Minahasa: Sejarah Perjalanan Malesung hingga Peristiwa Ma’wetik (III)

Foto: Waruga. (nv/SulutPos.com)

Karema: Akaz i nania wo mange, yah tou sana-awu mo kamu Tumouma malawi-lakir witu rara’atean ni EMPUNG. Niaku tumaou kariamio, wen aku yah Karema wo Walian. Wo zei’lewo’en un ka’ara’an-ta. (Artinya: Mulai sekarang dan selanjutnya, kamu sudah Suami-Istri. Hiduplah penuh berkat dalam kasih sayang TUHAN. Aku akan hidup bersamamu, tapi aku adalah Karema juga Pendeta. Dan jangan kita rusak hubungan kasih sayang kita.

Yah nisera sana-awu, se minaka suzu-me. Se Makazua Siouw, Se oki’. Wo maka telu pitu, se puyun. Karia ne Pasiouwan- telu, se Tou-Lakez. Se Kinasuzuan pe’ne ka’esa puyun-impuyun. (Artinya: Dan mereka (Toar-Limimuut) itu, menghasilkan keturunan: Kelompok 2×9 atau anak-anak. Kelompok 3×7 atau cucu-cucu. Dan kelompok ketiga rakyat biasa, cece-cicit keturunan yang banyak). Sastra Tua Malesung Zazanian ni Karema (Nyanyian Dewi Karema).


SulutPos.com, Manado – Pada tahun 2009, Prof Sangkot Marzuki (Direktur Lembaga Eijkman), mengatakan bahwa nenek moyangnya orang China adalah orang Asia Tenggara, bukan sebaliknya.

Ada sekitar 90 ilmuwan dari konsorsium Pan-Asian SNP yang dinaungi oleh Human Genome Organisation (HUGO) melakukan studi terhadap 73 populasi Asia Tenggara dan Asia Timur untuk mempelajari pola migrasi dalam sejarah manusia dan hubungan antara genetik dan penyakit.

Hasil dari Studi tersebut, yang dipublikasikan dalam majalah Science 10 Desember 2009 ini menunjukkan bahwa akar genetik manusia berhubungan sangat erat dengan kelompok etnik dan kelompok bahasa.

Studi ini juga menjelaskan bahwa di masa lalu terdapat satu jalur utama migrasi manusia ke Asia, yaitu melalui Asia Tenggara, bukan jalur migrasi melalui jalur utara dan selatan, sebagaimana banyak dikemukakan sebelumnya.

Peneliti terdiri dari 10 negara di Asia, termasuk ilwuwan dari China sendiri. Human Genome Organisation (HUGO) adalah proyek penelitian ilmiah internasional tentang DNA Manusia, baru secara resmi diluncurkan pada tahun 1990. Kajian DNA dapat membantu Manusia mencari dan menemukan asal usul suatu populasi (Leluhurnya), di samping untuk kepentingan Kesehatan Manusia juga.

Jaman purbakala di Sulawesi Utara, yakni kehidupan manusia purbakala yang berbahasa Austronesia, telah ditemukan para ahli dan berasal dari 6000 – 7000 tahun lalu (walaupun akhir-akhir ini banyak ahli berpendapat bahwa usianya jauh lebih tua lagi, yakni sekitar 8000 tahun SM. Barangkali suatu waktu masih dapat ditemukan sisa-sisa kehidupan jaman purbakala, yang lebih tua lagi di sulawesi utara.

Bahasa Transeurasia, kadang-kadang dikenal sebagai Altaic, termasuk bahasa Siberia, Mongolia, Asia Tengah, dan mungkin Jepang dan Semenanjung Korea. Studi baru menunjukkan keluarga bahasa muncul di timur laut Cina 9000 tahun yang lalu, berkembang dengan penyebaran pertanian. Mereka mengikuti penyebaran “paket budaya” ini saat mereka pindah dari Lembah Sungai Liao dan menyimpang dan menyatu dengan budaya lain dari waktu ke waktu.

Sekitar 12.000 tahun lalu, jaman es glasial mulai berakhir dan cuaca bumi khatulistiwa mulai berubah mendekati cuaca seperti yang sekarang ini. Mungkin jaman inilah yang dimaksud dengan cerita hikayat tua tanah Minahasa, bahwa pada waktu itu daratan Minahasa bersambungan dengan sangihe Talaud, hingga Filipina.

Antara jaman purbakala dan jaman sejarah, yakni abad 15, beberapa penulis/sejarawan menempatkan sebuah periode jaman dengan istilah jaman purbakala dan jaman sejarah, yakni yakni periode jaman kehidupan leluhur Minahasa yang kemudian menjadi dewa- dewi. Menurut analisa penulis J.G.F. Riedel, (berdasarkan cerita turun temurun) Sistim pemerintahan masa hidup leluhur Minahasa yang sudah terdiri dari tiga lapisan masyarakat yakni Makarua siouw (2×9), Makatelu Pitu (3×7), dan Pakasiouwan Telu berakhir pada abad ke-7 M (Tahun 600-an Masehi), yaitu setelah adanya Peristiwa Ma’wetik.

Perhitungan ini dilakukan berdasarkan jumlah generasi orang Minahasa, yang waktu itu masih diingat orang Minahasa di luar kepala karena harus disebutkan dalam upacara adat. Jaman sejarah di Minahasa baru dimulai abad ke 15 ketika orang kulit putih pertama dari Eropa, yakni Spanyol dan Portugis, menulis mengenai keberadaan mereka di Minahasa.

A. Jaman pra sejarah

Sisa-sisa peninggalan jaman purbakala di Minahasa berbentuk kapak batu dan kulit kerang air tawar, disebut Renga’ dan Kolombi’ yang setelah dimakan isinya, lalu kulit kerangnya dibuang disebuah tempat tertentu. Bersama dengan tulang-tulang binatang hasil berburu, setelah berabad-abad lalu timbunan kulit kerang itu nampak membukit, yang kemudian dalam perjalanan waktu tenggelam kedalam tanah.

Ada dua lokasi di Minahasa yang terdapat sisa-sisa makanan orang Minahasa jaman purbakala, yakni di negeri (desa) Passo di tepi barat Danau Tondano dan di wilayah Tonsawang, Minahasa Tenggara. Sedangkan contoh peralatan masa prasejarah diantaranya Kapak Batu, ditemukan di Gua Arangka Sangihe-Talaud dan di desa Passo, Minahasa. Kapak Batu di daerah Minahasa banyak ditemukan di permukaan tanah menjelang akhir abad 18 Masehi.

Peta Distribusi Situs-situs Pre-Neolitik di Asia Tenggara.Sumber Bellwood, 2000
Peta Distribusi Situs-situs Pre-Neolitik di Asia Tenggara.Sumber Bellwood, 2000

Di daerah Tonsawang, Bukit Dahayu (Minahasa Tenggara), yang pada jaman dulu adalah sebuah danau, telah ditemukan juga adanya peradaban manusia, seperti bekas rumah yang menghadap danau, sisa-sisa makanan dari kulit kerang dan tulang belulang hewan hasil buruan. Seperti halnya di desa Passo, juga ditemukan Mata Panah, Kapak dan alat-alat berburu lainnya, disamping tulang-belulang hewan yang menumpuk.

Theories of Māori origins
Foto: Theories of Māori origins. Migrasi Manusia dari Taiwan yang melalui Filipina, Sulawesi Utara, Papua, kepulauan Pasifik, hingga daratan Amerika Selatan.

Yang menarik mengenai Kapak adalah Kapak (genggam) yang ditemukan di Amerika Utara dan berasal dari Manusia Mangoloid (Asia) yang menyeberang kedaratan Amerika sekitar 27.000 – 30.000 tahun Sebelum Masehi (SM) lewat Selat Bering yang kala itu terhubung dengan Amerika utara, juga ditemukan di Taiwan, Filipina, Jepang, dan Sulawesi (Minahasa) serta Papua. Selain itu, Kapak Batu yang tersebar di daerah Yunnan (China Selatan) juga ditemukan di Minahasa, dan daerah lainnya di Indonesia. Artinya, perpindahan/penyebaran manusia di jaman prasejarah yang membuat/menggunakan dan membawa peralatan berburu, ternyata bertemu di Minahasa. (Jessy Wenas)

Dari segi geolinguistik, wilayah ini dianggap sebagai tanah asal dari suku-suku bangsa pemakai bahasa Austronesia (Andili, 1980; Bellwood, 2001: 340-347).

slide_3
Human Migrations. (Foto: slideplayer.com)

Temuan jejak domestikasi padi tertua di Indonesia (3562-3400 BP), serta kemunculan tembikar slip merah adalah kemunculan tradisi budaya baru di Sulawesi sekitar 3326-3057 BP. Budaya ini kontemporer dengan situs Mansiri di Sulawesi utara tapi dengan motif dekorasi yang berbeda 

Memasuki milenium akhir Masehi, kehidupan manusia prasejarah di Minahasa mulai memasuki babak baru. Banyak perkembangan dan perubahan yang sangat kompleks. Perkembangan dan penyebaran populasi manusia adalah salah satu faktor utamanya. Dalam tradisi budaya lokal mulai banyak dipengaruhi oleh tradisi budaya para pendatang baru. Para pendatang baru ini, sebenarnya masih satu leluhur dengan leluhur penduduk awal Minahasa, atau diilustrasikan sebagai ‘Arus Bolak Balik’ – Upaya mencari daerah asal (Homeland)

“Bahasa tidak pergi begitu saja dengan sendirinya; mereka berkembang karena orang-orang yang berbicara bahasa itu menyebar.” Pertanian, tambahnya, adalah alasan kuat untuk ekspansi semacam itu. – Peter Bellwood.

Sekitar 3500 BP, terlihat gelombang budaya bergerak lagi dari selatan dan utara memasuki Tanah Malesung (Minahasa). Domestikasi tanaman yang awalnya dari Formosa, terus bergerak mengikuti migrasi manusia, ke Filipina, Sulawesi bagian utara, tengah, hingga ke selatan. Padi, mulai ditanam di Minahasa, dan  dalam Budaya Minahasa mulai dikenal nama-nama leluhur yang berakhiran Wene (Padi).

Minanga Sipakko – Sungai Karama di Provinsi Sulawesi Barat, adalah situs tertua di Indonesia ditemukannya domestikasi tanaman Padi. Meski bukan di Minahasa, namun temuan ini dapat merekonstruksi jejak migrasi Austronesia dari Taiwan, Filipina hingga ke pulau Sulawesi. Ditemukan pada tahun 1949, digali beberapa kali dari tahun 1994 hingga 2007. Situs Minanga Sipakko, dekat Kalumpang di Lembah Karama, dan Kamassi.

Tradisi mengubur jenazah dalam periuk (kure; bahasa daerah) adalah kebiasaan dari suku Dayak Kalimantan dan Filipina Selatan. Tradisi budaya ini mulai berkurang setelah adanya tradisi Waruga, Kure dan Waruga masih bertahan hingga akhir abad 19 M (Masehi).

Domestikasi padi awal di Taiwan terjadi sekitar 4800-4200 BP, merujuk pada buku Peter Bellwood, (First Farmers (2005), kemudian tesis Hsiao-chun Hung yang tidak dipublikasikan (2008), dan penelitian Chen-Hwa Tsang (2017), tentang bukti tiga jejak tanaman pangan daratan China di situs Nan-kuan-li, di bagian barat daya Taiwan.

Sebelumnya, ribuan tahun lamanya kebiasaan mengubur yaitu dengan mengunakan daun ‘Woka’ (Livistona altissima-keluarga Palem yang berdaun lebar dan besar), kemudian ada yang mulai menggunakan batang pohon besar yang sudah dilubangi di bagian tengahnya setelah itu jenazah dimasukan ke dalam batang pohon itu lalu dikubur di dalam tanah. Ada juga yang menaruh jenazah di tebing batu yang sudah dilubangi.

 Di wilayah ini ditemukan pula sisa-sisa budaya masa logam tua (paleometalik) – (Bellwood, 1978).

Penggunaan Besi, dalam tradisi budaya Minahasa mulai disebutkan tentang Tokoh-tokoh Perkasa (Opo), mulai ada cerita kepahlawanan atau Ksatria yang mengalahkan musuh-musuhnya dengan Pedang, Tombak atau Pisau. Kisah Sakral Toar dan Lumimuut mulai dipertegas sebagai suatu kisah bagi Persatuan dan Kesatuan (Esa Waya), sekaligus memperjelas eksistensi Penduduk Awal yang pertama kali mendiami Tanah Malesung. Pada masa itu juga, di Minahasa mulai tersusun sistem pemerintahan yang berbentuk Demokrasi dan pada masa inilah Ritual Budaya Mangayau (Potong Kepala), resmi dimasukan dalam aturan adat Budaya Minahasa. (nv/bersambung)

Catt: Video ini adalah lanjutan dari Video yang pertama. Video tentang Tradisi Budaya Suku-suku di Taiwan yang berbahasa Austronesia.

(Visited 7.788 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact us
1
Hello
Ada yang bisa kami bantu?