Selain Lecehkan Media Online dan Sebut Pengacara Tuli, Suzy Ellen Mononimbar: Jika Objek Gugatan Salah, Berarti Hakim itu Setengah Gila

Foto: Ilustrasi. (Google)


SulutPos.com, Amurang – Pernyataan dari Suzi Ellen Mononimbar, kepada Media ini, saat diwawancarai/klarifikasi di rumahnya, Sabtu (29/7/2017), terdapat beberapa kalimat yang tidak patut dia sebutkan, apalagi menurut pengakuannya sendiri ia pernah sebagai Ketua DPD Partai NasDem Minahasa Selatan.

Maksud klarifikasi terkait keluhan dari para Tergugat (Yanny Wowor Cs) ke media ini, dalam Perkara Perdata di Pengadilan Negeri (PN) Amurang. Perkara itu telah memilki 2 (Dua) Putusan, Putusan PN Amurang No.15/Pdt.G/2016/PN.Amr Tanggal 27 Juli 2016 dimana Gugatan Penggugat (Beni Kere Cs) Tidak Dapat Diterima;  Niet Onvankelijk verklaard (NO) dan Putusan PN Amurang No.116/Pdt.G/2017/PN.Amr Tanggal 13 Juli 2017, Gugatan Penggugat dikabulkan serta menolak Eksepsi Tergugat.

Kronologi

Via Telephone genggam, Mononimbar, Jumat (28/7/2017), mengaku kepada SulutPos.com bahwa ia adalah Saudara dari para Penggugat, mengenai semua urusan (Perkara) dirinya yang meng-handle perkara perkara ituDalam percakapan tersebut, Mononimbar yang katanya memiliki Surat Kuasa dari para penggugat, menolak memberikan keterangan. Menurut dia, Saudaranya (para Penggugat) sudah ‘Menang’ di PN Amurang.

“Kalian kan hanya media online,” katanya.

Tidak hanya itu, Mononimbar bahkan mengatakan bahwa tidak perlu menanyakan/wawancara lagi dengan para Penggugat karena mereka (Penggugat) ‘Bodok-bodok (bahasa daerah yang artinya: Bodoh). Namun demikian, terkait Objek Sengketa, Mononimbar menjelaskan bahwa sebelum Putusan itu, ada sidang lokasi dari Pengadilan, sehingga Pengadilan tidak pernah salah, dan Objek sengketa sudah benar.

“Apabila salah objek (lokasi sengeketa), bukan kami yang dikomplain, tapi, komplain ke Pengadilan,” katanya.

Walaupun sempat memojokan wartawan media ini dengan menanyakan “apakah kamu (wartawan media ini), Pernah sekolah atau tidak ? Mononimbar masih membuat janji dengan wartawan media ini untuk bertemu.

“Kalau kamu tidak kenal saya, anggap saja ini Perkenalan, jika kamu bersedia, besok kita ketemu, dan saran saya, wartawan itu, orang mau caci maki pun kamu harus terima,” kata Mononimbar. sambil menyetujui pertemuan dilakukan hari Sabtu (29/7), pada pukul 15.00 (jam tiga sore).

Pertemuan dalam rangka verifikasi/perimbangan berita, berlangsung di rumahnya, sekitar pukul 16.00, Mononimbar bercerita singkat tentang status tanah yang menjadi Objek Sengketa. Dia juga menjelaskan tentang alasan PN Amurang menolak Gugatan Penggugat (Putusan PN Amurang No.15/Pdt.G/2016/PN.Amr Tanggal 27 Juli 2016).

Menurut Mononimbar, Kuasa Hukum mereka waktu itu (Putusan PN Amurang No.15/Pdt.G/2016/PN.Amr Tanggal 27 Juli 2016), Kuasa Hukum sudah tua (lanjut usia) dan tidak mampu mendengar dengan baik saat sidang berlangsung.

“Putusan ini sudah dua kali disidangkan. Putusan pertama, karena Pengacara kami sudah tua, pongo (Tuli), jadi Putusannya LO, eee.. maksudnya NO…Draw di Pengadilan sini (PN Amurang), nah ketika kami konsultasi dengan Hakim Pengadilan dan Panitera, mereka menyarankan untuk digugat lagi,” kata Mononimbar.

Lebih jauh, Mononimbar menambahkan bahwa dari konsultasi dengan Hakim maupun Panitera, mereka pun merekomendasikan untuk mengganti Pengacara (Penggugat).

Sementara itu, terkait Objek Sengketa, Mononimbar menjelaskan bahwa yang seharusnya menjawab pertanyaan itu adalah Hakim Pengadilan.

Berikut pernyataan Suzy Ellen Mononimbar dalam bahasa daerah (sesuai Rekaman) dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Yang vonis Hakim, jadi Hakim tu mo jawab toh? Pengacara pun nyanda ada hak untuk mo jawab, karena torang so menang kwa.Tanya jo kasana pa Hakim, Putusan nomor bagini benar nda ? dalam perkara ini ini ini…Hakim tu mo jawab toh ? Io kita da toki bagini noh. Paling kan ngoni mo tanya, menurut Tergugat Objek Sengketa salah ? Hakim tu mo jawab. Kalau salah, berarti Hakim so stenga gila ada Toki, (Terjemahan: Yang vonis hakim, jadi Hakim yang harusnya menjawab, iya kan ? Pengacara pun tidak punya hak untuk menjawab, karena kami sudah menang. Tanyakan saja ke Hakim, Putusan nomor ini benar tidak ? Dalam perkara-perkara ini…Hakim yang menjawabnya iya kan ? Iya, saya ketuk (putuskan) seperti ini. Pasti kan kalian akan bertanya, menurut tergugat Objek Sengketa salah ? Hakim akan menjawab. Jika salah, artinya Hakim itu setengah gila (memutuskan). (nv/Maxi)

(Visited 1.914 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact us
1
Hello
Ada yang bisa kami bantu?