Chat kami sekarang

Perdagangan Minyak ISIS Menggoda Kawan dan Lawan

Sulutpos.com, Jakarta – Kelompok teroris itu meraup US$500 juta per tahun
dari penjualan minyak ke pelanggan-pelanggan seperti pemerintah Suriah,
pemberontak yang didukung AS dan Turki.

 
Pasukan Kurdi dalam operasi militer untuk merebut beberapa desa dari tangan ISIS di kota Kirkuk, Irak. 
 

Minyak mungkin bukan sumber pendapatan terbesar bagi para ekstremis Negara Islam (ISIS), namun merupakan yang paling menggoda.

Bagi para makelar, masyarakat sipil, pemberontak, dan bahkan
pemerintah Suriah, sulit mengatakan tidak untuk minyak murah yang
dikirim ke pintu rumah, bahkan jika diproduksi oleh militan brutal yang
sedang mereka perangi.

Perdagangan minyak membuat ISIS meraup antara $100 juta dan $500 juta
per tahun. Penghasilan itu, ditambah dengan uang yang dihasilkan ISIS
dari “pajak,” pemerasan dan pencurian, “telah memberikan mereka
kebebasan untuk bermanuver, peluang lebih banyak untuk menarik orang dan
mendanai operasi-operasi mereka,” ujar Howard Shatz, ekonom senior pada
Rand Corporation.

“Semakin banyak uang yang mereka miliki, semakin banyak serangan yang
bisa mereka danai, dan mereka dapat menjalankan sesuatu yang tampak
seperti sebuah negara,” ujar Shatz.

Jadi mengapa koalisi pimpinan AS gagal menghentikan perdagangan tersebut?

“Tidak mudah menanggulangi masalah tersebut,” ujar Ben Bahney, juga
dari Rand, kepada VOA.

“Gambarannya sulit didapat, ada kesenjangan besar
dalam cakupan.”
 

Tentara Irak berkumpul dekat kendaraan lapis
baja sementara asap membubung dari sumur-sumur minyak di lapangan Ajil
sebelah timur Tikrit, provinsi Salahuddin, yang dibakar oleh ISIS, Maret
2015.

Selain itu, ujar Bahney, setelah ISIS menjual minyak kepada makelar
di sumur minyak, ratusan truk akan membawa minyak mentah ke kawan dan
lawan: pasukan pemerintah Suriah pimpinan Bashar al-Assad, wilayah
Kurdi, kepada pemberontak yang didukung AS, ke Turki, kilang-kilang
bergerak, dan untuk operasi internal.

Masalah Prioritas
AS dan mitra-mitra koalisinya tidak dapat mengontrol penjualan dalam wilayah yang dikuasai ISIS dan untuk rezim Assad.

Hal itu berarti bahwa upaya bergantung pada berbagai kelompok yang
bekerjasama dengan Washington di lapangan di Suriah dan Irak. Dan
menghentikan penjualan minyak tidak selalu menjadi prioritas tertinggi,
terutama jika tidak ada sumber-sumber energi alternatif.

“Ini masalah koordinasi lokal dengan mitra-mitra lokal dan regional
yang memiliki prioritas mereka sendiri,” ujar Bahney. “Mungkin mereka
akan menganggap hal itu tidak layak dilakukan. Dan perlu upaya lebih,
dan mungkin mereka akan kalah. Mungkin mereka tidak tertarik.”

Peran Turki
  
Presiden Rusia Vladimir Putin telah menuduh bahwa Ankara menembak
jatuh salah satu jet tempur Rusia “untuk melindungi jalur pasokan
minyak” ke Turki, sebuah tuduhan yang disangkal keras oleh Presiden
Turki Recep Tayyip Erdogan.

Presiden AS Barack Obama hari Selasa juga mengecam sekutu AS.

“Saya telah berulangkali mengatakan kepada Presiden Erdogan mengenai
pentingnya menutup perbatasan antara Turki dan Suriah,” ujarnya.

“Kita
telah melihat kemajuan serius di wilayah itu, tapi masih ada beberapa
celah. Khususnya jalur sekitar 98 kilometer yang masih digunakan sebagai
titik transit untuk para pejuang asing, (dan) ISIS mengirim minyak
untuk dijual yang dapat membantu aktivitas-aktivitas teroris mereka.

Gambar video bulan Juni 2014 yang menunjukkan militan ISIS tiba di kilang minyak di Beiji, Irak.

Lintasan perbatasan itu sulit dikontrol.

“Ada banyak pejabat korup,” ujar W. Andrew Terrill, profesor riset di U.S. Army War College di Carlisle, Pennsylvania.

“Dan seperti juga di waktu-waktu sebelumnya, Turki merasa tidak ingin
mendorong ISIS terlalu keras agar mereka tidak melakukan pemboman bunuh
diri di Turki selatan.”

Sebelumnya tahun 2015, para analis mengatakan ISIS tidak akan hanya
memproduksi tapi juga memurnikan minyak mentah dari lapangan-lapangan
minyak yang dikuasainya, kemudian menjual produk tersebut ke para
makelar yang mendistribusikannya ke seluruh wilayah, termasuk Turki.
Jadi koalisi membom kilang-kilang pemurnian ISIS.

“Ada estimasi-estimasi sangat optimistis dari Departemen Keuangan
mengenai seberapa banyak ini mempengaruhi penghasilan ISIS,” ujar
Bahney.

Estimasi
Departemen Keuangan yang menunjukkan bahwa penghasilan minyak ISIS telah
jatuh ke tingkat $2 juta per minggu telah direvisi menjadi $10 juta per
minggu. ​

Amerika Serikat, bersama dengan Perancis dan Rusia, baru-baru ini
telah mulai membom truk-truk yang berbaris di sumur minyak ISIS.

Namun Michael Lynch, presiden Strategic Energy and Economic Research,
mengingatkan bahwa secara historis sulit untuk mengganggu
fasilitas-fasilitas minyak.

“Kita bisa menguranginya, tapi tidak bisa menghapus seluruh industri minyak,” ujarnya kepada VOA.
“Masalah terbesar adalah bahwa aset-aset minyak mereka terdiri dari
banyak sumur kecil, dan relatif mudah memperbaikinya dengan teknologi
rendah.” [VOA/hd]

 
(Visited 75 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *