Minahasa: Sejarah Perjalanan Malesung hingga Peristiwa Ma’wetik (III)

Foto: Waruga. (nv/SulutPos.com)

Karema: Akaz i nania wo mange, yah tou sana-awu mo kamu Tumouma malawi-lakir witu rara’atean ni EMPUNG. Niaku tumaou kariamio, wen aku yah Karema wo Walian. Wo zei’lewo’en un ka’ara’an-ta. (Artinya: Mulai sekarang dan selanjutnya, kamu sudah Suami-Istri. Hiduplah penuh berkat dalam kasih sayang TUHAN. Aku akan hidup bersamamu, tapi aku adalah Karema juga Pendeta. Dan jangan kita rusak hubungan kasih sayang kita.

Yah nisera sana-awu, se minaka suzu-me. Se Makazua Siouw, Se oki’. Wo maka telu pitu, se puyun. Karia ne Pasiouwan- telu, se Tou-Lakez. Se Kinasuzuan pe’ne ka’esa puyun-impuyun. (Artinya: Dan mereka (Toar-Limimuut) itu, menghasilkan keturunan: Kelompok 2×9 atau anak-anak. Kelompok 3×7 atau cucu-cucu. Dan kelompok ketiga rakyat biasa, cece-cicit keturunan yang banyak). Sastra Tua Malesung Zazanian ni Karema (Nyanyian Dewi Karema).


SulutPos.com, Manado – Jaman purbakala di Sulawesi Utara, yakni kehidupan manusia purbakala yang berbahasa Austronesia, telah ditemukan para ahli dan berasal dari 6000 – 7000 tahun lalu (walaupun akhir-akhir ini banyak ahli berpendapat bahwa usianya jauh lebih tua lagi, yakni sekitar 8000 tahun SM. Barangkali suatu waktu masih dapat ditemukan sisa-sisa kehidupan jaman purbakala, yang lebih tua lagi di sulawesi utara.

Sekitar 12.000 tahun lalu, jaman es glasial mulai berakhir dan cuaca bumi khatulistiwa mulai berubah mendekati cuaca seperti yang sekarang ini. Mungkin jaman inilah yang dimaksud dengan cerita hikayat tua tanah Minahasa, bahwa pada waktu itu daratan Minahasa bersambungan dengan sangihe Talaud, hingga Filipina.

Antara jaman purbakala dan jaman sejarah, yakni abad 15, beberapa penulis/sejarawan menempatkan sebuah periode jaman dengan istilah jaman purbakala dan jaman sejarah, yakni yakni periode jaman kehidupan leluhur Minahasa yang kemudian menjadi dewa- dewi. Menurut analisa penulis J.G.F. Riedel, (berdasarkan cerita turun temurun) Sistim pemerintahan masa hidup leluhur Minahasa yang sudah terdiri dari tiga lapisan masyarakat yakni Makarua siouw (2×9), Makatelu Pitu (3×7), dan Pakasiouwan Telu berakhir pada abad ke-7 M (Tahun 600-an Masehi), yaitu setelah adanya Peristiwa Ma’wetik.

Perhitungan ini dilakukan berdasarkan jumlah generasi orang Minahasa, yang waktu itu masih diingat orang Minahasa di luar kepala karena harus disebutkan dalam upacara adat. Jaman sejarah di Minahasa baru dimulai abad ke 15 ketika orang kulit putih pertama dari Eropa, yakni Spanyol dan Portugis, menulis mengenai keberadaan mereka di Minahasa.

A. Jaman pra sejarah

Sisa-sisa peninggalan jaman purbakala di Minahasa berbentuk kapak batu dan kulit kerang air tawar, disebut Renga’ dan Kolombi’ yang setelah dimakan isinya, lalu kulit kerangnya dibuang disebuah tempat tertentu. Bersama dengan tulang-tulang binatang hasil berburu, setelah berabad-abad lalu timbunan kulit kerang itu nampak membukit, yang kemudian dalam perjalanan waktu tenggelam kedalam tanah.

Ada dua lokasi di Minahasa yang terdapat sisa-sisa makanan orang Minahasa jaman purbakala, yakni di negeri (desa) Passo di tepi barat Danau Tondano dan di wilayah Tonsawang, Minahasa Tenggara. Sedangkan contoh peralatan masa prasejarah diantaranya Kapak Batu, ditemukan di Gua Arangka Sangihe-Talaud dan di desa Passo, Minahasa. Kapak Batu di daerah Minahasa banyak ditemukan di permukaan tanah menjelang akhir abad 18 Masehi.

Didaerah Tonsawang, Bukit Dahayu (Minahasa Tenggara), yang pada jaman dulu adalah sebuah danau, telah ditemukan juga adanya peradaban manusia, seperti bekas rumah yang menghadap danau, sisa-sisa makanan dari kulit kerang dan tulang belulang hewan hasil buruan. Seperti halnya di desa Passo, juga ditemukan Mata Panah,Kapak dan alat-alat berburu lainnya, disamping tulang-belulang hewan yang menumpuk.

Theories of Māori origins
Foto: Theories of Māori origins. Migrasi Manusia dari Taiwan yang melalui Filipina, Sulawesi Utara, Papua, kepulauan Pasifik, hingga daratan Amerika Selatan.

Yang menarik mengenai Kapak adalah Kapak (genggam) yang ditemukan di Amerika Utara dan berasal dari Manusia Mangoloid (Asia) yang menyeberang kedaratan Amerika sekitar 27.000 – 30.000 tahun Sebelum Masehi (SM) lewat Selat Bering yang kala itu terhubung dengan Amerika utara, juga ditemukan di Taiwan, Filipina, Jepang, dan Sulawesi (Minahasa) serta Papua. Selain itu, Kapak Batu yang tersebar di daerah Yunnan (China Selatan) juga ditemukan di Minahasa, dan daerah lainnya di Indonesia. Artinya, perpindahan/penyebaran manusia di jaman prasejarah yang membuat/menggunakan dan membawa peralatan berburu, ternyata bertemu di Minahasa.

slide_3
Human Migrations. (Foto: slideplayer.com)

Memasuki milenium akhir Masehi, kehidupan manusia prasejarah di Minahasa mulai memasuki babak baru. Banyak perkembangan dan perubahan yang sangat kompleks. Perkembangan dan penyebaran populasi manusia adalah salah satu faktor utamanya. Dalam tradisi budaya lokal mulai banyak dipengaruhi oleh tradisi budaya para pendatang baru. Para pendatang baru ini, sebenarnya masih satu leluhur dengan leluhur penduduk awal Minahasa.

Diakhir masa Prasejarah (1000 – 500 SM), terlihat gelombang budaya bergerak lagi dari selatan dan utara memasuki Tanah Malesung (Minahasa). Padi, mulai ditanam di Minahasa, dan  dalam Budaya Minahasa mulai dikenal nama-nama leluhur yang berakhiran Wene (Padi). Tradisi mengubur jenazah dalam periuk (kure; bahasa daerah) adalah kebiasaan dari suku Dayak Kalimantan dan Filipina Selatan. Tradisi budaya ini mulai berkurang setelah adanya tradisi Waruga, Kure dan Waruga masih bertahan hingga akhir abad 18 M (Masehi).

Penggunaan Besi, dalam tradisi budaya Minahasa mulai disebutkan tentang Tokoh-tokoh Perkasa (Opo), mulai ada cerita kepahlawanan atau Ksatria yang mengalahkan musuh-musuhnya dengan Pedang, Tombak atau Pisau. Kisah Sakral Toar dan Lumimuut mulai dipertegas sebagai suatu kisah bagi Persatuan dan Kesatuan (Esa Waya), sekaligus memperjelas eksistensi Penduduk Awal yang pertama kali mendiami Tanah Malesung. Pada masa itu juga, di Minahasa mulai tersusun sistem pemerintahan yang berbentuk Demokrasi dan pada masa inilah Ritual Budaya Mangayau (Potong Kepala), resmi dimasukan dalam aturan adat Budaya Minahasa. (nv/bersambung)

Catt: Video ini adalah lanjutan dari Video yang pertama. Video tentang Tradisi Budaya Suku-suku di Taiwan sebagai daerah asal Bangsa Austronesia.

(Visited 2.610 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *