Sejarah Singkat Desa Lotta dan Kaitannya dengan Perang Tasikela

Foto: Ukiran di bagian Penutup Waruga Wongkar Sayouw Saruan, Lotta – Pineleng.


SulutPos.com, Manado – Negeri Lotta dulu merupakan Pusat Pemerintahan Walak Kakaskasen (bagian dari Pakasaan Tombulu). Awalnya pemukiman/wanua (desa) Lotta dibuka oleh penduduk dari Maiesu (Mayesu) di Kinilow Tua, Dekat Gunung Lokon.

Zi’rang, Mawoho, Kokali, Mumek dan Impal adalah nama-nama para Leluhur Awal/Pemimpin pemukim pertama di Wanua Ure Kalih/Lotta, yang datang dari Maiesu (Mayesu).

Inskripsi di depan Kompleks Waruga Lotta. Kelompok penggiat Budaya 'Waraney Wuaya' sudah lama eksis dalam pemeliharaan situs-situs budaya di Minahasa, diantaranya Penyelamatan Situs Waruga Lotta.
Inskripsi di depan Kompleks Waruga Lotta. Kelompok penggiat Budaya ‘Waraney Wuaya’ sudah lama eksis dalam pemeliharaan situs-situs budaya di Minahasa, diantaranya Penyelamatan Situs Waruga Lotta.

Tokoh yang terkenal sesudah masa para Leluhur Awal adalah Wongkar Sayouw Saruan. Namanya tertulis dalam catatan sejarah Misionaris bangsa Spanyol, Pater Blas Palomino, bertanggal 8 Juni 1619. Pater Blas Palomino sendiri terbunuh pada tahun 1622 ketika mencoba lagi memasuki pedalaman Minahasa.

Awalnya, sebagaimana Portugis, bangsa Spanyol diterima baik oleh penduduk. Portugis disambut baik di Minahasa dapat diketahui lewat suratnya Misionaris Yesuit, Diogo de Magalhaes SJ bertanggal 28 Juli 1563 yang memberikan laporan atas pengalamannya saat berada di Sulawesi Utara, termasuk ketika membaptis 1500 penduduk Manado bersama Pemimpinnya pada tahun 1563, juga membaptis Raja Siauw yang kebetulan berada di Manado.

Namun, lama kelamaan perangai buruk mulai diperlihatkan oleh para tentara Spanyol. Hal inilah yang juga telah membuat Bangsa Spanyol terusir dari Tanah Minahasa. Peristiwa Ini dikenal dengan nama Perang Tasikela yang puncaknya terjadi pada 10 Agustus 1644.

Dalam perang itu, Pater Lorenzo Gerralda (yang menggantikan Pastor Juan Yranso), seorang misionaris Katolik ikut terbunuh di negeri Kalih/Lotta (Pineleng). Lain halnya dengan Misionaris Spanyol Pastor Juan Yranso, yang karena kebaikan hatinya, ia diselematkan oleh Kepala Pakasaan Tombulu, Lumi Worotikan, dan dengan bantuan beberapa orang Minahasa, Pastor Juan Yranso dapat keluar dari kancah peperangan, ‘menyingkir’ ke Filipina.

Lorenzo Gerralda, menghabiskan waktunya dalam misi Katolik di pedalaman Minahasa dan tinggal di areal perkebunan Pinawawatu (Pinantik) dekat Negeri Kali, sekitar 1 kilometer dari Negeri Lotta, hingga ia dibunuh di situ tanggal 15 Agustus 1644. Selain itu, Nama Lotta juga sudah dikenal sebelum tahun 1600, yaitu melalui catatan/laporan para misionaris yang ikut dalam pelayaran bangsa Portugis dan kemudian Spanyol. Seperti Misionaris Mascarenhas tahun 1568, Scialamonte, dan Cosmos Pinto tahun 1619.

Dalam Perang Tasikela, para Waraney Minahasa dengan kekuatan 10 ribu prajurit mampu mengalahkan pasukan gabungan dari Spanyol yang terdiri dari prajurit kerajaan Ternate/Tidore, dan pasukan Kerajaan Bolaang Mongondow, disamping mematahkan serbuan perompak bajak laut Mindanauw (Filipina).

Usai Perang Tasikela, Ibukota Walak Kakaskasen di Lotta (Pineleng), dipindahkan lagi ke Kakaskasen (Tomohon), hingga pada masa Parengkuan kembali lagi ke Lotta tahun 1730.

Dalam laporan Residen J.D. Schiersentein, Residen Manado, tanggal 8 Oktober 1789, disebutkan bahwa pada masa itu telah terjadi pertikaian antara sub-etnik Bantik dengan sub-etnik Tombulu/Walak Kakaskasen yang berkedudukan di Lotta, Pineleng. Peristiwa tersebut dikenang oleh sub-etnik yang bertikai sebagai Perang Tateli.

Perang Tateli sendiri berawal dari ‘saling culik’, hingga perang terbuka. Pertikaian panjang dua etnis bersaudara ini diakhiri dengan ‘satu serangan” dari Walak Kakaskasen yang dibantu oleh walak walak lain.

Tokoh terkenal lainnya adalah Majoor Mainalo. Ia dikenal karena banyak membantu para pejuang-pejuang Minahasa dalam Perang Tondano 1808 – 1809, walaupun dibawah ‘tekanan’ karena dekat dengan pos-pos penjagaan Belanda ditambah lagi jarak dengan Benteng Belanda di Manado cukup dekat.

Sebelum abad ke 19, Penduduk Lotta sudah beberapa kali berpindah tempat. Terakhir sekitar tahun 1911. Akibat wabah penyakit Kolera, penduduknya pindah (bergeser sedikit) ke arah Utara dan Barat Laut dan mendirikan Pineleng sekarang. (nv)

Waraney Minahasa – Film Pendek Tentang Sang Pemberani (Waraney)

(Visited 319 times, 4 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *