Chat kami sekarang

Komalig & Peninggalan Peradaban Tionghoa di Bolangitang – Bolmut

Foto: Komalig Bolangitang, Bolaang Mongondow Utara (Bolmut)


SulutPos.com, Bolmut – Di awal Abad ke – XIX Masehi, sekitar tahun 1900-an, ada sejumlah pemuda yang datang dari sebuah tempat di Tiongkok yang bernama Kantan (sekarang dikenal sebagai kota Kantan, Provinsi Guangdong, Cina Selatan) menuju Kerajaan Goa (sekarang Makassar, Sulawesi Selatan). Para pemuda tersebut berasal dari etnis Kanton dan bermarga Tan.

Mereka berjumlah sekitar tujuh orang dengan profesi sebagai pandai bangunan. Di tahun 1930-an, pada masa pemerintahan raja Bolangitang ke – VIII, R.S. Pontoh (1909-1950), mereka didatangkan ke Bolangitang oleh raja untuk membangun Komalig (kediaman sekaligus sebagai pusat pemerintahan pada masa itu) melalui jalur transportasi laut.

Para pandai besi pada masa itu membangun rumah dengan peralatan sederhana. Yang unik dari cara mereka membangun adalah penggunaan kelom (sendal kayu) yang bertalikan ban sepeda untuk menancapkan paku pada batang kayu yang ada.

Dari tujuh ahli bangunan tersebut, enam balik ke Tiongkok dan satu menetap. Adalah Tan A Seng yang menetap dan menikahi seorang putri Minahasa yang bernama Maria Lapian yang kemudian dikaruniai empat orang anak (tiga perempuan dan satu laki-laki:

  • Tan Kim Pong
  • Tan Afok
  • Tan Kim Tiu
  • Tan Kim Sui

Tan Afok sebagai satu – satunya anak laki laki, menurunkan:

  • Tan Tyi At
  • Tan Tyi Hau
  • Tan Tyi Hi
  • Tan Tyi Buang
  • Tan Tyi Mong
  • Tan Tyi Sinyo
  • Tan Tyi Tin (Frans Lapian)

Atas alasan pembagian golongan penduduk berdasarkan aturan kolonial Belanda, Tan Tyi Tin terpaksa mengganti nama dengan memakai marga “Lapian” (isteri dari Tan A Seng) dan berganti kependudukan dari golongan Timur Asing menjadi penduduk Pribumi.

Area Timur Bolangitang II merupakan pemukiman etnis Tionghoa dari berbagai etnis dan profesi. Ada pedagang emas, pengusaha jasa angkutan kapal, pandai besi, pandai gigi, sampai pandai bangunan. Namun seiring waktu mereka berpindah dan menyebar ke luar dari negeri Bolangitang.

Hal ini desebabkan oleh adanya hasil fengsui (ramalan yang diyakini oleh sebagian besar etnis Tionghoa) yang meyatakan bahwa, “Negeri Bolangitang dan sekitarnya, secara topografis memiliki tanjung yang berbentuk seperti Kepiting, sehingganya tidak cocok untuk melakukan aktifitas usaha pada masa itu. Menginggat usaha masyarakat Tionghoa yang ada bergantung pada akses transportasi laut serta pemukiman yang berada di dekat pantai dan muara.

Sebagai catatan, tulisan ini penulis buat berdasarkan wawancara langsung dengan nara sumber: 1). Tan Tyi Tin atau Frans Lapian yang akrab disapa “opa nyong”, yang merupakan cucut dari Tan A Seng. Penulis wawancarai bertepatan dengan prosesi ziarah keluarga pada Minggu 15 Desember 2019. 2).

H.D.H. Pontoh selaku saksi sejarah yang menyaksikan langsung pembangunan Komalig Bolangitang pada masa pemerintahan raja Bolangitang ke – VIII R. S. Pontoh Alm. (Mirad).

(Visited 325 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *