Chat kami sekarang

Media Bermainnya Homo Sosialis

Penulis : Yustinus Sapto Hardjanto

Freelance – Non Government Individual

“Kesedihan jika dibagi akan mengecil, kebahagiaan jika dirayakan bersama akan semakin besar,” begitu bunyi kalimat bijaksana yang menunjukkan aspek sosialitas dari manusia. Intinya untuk hidup seorang manusia butuh manusia lainnya untuk membangun kehidupan bersama, hidup yang seutuhnya.

Sosialitas manusia ini dibuktikan dengan bertumbuhnya berbagai macam perkumpulan atau persekutuan, baik yang berbasis wilayah, kesamaan suku, ras, agama maupun kesamaan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Muncul pula berbagai aktivitas yang didasari atas kebutuhan untuk berada bersama dengan orang lain, seperti kumpul-kumpul, nongkrong, hang out, gathering dan seterusnya.

Perkembangan pengetahuan, teknologi dan pendidikan merubah pola kehidupan bersama. Berkembang aneka profesi yang berdampak pada pergeseran ikatan sosial tradisional. Mencari penghidupan untuk memenuhi tuntutan hidup menjadi lebih utama. Banyak yang kemudian menyatakan bahwa aspek sosialitas manusia mulai meluntur, ikatan-ikatan tradisional mulai mengendur.

Di tengah berkembangnya apa yang disebut sebagai individualisme, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menghadirkan kembali sarana untuk membangun ikatan sosial dalam bentuk aplikasi internet yang dikenal sebagai sosial media. Sosial media kemudian menjadi alat baru sebagai sarana bergaul, berhubungan dan berkomunikasi antar manusia yang melewati sebagai batas dan keterbatasan pergaulan atau hubungan sosial tradisional.

Aplikasi sosial media disebut sebagai alat pergaulan karena memungkinkan adanya interaksi dua arah, dimana para pemakainya bisa saling menyapa, bicara, mengungkapkan emosi, mendengar secara intens, terus menerus dan aktif, selama mempunyai koneksi internet.

Sebagai kanal pergaulan, sosial media tidak hanya memungkinkan interaksi dua arah (narrowcasting), melainkan multi arah secara bersamaan (broadcasting). Siapapun yang berada dalam lingkaran pertemanan, akan bisa melihat, membaca atau bahkan mendengar apa yang kita sampaikan kepada orang lain. Namun komunikasi yang bersifat privat (direct message) tetap dimungkinkan.

Dengan watak seperti ini maka tak bisa dipungkiri bahwa arus interaksi atau percakapan di media sosial jauh lebih gaduh ketimbang dunia nyata. Sebuah isu atau perbincangan bisa dengan cepat menyebar dan memberi pengaruh secara luas (viral).

Tingkat interaksi di media sosial memang jauh melampaui interaksi dengan media lain, dimana interaksi terkadang tidak berimbang. Televisi dan radio meski mencoba membangun acara yang bersifat interaktif tetap saja menempat orang sebagai pemirsa atau pendengar, bukan orang yang setara dengan host atau pembawa acara.

Media sosial kemudian menjadi lebih populer dan diterima secara meluas karena menempatkan pemakainya sebagai subyek yang bebas untuk tampil berdasarkan karakter yang diinginkan oleh dirinya sendiri. Media sosial semakin tidak bisa dipisahkan dari masyarakat dengan kehadiran perangkat pengakses internet yang makin ringkas yaitu Smartphone.

Dengan mengengam smartphone seseorang tak perlu lagi repot repot membuka laptop, mencari koneksi wifi gratis atau pergi ke warnet. Smartphone memungkin seseorang untuk online dan terkoneksi dengan lingkaran pertemanannya dimana saja serta kapan saja.

Spektrum media sosial sendiri begitu luas, setiap orang bebas memilih mana yang disukai atau sesuai dengan kebutuhannya. Setiap orang akan mempunyai gaya berkomunikasi atau berinteraksi yang unik, sehingga tak ada batasan untuk memakai ini atau itu. Pun demikian jenis atau segmen pertemanan apa yang cocok, semua diserahkan kepada masing-masing pemakai dan ada banyak kanal yang bisa dipilih atau diikuti di media sosial.

Memang ada yang mengatakan bahwa media sosial seolah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Seseorang menjadi lebih asyik dengan orang yang tidak berada di dekatnya, sementara orang yang disekitarnya malah diabaikan. Dan tingkat penggunaan media sosial juga semakin naik, konon rata-rata pengguna Smartphone atau Mobile Device menghabiskan rata-rata 4 jam sehari untuk bersosial media.

Mungkin benar bahwa saat ini pemakaian media sosial umumnya belum produktif. Orang masih lebih banyak bersenang-senang, menikmati self publishing, selfi sana sini, pamer ini atau itu yang siapa tahu bisa membuatnya menjadi terkenal.

Namun inilah watak manusia, selain homo societatis, manusia adalah homo ludens atau mahkluk yang suka bermain. Dan beruntunglah kita di jaman ini karena mempunyai media sosial sebagai sarana bermain untuk mahkluk sosial.

@yustinus_esha

(Visited 741 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *