak sah. Menurut Mandey, pemerintah desa tidak pernah mengeluarkan Akta Jual Beli, “Itu dibawah tangan, tidak sah,” kata Mandey.

Pejabat Hukum Tua Desa Tawaang Timur, Kecamatan Tenga. Jahjah J Tampi.
Pejabat Hukum Tua Desa Tawaang Timur, Kecamatan Tenga, Jahja J Tampi.

Senada disampaikan oleh Pejabat Hukum Tua desa Tawaang, Jahja J Tampi, kepada Media ini, (17/10), Tampi mengatakan bahwa hingga sekarang, baik para Penjual maupun para Pembeli tidak pernah melaporkan transaksi Jual Beli lahan tersebut, “Tidak pernah, mereka tidak pernah memberitahukan transaksi Jual Beli itu,” jelas Tampi sambil berharap pihak Kepolisian Polres Minsel dapat segera menyelesaikan masalah ini. (nv)

(Visited 1.925 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *