Menyatu Dengan Alam, Komunitas Seni Budaya Jejaki Warembungan Tanah Leluhur

 

Sulutpos.com,Tondano – Upacara ” Mengaley” jadi acara pembuka Festival Wanua Warembungan yang dilaksanakan di Warembungan Kecamatan Pineleng, Kamis (07/03) tadi.

IMG-20190307-WA0090

“Mengaley” yang artinya meminta pertolongan tuntunan dari yang Maha Kuasa. Pelaksanaanya digelar di rumah Tetuah Adat Warembungan, Rinto Taroreh, di “Wale Pahemungan Ne Waraney”, yang menghadirkan para komunitas seni dan budaya di Tanah Minahasa.

Pukul 08.00 pagi, para peserta dengan menggelar Napak tilas, menyatu dengan alam menjejaki Warembungan yang adalah tanah teluhur, para peserta memulainya ke lokasi Wanua Ure Lotta, dan melakukan upacara adat Mahelur. Setelah melakukan upacara adat Mahelur, rombongan yang dipimpin langsung oleh Tonaas Rinto Taroreh, melanjutkannya ke Perkebunan Tawaang, yang di dalamnya juga ada situs batu Opo Warere sebagai penanda perjalanan leluhur Minahasa.

IMG-20190307-WA0086

Setelah dari perkebunan Tawaang, rombongan menuju ke Rano Oki, yang menandakan situs perjalanan sebagai tempat persinggahan dan sebagai sumber air minum dari para leluhur Minahasa. dari Rano Oki rombongan terus berjalan hingga mendaki ke punggung gunung, yang bernama kawasan Pinopoan, dengan arti rata.

Tidak berhenti, rombongan melanjutkan ke pancuran Sasarongsongan, yang juga salah satu situs sumber air tanda perjalanan leluhur Warembungan. Setelah istirahat sejenak para peserta berjalan mengikuti kawasan Lewet dan mendaki ke Patalingaan, yang artinya ‘tampa ja ba dengar akang’.

Kemudian ke situs Lalalesan dan turun menuju ke Watu Tumani yang berada di tengah kampung Warembungan, dalam perjalanan itu dikawal dengan Tarian Perang Kawasaran sampai ke Watu Tumani, ditempat itu rombongan melakukan upacara adat Mahelur, yang juga pertanda selesainya rangkaian napak tilas tersebut.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Samratulangi Manado, Fredy Wowor, mengungkapkan ada makna mendalam dalam kegiatan napak tilas ini mana peserta diajak mengenang jasa mereka yang beupaya membangun Desa tersebut.

“Dengan menulusuri jejak leluhur, torang (Kami-red) mengalami kembali pengalaman bagaimana para leluhur Warembungan membangun kampung ini, yaitu, untuk kelanjutan dan kebahagiaan hidup sampai selama-lamanya, berkat yang melimpah dalam pencarian hidup dan kelanjutan kehidupan sebagai manusia. Menjadi manusia yang menyatu dengan semesta,”Kata Wowor.

Sementara Tetuah Adat Minahasa, Rinto Taroreh, sekaligus Penggagas Kegiatan ‘Festival Wanua’ ini mengatakan bahwa peserta napak tilas dapat melihat langsung, dan menjejaki kembali jejak leluhur.

Tonaas Rinto Taroreh (foto koleksi pribadi)
Tonaas Rinto Taroreh (foto koleksi pribadi)

“Kita membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang ditinggalkan, Napak tilas ini harus ada karena terkait dari sejarah lahirnya negeri Warembungan, jadi dengan napak tilas torang mengingat, kita pergi dan melihat langsung, dan menjejaki ulang jejak leluhur. Kita membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang ditinggalkan, seperti maleos-leosan, masawang-sawangan,” Jelasnya sambil mengharapkan makna napak tilas tersebut bisa mempererat atau membangun kembali hubungan dengan orang tua dan terutama dengan para leluhur.

Disamping itu, ketua panitia Festival Wanua, Amri Kalangi berharap dengan napak tilas yang berjalan lancar dapat menjadi rangkaian kesuksesan Festival Wanua.

“Kegiatan Napak Tilas ini adalah rangkaian dari Festival Wanua ini, dan kesan saya ini kegiatan ini sangat baik, terutama dalam kebersamaan, itu sangat positif, dan semoga leluhur menyertai kita sampai kegiatan selesai,” imbuhnya.

(Visited 709 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *