Solidaritas AJI Sulut Protes Kebijakan Pemberian Remisi Pembunuh Wartawan Radar Bali

Sulutpos.com,Manado – Puluhan wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado,lakukan aksi solidaritas dengan memprotes terhadap kebijakan yang diambil Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), terkait pemberian Remisi terhadap Susrama pelaku pembunuhan Wartawan Radar Bali AA Prabangsa pada beberapa tahun silam.

Aksi tolak pemberian Remisi terhadap otak pembunuhan Wartawan Radar Bali ini, dilakukan di Zero Point pusat Kota Manado, Jumat (25/1).

Dalam orasinya, Ketua AJI Manado, Lynvia Gundhe kecewa atas keputusan presiden Jokowi, yang telah memberikan keringanan atau Remisi kepada otak pembunuhan Wartawan Radar Bali.

“Kami AJI Manado sangat kecewa pemberian karena presiden memberikan grasi kepada pelaku pembunuhan Wartawan AA Prabangsa,” teriak Gundhe dengan lantang dalam orasinya, yang dikawal pihak kepolisian Polresta Manado.

Ketua AJI Manado ini menjelaskan, keputusan pemberian Remisi itu tertuang dalam Kepres No. 29 tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Sementara, tertanggal 7 Desember 2018. Dimana Susrama merupakan satu dari 115 terpidana yang mendapatkan keringanan hukuman tersebut.

Sementara itu Ketua Bidang Advokasi AJI Manado, Asrar Yusuf mengatakan, hasil penyelidikan polisi, pemeriksaan saksi dan barang bukti di persidangan menunjukkan bahwa Susrama adalah otak di balik pembunuhan Waratwan Radar Bali AA Prabangsa.

“Dari hasil penyidikan polisi, pelaku Susrama memerintahkan anak buahnya menjemput AA Prabangsa di rumah orangtuanya di Taman Bali, Bangli, pada 11 Februari 2009. Prabangsa kemudian dibawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. Di sanalah ia memerintahkan anak buahnya memukuli dan akhirnya menghabisi Prabangsa,” jelas Asrar.

Ia juga mengatakan, dalam keadaan sudah tidak bernyawa, Prabangsa dibawa ke Pantai Goa Lawah, tepatnya di Dusun Blatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung.

“Prabangsa dibawa naik perahu dan dibuang ke laut. Mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali, lima hari kemudian,” terangnya.

Sementara Sekretaris AJI Manado, Fernando Lumowa menambahkan, dari data yang ada, kasus Prabangsa adalah satu dari banyak kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia.

“Sementara delapan kasus lainnya belum tersentuh hukum. Delapan kasus itu, yakni Fuad M Syarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996), pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas harian Radar Surabaya (2006), kematian Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010), dan kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010),” ungkap Lumowa.

Perluh diketahui, Susrama diadili karena kasus pembunuhan terhadap Prabangsa, 9 tahun silam. Dimana pembunuhan itu terkait dengan berita-berita dugaan korupsi dan penyelewengan yang melibatkannya oleh Prabangsa di harian Radar Bali, dua bulan sebelumnya.

Dalam sidang Pengadilan Negeri Denpasar 15 Februari 2010, hakim menghukum Susarama dengan divonis penjara seumur hidup.

“Sebanyak delapan orang lainnya yang ikut terlibat, juga dihukum dari 5 tahun sampai 20 tahun. Upaya mereka untuk banding tak membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Bali menolak upaya kesembilan terdakwa, April 2010. Keputusan ini diperkuat oleh hakim Mahkamah Agung pada 24 September 2010,” tandas Lumowa.

Diketahui juga, aksi solidaritas ini dilakukan AJI Indonesia perwakilan di beberapa daerah secara serentak. Antara lain, AJI Yogyakarta, AJI Kota Banda Aceh, AJI Padang, AJI Denpasar, AJI Jakarta, AJI Palembang, AJI Semarang, AJI Jember, AJI Manado, AJI Kendari, AJI Tanjungpinang, AJI Mandar, AJI Tanjung Pinang, AJI Jambi, AJI Kediri, AJI Surabaya dan AJI Malang. (Ody)

(Visited 103 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *