Polri Siaga Satu

Foto: Polisi menjaga warga Muslim yang sedang salat di hari pertama Ramadan, dekat Markas Polda Bali di Denpasar, Bali, 16 Mei 2018. Reuters


SulutPos.com, Jakarta – Serangan teroris dalam dua pekan terakhir di Indonesia membuat aparat keamanan kian waspada. Polisi telah meningkatkan status penjagaan menjadi siaga satu.

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menerjunkan dua pertiga personelnya untuk menjaga keamanan dan menanggulangi terorisme.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengumumkan status siaga satu untuk seluruh wilayah Indonesia.

“Artinya siaga satu kita meningkatkan jumlah personil, meningkatkan kegiatan tapi untuk kegiatan Polri. Untuk masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa, kami yang akan menjaga,” ujar Setyo.

Baca: ITS Selidiki Alumni Diduga Terlibat Teror dan Dosen Berafiliasi HTI

Gelombang serangan teror dalam dua minggu belakangan dimulai dengan kerusuhan yang dilakukan terpidana terorisme di Rumah Tahanan Markas KomandoBrigade Mobil di Depok, Jawa Barat, selama 30 jam, pada 8 Mei. Insiden ini mengakibatkan enam orang tewas, termasuk lima polisi.

Disusul dengan serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Kota Surabaya dan satu serangan bunuh diri di Markas Kepolisian Kota Besar Surabaya. Teror berlanjut dengan serangan ke Markas Kepolisian Daerah (Polda) Riau, Rabu (16/5).

Setyo mengungkapkan lima teroris yang menyerang Markas Polda Riau berasal dari kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharud Daulah (JAD).

Setyo menjelaskan dua tersangka teroris dari JAD Palembang, yaitu Abdul Rahman alias Abu Khomsah dan Hengky alias Abu Anshor, serta empat pelaku serangan teror ke Markas Polda Riau, yaitu Ical, Suwardi, Adia Sofian, dan Daud, tadinya sudah datang ke Depok untuk membantu rekan-rekannya di Markas Komando Brimob. Namun karena polisi berhasil menyelesaikan kerusuhan tersebut, keenam tersangka teroris ini kembali ke daerah asal.

Menurut Setyo, dua terduga teroris asal Sumatera Selatan itu sudah ditangkap, sedangkan empat pelaku penyerang Markas Polda Riau ditembak mati.

Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh, Aceh, Al-Chaidar, mengakui kelompok teroris berhasil mencapai tujuan mereka yakni menikmati aksi mereka. Ia mengatakan jika pihak keamanan sudah menetapkansiaga satu, usaha teroris dianggap sukses.

Al Chaidar menilai serangan teror yang melibatkan satu keluarga ini, seperti yang terjadi di Surabaya, merupakan modus baru.

Al Chaidar mengatakan jumlah orang Indonesia berjihad ke Suriah sejak 2013 sekitar 1.500 orang dan yang sudah kembali sebanyak 508 orang. Yang pulang itu banyak alasannya, termasuk ditolak di Turki atau melarikan diri dari situasi perang.

BacaMapolda Riau Diserang, Polisi Gencarkan Pemberantasan Teroris

“Ada yang sudah berkali-kali yang pulang pergi karena membawa bantuan, logistik dan juga medis. Ada juga yang pulang pergi karena membawa orang, prajurit yang dibutuhkan dan jumlah mereka cukup banyak,” kata Al Chaidar.

Milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) mengklaim bertanggung jawab atas rangkaian serangan teror tersebut. ISIS sudah lama memiliki kelompok pendukung di Indonesia.

Semua kelompok pendukung ISIS di Indonesiamenjadikan Aman Abdurrahman sebagai pemimpin dan Abu Bakar Baasyir sebagai penasihat.

Kelompok-kelompok pendukung ISIS di Indonesia terdiri dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharul Khilafah (JAK), Jamaah Ansharud Daulah (JAD), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan Majmuah Arkhabili atau Katibah Nusantara lid Daulah Islamiyyah.

JAT dipimpin oleh Abu Bakar Baasyir, narapidana yang sedang menjalani hukuman 15 tahun penjara dalam kasus pendanaan pelatihan militer di Aceh.

JAK memiliki sejumlah faksi yang pernah berafiliasi ke Jamaah Islamiyah (JI), pendukung Al-Qaidah di Asia Tenggara. Kelompok ini disebut ISIS rasa JI.

Di bawah JAK terdapat Mujahidin Indonesia Barat (MIB) dan Negara Islam Indonesia Banten (NIIB). MIB dipimpin Amat Untung Hidayat alias Abu Roban. Dia tewas pada 2013 dan kepemimpinannya diteruskan oleh Bachrumsyah. NIIB dipimpin Iwan Darmawan alias Rois. Dia terlibat dalam pengeboman Kedutaan Besar Australia.

JAD mulanya dipimpin oleh Marwan alias Abu Musa. Selanjutnya kepemimpinan dipegang oleh Aman Abdurrahman yang pernah terlibat dalam kasus serangan bom Cimanggis dan pembiayaan pelatihan militer di Aceh. Dia kini sedang menjalani sidang sebagai terdakwa dalam kasus serangan bom di Jalan M.H. Thamrin.

Di bawah JAD ada Kelompok Bima, dipimpin oleh Ruri Alexander alias Abu Qutaibah. Dia adalah pentolan insiden di Markas Komando Brimob pekan lalu.

Katibah Nusantara adalah unit milisi ISIS di Suriah beranggotakan orang-orang Indonesia. Kelompok ini dipimpin oleh Bahcrumsyah. Bahrun Naim merupakan penghubung antara ISIS Indonesia di Suriah dan yang berada di Indonesia.

VOA News

(Visited 381 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *