Pelatihan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat

Foto: Pelatihan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat, Kamis 21 Maret 2019, dilaksanakan di AAB Guest House Tomohon.


SulutPos.com, Tomohon –  Kegiatan ini dilaksanakan di AAB Guest House Tomohon, Kamis 21 Maret 2019, dibuka oleh Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kota Tomohon, Drs O D S Mandagi. Dihadiri oleh narasumber Fasilitator Nasional sekaligus Ketua Kajian Perlindungan Anak Unima ibu DR Ruth Umbase MHum, Fasilitator Daerah Pdt Marsel Meruntu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Daerah Kota Tomohon, dr Olga Karinda MKes.

Pelatihan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat, Kamis 21 Maret 2019, dilaksanakan di AAB Guest House Tomohon.
Pelatihan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat, Kamis 21 Maret 2019, dilaksanakan di AAB Guest House Tomohon.

Peserta dari Aktivis Kelurahan Walian I, Kelurahan Kakaskasen 1, Kelurahan Kakaskasen 2 dan Kelurahan Tumatangtang.

Mandagi, dalam membacakan sambutan Walikota Tomohon, menguraikan bahwa:

Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kota Tomohon, Drs. O D S Mandagi.
Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kota Tomohon, Drs O D S Mandagi.
  1. Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) adalah sebuah gerakan dari jaringan atau kelompok warga pada tingkat masyarakat yang bekerja secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan perlindungan anak.
  2. Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat merupakan inisiatif masyarakat sebagai ujung tombak untuk melakukan upaya-upaya pencegahan dengan membangun kesadaran masyarakat agar terjadi perubahan pemahaman, sikap dan perilaku yang memberikan perlindungan kepada anak.
  3. Pengembangan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat untuk menguatkan kapasitas masyarakat, melakukan upaya perlindungan anak dengan mencegah dan memecahkan secara mandiri permasalahan kekerasan terhadap anak yang terjadi di masyarakat.
  4. Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kekerasan pada anak dengan mengubah norma sosial dan praktik budaya yang menerima, membenarkan atau mengabaikan kekerasan, membangun sistem pada tingkat komunitas dan keluarga untuk pengasuhan yang mendukung relasi yang aman untuk mencegah kekerasan.

“Diharapkan melalui pelatihan ini para peserta mampu mengenali, menelaah dan mengambil inisiatif dalam memecahkan permasalahan kekerasan terhadap anak yang ada di lingkungannya,”tutup Mandagi. (nv)

(Visited 150 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *