Chat kami sekarang

Kasus Pencurian Tenaga Listrik, Mantan karyawan PLN Sebagai tersangka

Sulutpos.com, Amurang – Seorang mantan karyawan PLN akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tidak pidana pencurian tenaga listrik PLN (Perusahan Listrik Negara) di Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Kapolsek Tenga Iptu Abd Wahab Hudodo
Kapolsek Tenga Iptu Abd Wahab Hudodo

Menindak-lanjuti laporan salah satu pegawai PT PLN Amurang, yang mengatakan bahwa saat melakukan pengecekan rutin di kompleks pemukiman penduduk di Desa Tenga menemukan hal yang ganjil di beberapa rumah terkait dengan pengaturan instalasi aliran listrik yang tidak sesuai dengan prosedur penggunaan listrik rumah tangga, maka pihak Polsek Tenga langsung memproses laporan tersebut.

Kapolsek Tenga IPTU Abdul Wahab Hudodo saat dikonfirmasi mengatakan jika pihaknya telah menindak-lanjuti laporan tersebut.

“Laporannya telah kami terima dan saya telah memerintahkan unit reskrim untuk segera melakukan penyelidikan serta penyidikan, kasus ini menjadi atensi khusus,” tutur Hudodo.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tenga Bripka Alvianus Lamonge menjelaskan bahwa laporan pencurian tenaga listrik ini telah dikembangkan ke proses penyidikan dengan menetapkan salah satu warga Desa Tenga sebagai tersangka.

“Telah ditetapkan tersangka yaitu FD (Feky) warga Desa Tenga, dan kini sudah diamankan di Polsek Tenga untuk menjalani pemeriksaan. Tersangka merupakan mantan karyawan tenaga kontrak PT PLN Amurang, juga merupakan instalatir listrik di beberapa rumah pemukiman, yang diidentifikasi melakukan tindak pidana penyalahgunaan tenaga listrik, yaitu dengan cara mengambil langsung aliran listrik tanpa melalui meteran rumah,” ujar Lamonge.

Anggota unit reskrim Polsek Tenga Brigadir Jimmy Lengkong, menambahkan bahwa kerugian negara akibat tindak pidana ini mencapai ratusan juta rupiah.

“Untuk kerugian negara, kami perkirakan berkisar hingga ratusan juta rupiah, mengingat tindakan pencurian listrik ini telah berlangsung selama kurang lebih satu tahun yang melibatkan beberapa unit rumah. Tersangka melanggar Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009 Pasal 51 tentang Ketenaga-listrikan, dengan ancaman hukuman maksimal 7 (tujuh) tahun penjara,” ungkap Lengkong. (Andre Dotz)

(Visited 650 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *