Chat kami sekarang

Tololiu Tua dalam Catatan Singkat Sejarah Kota Tomohon

Foto: Patung Tololiu Tua.


SulutPos.com, Tomohon – Patung Tololiu Tua, yang terletak di pertigaan kelurahan Matani III, kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, diresmikan pada tahun 1974 oleh Bupati Minahasa, J.F. Lumentut.

tololiu-tua

Tidak banyak catatan sejarah yang lebih ilmiah tentang sejarah Tololiu Tua, dan beberapa catatan justru banyak ditulis oleh penulis dari Eropa (Spanyol, Portugis dan Belanda). Berikut adalah beberapa artikel yang ada kaitannya dengan Tololiu Tua, disadur dari Penulis Adrianus Kojongian : ( http://adrianuskojongian.blogspot.co.id/2013/03/tentang-kepala-minahasa-s-w.html )

Inskripsi yang terletak di bawah Patung.
Inskripsi yang terletak di bawah Patung.

TOLOLIU, Pemimpin suku Tombulu yang terkenal sakti. Disebut juga Tololiu Tua, dan merupakan leluhur dari kepala Tomohon Mayor Ngantung Palar (1835-1853),  dibaptis Tahun 1847 oleh Pdt Wilken dan Tololiu Palar (1875). Kuburnya dipercaya berada dibawah patung yang dibuat tahun 1974, juga sebuah Waruga yang berlokasi/berdekatan dengan Matani III.

Ada yang menyamakannya dengan Mangangantung, pemimpin Tomohon (Tou Mu’ung) awal setelah pindah dari Mayesu Kakaskasen bahkan dengan Tumalun.

TOLOLIU, (TULOLIU), Kepala Minahasa pada awal abad ke-17. Ia ditemui Spandri (vandrig, pembantu letnan) Christoval Suares yang memimpin ekspedisi Spanyol di Ternate Juan de Esquival (berkuasa tahun 1606-1609) ke Manado bulan Agustus 1606. Ia disebut Raja Manado, masih alifuru dan berhasrat masuk Kristen.

Utusan tersebut membawa cinderamata busana Spanyol, dan umumkan kemerdekaan mereka dari penjajahan Ternate, sekaligus menawarkan ‘perlindungan’. Kemungkinan besar adalah Kepala Ares, dan atau Raja Bolaang Lolada Mokoagow. Versi Tombulu, identik dengan Tololiu, pemimpin besar suku Tombulu yang berkedudukan di Tomohon, yang ketika itu berkuasa juga atas pakasaan-pakasaan di Manado sebagai wilayah Tombulu.

TOLOLIU, Kepala Balak(hoofden) Ares, dicatat namanya di tahun 1682 bersama-sama Ranton Kepala Balak Sonder.

Sejarah Kota Tomohon (Tou Mu’ung) sendiri tidak lepas dari sejarah Minahasa secara Umum. Dalam karya etnografis Pendeta N. Graafland yang ketika pada tanggal 14 Januari 1864 di atas kapal Queen Elisabeth, ia menuliskan tentang suatu negeri yang bernama Tomohon yang dikunjunginya pada sekitar tahun 1850.

Dalam catatan J.Alb. T. Schawrz 1905:3 (karya Jessy Wenas), disebutkan tentang “Mayesu”, Tempat Pemukiman Awal dan Pusat Pemerintahan dari Suku Tombulu. Diceritakan tentang sebuah Musyawarah di Watu Pinawetengan yang terjadi sekitar abad ke-VII Masehi (Tahun 630 Masehi). Ketika itu, di Tanah Malesung (Minahasa) ada peristiwa yang disebut Mahawetik atau Zaman Pemerintahan ‘Polisi Rahasia’ (Ma’wetik), suatu masa yang mencekam akibat Konflik internal, Pengayauan dimana-mana, banyak masyarakat yang terbuang, ‘melarikan diri ke daerah lain’,  dan atau mati terbunuh.

Sehingga diadakanlah pertemuan tersebut (Musyawarah di Watu Pinawetengan). Dikatakan, “Setelah rapat umum selesai, mereka kembali ke tempatnya masing-masing, Tombulu ke Mayesu, Tontewoh ke Niaranan, dan Tongkimbut ke Tumaratas”. Peristiwa tersebut menandai perubahan sistem dalam Komunitas Malesung yang mendiami Jazirah Utara Pulau Sulawesi, dari matriarkal sejak ribuan tahun ke patriarkal.

Bagi Wenas sendiri, dalam Buku Sejarah dan Kebudayaan Minahasa, berpendapat bahwa Nama Tololiu bisa berarti sebuah Gelar yang diberikan kepada Tokoh Masyarakat (Pemimpin) pada waktu itu. Atau sebuah Nama dari seseorang di masa lalu yang memiliki kekuatan ‘Supranatural’.

Sebagai tambahan, berdasarkan tulisan J G F Riedel (Versi Tombulu), dan tulisan J Alb T Schwarz (Versi Tontemboan), keduanya memiliki banyak kesamaan dengan sedikit perbedaan. Intinya tetap menyatakan bahwa, di Zaman Malesung, orang Minahasa berasal dari satu sub-etnik, tapi kemudian dalam perkembangannya menjadi tiga sub-etnik, seperti yang terlihat dalam kisah Mah’wetik pada abad ke -7 Masehi, yaitu; Tombulu, Tontewoh, dan Tongkimbut.

Wilayah penghidupan para leluhur ini di Zaman Purba atau Zaman Malesung meliputi pulau-pulau utara di Sangihe-Talaud, Bolaang Mongondow, dan Gorontalo. Cerita J G F Riedel tentang leluhur Minahasa yang mulai ia tulis tahun 1862 dan diterbitkan tahun 1870, sayang sekali tidak memiliki unsur waktu kapan terjadinya peristiwa-peristiwa itu. Begitu juga dengan nama Tololiu, ia mulai disebut sebagai Pemimpin Tombulu setelah era Mah’wetik pada abad ke-7 Masehi.

Sebagai Catatan; Tombulu, Tontewoh, dan Tongkimbut, disebut sebagai tiga sub-etnik utama dalam kelompok masyarakat Minahasa. Sejak Zaman dulu nama Pakasaan Tombulu tidak pernah berubah, sementara dua Pakasaan atau sub-etnis lainnya dalam perjalanannya telah mengalami perubahan nama. Tontewoh yang berkedudukan di Niaranan (Wilayah Tanggari) membelah menjadi dua; Tondanouw dan Tonsea, Tondanouw membelah lagi menjadi Tombatu dan Tondano.

1. Tonsea, terdiri atas:

  • Likupang (Pantai Utara)
  • Kumelembuai (Airmadidi, daratan tengah)
  • Kema (Pantai Timur)

2. Tondanouw, terbagi atas:

  • Tondano:

– Tolour/Toulour (Touliang-Toulimambot)                                                                                                                                       – Kakas                                                                                                                                                                                                         – Remboken

  • Tombatu:

– Touwuntu (Ratahan – Pasan – Mandolang)                                                                                                                                      – Tonsawang (Daratan Tengah)

Tongkimbut, sub-etnik ini bermukim di Tumaratas, dekat Watu Pinawetengan. Seiring berjalannya waktu, beberapa abad kemudian dalam perkembangannya berubah nama menjadi Tontemboan;

1 Tompakewa, terdiri dari;

  • Tombasian
  • Tumpaan
  • Pinamorongan

(Cerita ‘Rintek Wa’ang dan Damopolii/Raja Bolaang Mongondow berasal dari masa ini, ketika itu kelompok yang mendiami wilayah paling selatan disebut Tompakewa)

2. Tompaso, terdiri dari:

  • Tontering (Kawangkoan)
  • Rumoong

3. Langouwan (Daratan Timur)

Ketiga sub-etnis ini (Tombulu, Tontewoh, dan Tongkimbut yang dulunya berasal dari satu etnis atau leluhur yang sama), sebelumnya telah bermukim di wilayah Pegunungan Wulur Mahatus. Dari sana beberapa kelompok telah melakukan perpindahan secara bergelombang ke berbagai arah.

Puncak dari konflik internal di Zaman Mah’wetik yang telah terjadi sebelum tahun 600 masehi, dan baru diselesaikan sekitar tahun 630 Masehi di Watu Pinawetengan, telah membuat beberapa kelompok di Zaman Malesung menghilang, dan hingga saat ini masih belum diketahui.

Mengapa di Watu Pinawetengan? Sebagai salah satu Penanda Warisan Sejarah dan Budaya, Maknanya dapat dirunut hingga ribuan tahun lamanya. Goresan-goresan yang ada di Watu Pinawetengan (walaupun tidak semuanya), telah mewakili sejarah perjalanan panjang Minahasa.

Kesamaanya dengan Petroglif  di Gua Angono – Filipina yang berusia 3000 tahun Sebelum Masehi atau 5000 tahun lalu, masih menyisahkan tanda tanya mengingat banyaknya peninggalan sejarah dan kepurbakalaan yang ada di Sulawesi Utara secara umum masih jauh lebih tua dari itu. Contohnya, Bukit Kerang di Desa Paso, pinggiran Danau Tondano yang berusia 9000 tahun atau 7000 tahun Sebelum Masehi ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1985 ketika sedang melakukan penggalian fondasi untuk pembenagunan gereja. Sisa sisa makanan; kulit kerang yang menumpuk (kjokkenmoddinger atau midden, juga dikenal sebagai sampah dapur), tulang dan tengkorak hewan,  Anoa (Sapi Hutan) dan Babi Rusa, serta alat berburu ditemukan di situ. Di samping itu, berbagai jenis Kapak Batu, Menhir (Batu Tumotowa), Lesung Batu dan masih banyak lagi dapat kita temukan tersebar di Minahasa.

Tokoh Tololiu Tu’a sudah mewakili sub-etnis Pakasa’an Tombulu dalam kesatuannya dengan sub-etnis lainnya pada zamannya, menggambarkan sistem demokrasi yang sangat tua sebagaimana posisi Watu Pinawetengan yang dalam peranannya sebagai salah satu tempat ‘Bersidangnya para Dewan’ yang mewakili kelompoknya masing-masing. (nv)

Video Ilustrasi Pendek Bumi Malesung #6 Minahasa

(Visited 10.906 times, 4 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *