Chat kami sekarang

Indonesia Drawing Festival, Menempatkan Kembali Fungsi Gambar

Sulutpos.com, Jakarta – Anggapan umum tentang menggambar seringkali mengaburkan esensinya. Selain memperlihatkan kepekaan seseorang, gambar sebenarnya juga berfungsi sebagai “pelampiasan” segera gagasan atau ekspresi perasaan seseorang pada satu saat tertentu. Esensi itulah yang dikemukakan dalam ajang Indonesia Drawing Festival 2015 yang berlangsung hingga 8 November di Gedung Indonesia Menggugat, Jl Perintis Kemerdekaan No 5, Bandung, Jawa Barat.

Tak hanya menggelar pameran sejumlah karya, festival bertema “Outline” ini juga diramaikan dengan kegiatan lokakarya menggambar bersama. Kegiatan ini berlangsung setiap hari hingga pukul 17.00 WIB. Pada 7 November, panitia menampilkan Clay Workshop  pada pukul 10.00 WIB yang terbuka untuk anak berusia 9-12 tahun. Pada hari yang sama, ada juga Portrait Workshop pada pukul 15.00 WIB, yang terbuka untuk remaja dan dewasa.

Sementara, pada 8 November, panitia kembali menggelar workshop bertema Collage & Drawing pada pukul 10.00 WIB. Workshop ini kembali dibuka untuk kategori anak-anak usia 5 –hingga 12 tahun.

Menurut Kurator Danuh Tyas, Indonesia Drawing Festival mencoba mengoreksi anggapan umum bahwa menggambar yang bagus atau baik adalah membuat gambar yang mirip atau sama persis dengan objek-objek yang ada di sekeliling. Anggapan itulah yang membuat aktivitas menggambar dianggap sebagai kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya bakat.

“Tapi menggambar dengan sama persis hanyalah salah satu “fungsi” atau intensi dalam menggambar. Dalam bentuk lain, menggambar juga sering berfungsi sebagai “pelampiasan” segera gagasan atau ekspresi perasaan seseorang pada satu saat tertentu,” katanya.

Danuh berpendapat pada gambar ekspresif tersebut, seringkali tidak dipermasalahkan lagi soal persis atau mirip, bahkan bentuk objek sangat mungkin untuk berubah –misalnya; terdistorsi,  terstilasi atau terabstraksi. Garis adalah salah satu unsur dalam gambar yang bisa memperlihatkan ekpresi (emosi) si penggambar.

“Dalam gambar ada berbagai macam karakter garis yang mungkin muncul; garis yang kaku, lincah, keras atau tegas, ragu-ragu, lembut, kasar, acak, tertib, dan sebagainya. Kebutuhan untuk menuangkan gagasan secara segera, seringkali mendorong munculnya gambaran umum atau garis besar suatu objek ketimbang rinci dan untuk kebutuhan macam ini kita seringkali beroleh gambar sketsa,” paparnya.

Danuh menjelaskan gagasan dalam menggambar tidak selalu harus berhubungan dengan hal-hal yang nampak di sekitar, lebih jauh gagasan tersebut seringkali bisa sangat imajinatif –tidak sekedar seperti apa yang ada di sekeliling. Dalam gambar, orang sangat mungkin menemui hal-hal yang janggal, aneh, atau absurd dan jauh dari apa yang biasa dijumpai dalam keseharian. [SP/U-5]

(Visited 277 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *