Peretasan oleh Rusia Gunakan Teknologi Amerika

Foto: Rusia diduga menggunakan jaringan internet untuk melakukan peretasan dan mempengaruhi pemilu di Amerika (foto: ilustrasi). Reuters


SulutPos.com, Washington – Penyelidikan tentang keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden Amerika tahun 2016 masih berlangsung. Penyidik khusus Robert Mueller terus mengejar saksi-saksi yang bisa membuktikan bahwa Rusia memang ikut mempengaruhi hasil pemilu itu, walaupun hal ini dibantah keras oleh Presiden Donald Trump.

Ironisnya, dalam melakukan kegiatan yang dituduhkan itu, Rusia menggunakan jaringan internet, yang pertama kali dikembangkan oleh militer Amerika dalam tahun 1960-an.

Yasha Levine adalah penulis buku baru berjudul Surveillance Valley. Ia mengatakan, “Hampir semua orang yang saya jumpai di Washington DC yakin bahwa Vladimir Putin telah memanfaatkan internet sebagai senjata untuk memperoleh pengaruh, yang diarahkannya kepada rakyat Amerika untuk membantu terpilihnya Donald Trump.”

Baca juga: Putin Tak Ambil Pusing Tuduhan Campur Tangan Pilpres AS

Lebih lanjut menurut Yasha Levine dalam acara bedah buku yang disiarkan oleh stasiun TV C-span, “Belum pernah terjadi dalam sejarah, internet digunakan untuk mempengaruhi cara orang berpikir, khususnya oleh pemerintah asing.”

Ia menambahkan, “Kini ada kepanikan yang luas karena penggunaan internet sebagai senjata. Para senator kita telah menekan perusahaan-perusahaan teknologi tinggi di Silicon Valley, seperti Google, Facebook dan Twitter supaya mau bekerja lebih erat lagi dengan badan-badan intelijen negara, guna mengamankan internet dari penyalah-gunaan oleh kekuatan-kekuatan jahat dari luar negeri.”

Namun, ada aspek lain dari penggunaan internet sebagai senjata ini. Kemarahan pada Rusia karena telah memanfaatkan sarana elektronik itu untuk kepentingannya sendiri diambil berdasarkan pandangan yang sangat keliru, kata Levine.

“Ini seolah mengatakan bahwa dalam sejarahnya, internet tidak pernah digunakan sebagai senjata. Pandangan umum bahwa internet adalah semacam mesin yang akan menciptakan demokrasi adalah mitos belaka,” imbuhnya.

Kata Yasha Levine, internet diciptakan oleh Pentagon sebagai senjata untuk mempengaruhi cara orang berpikir, senjata untuk memata-matai, dan alat untuk mengatur masyarakat.

“Sejak permulaannya, pada tahun ’60-an, sebuah badan militer amerika yang disebut ARPA atau Advanced Research Project Agency, bagian dari Departemen Pertahanan Amerika, telah menggunakan internet sebagai senjata informasi, seperti internet yang sekarang yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan swasta dan komersial. Jauh lebih kuat dari yang ada dalam tahun ’60 dan ’70-an,” tukas Levine.

Setelah runtuhnya Uni Soviet dalam tahun 1991, internet, Silicon Valley dan perekonomian global yang bebas diharapkan bisa memenuhi semua impian yang sebelumnya tidak bisa terpenuhi.

“Tapi impian utopis atau khayalan tentang segala kebaikan internet itu tidak menjadi kenyataan. Kini Amerika telah menjadi negara dimana terdapat ketimpangan besar dalam masyarakat, yang lebih terasa dibanding 30 tahun lalu. Kini lebih banyak kemiskinan. Internet sendiri juga tidak merata atau demokratis.”

Menurut Levine, internet sekarang adalah perusahaan komunikasi swasta, yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar yang telah mengubah internet menjadi mesin pengintai raksasa yang memanfaatkan data untuk mencari keuntungan. [ii]

VOA News

(Visited 155 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *