Boltim Masih Butuh Tenaga Sanitarian

Foto: Pertemuan E-Monitoring dan Evaluasi (E-Monev) Limbah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Puskesmas dan Promotor Kesehatan, Rabu (02/10) kemarin di Goba Molunow, Kecamatan Mooat.


SulutPos.com, Boltim – Tantangan yang dihadapi saat ini terkait pembangunan kesehatan masih sangat besar.Khususnya dibidang hygiene dan sanitasi. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) EkoE- Marsidi saat membuka pertemuan E-Monitoring dan Evaluasi (E-Monev) Limbah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Puskesmas dan Promotor Kesehatan, Rabu (02/10), kemarin di Goba Molunow, Kecamatan Mooat.

“Saat ini kondisi pengelolaan limbah medis belum sesuai persyaratan sebagaimana Permen LHK,”kata Marsidi.

Kondisi sekarang ini, kata Marsidi, Puskesmas yang ada di Boltim,belum sepenuhnya memiliki Sanitarian. Dari 8 Puskesmas,hanya 4 Puskesmas yang memiliki tenaga Sanitarian. Sehingga kesulitan dalam mengembangkan program kesehatan lingkungan di Puskesmas.

“Sanitarian Puskesmas belum juga memahami tata cara pengisian laporan E-Monev.Karena itu untuk mendukung program Puskesmas. Puskesmas mengangkat tenaga promotor kesehatan untuk mendukung program dari dalam dan luar Puskesmas,”jelas Marsidi.

Lanjut dikatakannya, E-Monev limbah fasyenkes Puskesmas diciptakan untuk memudahkan petugas sanitarian dan pengelola program sehingga data progres dilapangan dapat diupdate secara akurat.

“Data hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan untuk dilakukan advokasi lintas sektor. Untuk menuju pengelolaan limbah yang sesuai dengan peraturan yang ada,”terang mantan Kabag Humas Pemkab Boltim.

Dia berharap, semua pihak terutama petugas sanitarian dan promotor kesehatan untuk mensukseskan E-Monev fasyankes.

“Semoga pertemuan ini dapat memberikan dampak dan manfaat yang nyata sebagai kontribusi untuk mendukung Kabupaten Boltim sehat,”harap Marsidi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Program Kesehatan Dinkes Boltim, Kartini Djaman, mengatakan apabila limbah cair dari fasyankes tidak diolah terlebih dahulu tetapi langsung dibuang di sungai atau lahan resapan maka fasyankes akan menjadi sumber penyakit.

“Karena itu fasyankes perlu memiliki petugas yang mampu mengelola limbah cair secara benar,”tutur Kartini. (IWAN).

(Visited 79 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *