Chat kami sekarang

PM Australia Ingin Perbaiki Hubungan dalam Kunjungan ke Indonesia

Sulutpos.com Jakarta – Pemerintah Indonesia melihat kunjungan Turnbull
sebagai tanda bahwa kedua belah pihak ingin melakukan hal yang sama
dalam lingkup ekonomi dan diplomatik.

 
Foto :Perdana Menteri Australia dalam konferensi pers di Gedung Parlemen di Canberra (20/9). (AP/Rob Griffith)

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull ingin memperbaiki
hubungan diplomatik dan ekonomi yang memburuk di bawah pemerintahan
pendahulunya, saat ia berkunjung ke Jakarta hari Kamis (12/11) untuk
bertemu Presiden Joko Widodo.

Australia dan Indonesia memiliki sejarah diplomatik yang bergejolak
dalam beberapa dekade terakhir, namun hubungan mencapai titik terendah
di bawah Perdana Menteri Tony Abbott, yang digulingkan dalam kudeta
partai bulan September.

Turnbull mewarisi ketegangan hubungan akibat pengintaian, eksekusi
warga negara Australia di Indonesia dan kebijakan keras Abbott atas
pencari suaka, di tengah peningkatan agresivitas China di wilayah ini.

Namun dengan kegelisahan di Jakarta terhadap sikap Beijing dan
keinginan Turnbull untuk membangun jembatan ke Asia, kunjungan itu
merupakan kunci bagi kedua belah pihak, ujar Adrian Vickers, direktur
Pusat Studi Asia di University of Sydney.

“Hal besar bagi Turnbull sebenarnya hanya mendapat perhatian cukup
dari Indonesia, dimana saat ini ada potensi untuk benar-benar
memfokuskan kembali hubungan mengingat masalah antara Indonesia dan
China,” ujarnya kepada Reuters.

“Ini juga cara yang baik untuk mengingatkan Indonesia akan Australia dan manfaat potensial dari hubungan ekonomi.”

Indonesia adalah mitra perdagangan terbesar ke-10 bagi Australia dan
pasar ekspor terbesar untuk gandum Australia senilai A$1,3 miliar
(US$917 juta) tahun 2014, selain salah satu tujuan utama untuk ternak
hidup dan gula.

Kedua negara juga bekerjasama erat dalam kontra-terorisme, sebuah isu
yang semakin menjadi kekhawatiran karena para militan Negara Islam
(ISIS) mencari daerah pijakan di luar Timur Tengah, di mana Australia
terlibat dalam pemboman kelompok itu sebagai bagian dari kampanye
militer yang dipimpin AS.

Namun dalam
beberapa tahun terakhir, krisis tak berkesudahan itu menjadi norma, ujar
Vickers, dengan Abbott yang menjadi perwakilan wajah publik di
Indonesia. 

Hanya satu bulan setelah ia menjabat bulan September 2013,
terungkapnya laporan bahwa Canberra telah memata-matai Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan istrinya telah menodai hubungan kedua negara.

Kebijakan Abbott mengembalikan kapal-kapal yang membawa pencari suaka
ke Indonesia, meski populer di dalam negeri, membuat marah pemerintah
Indonesia, yang melihatnya sebagai pelanggaran kedaulatan.

Ketegangan mencapai puncaknya bulan Mei ketika Indonesia mengeksekusi
dua warga negara Australia yang merupakan bagian dari lingkaran
penyelundupan narkoba “Bali Nine”, meski ada lobi yang intens dari
Canberra.

Pemerintah Indonesia melihat kunjungan Turnbull sebagai tanda bahwa
kedua belah pihak ingin melakukan hal yang sama dalam lingkup ekonomi
dan diplomatik, ujar Armanatha Nasir, juru bicara Kementerian Luar
Negeri.

“Fakta bahwa para menteri Australia telah sering mengunjungi kita dan
ada delegasi besar pebisnis yang datang ke sini dengan perdana menteri
menunjukkan upaya-upaya dari kedua belah pihak untuk bergerak maju,”
ujarnya. [Reuters/VOA/hd]

 
(Visited 70 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *