Chat kami sekarang

Warung Kopi dan Reinkarnasi Pikiran

Foto: Ilustrasi


Awal dari tulisan ini memang sedikit aneh dan lucu kenapa demikian ? Pertama, hari ini warung kopi menjadi inisiatif bagi kelahiran 1980an sampe awal reformasi, manusia-manusia di tahun itu melihat warung kopi atau kedai kopi lebih menarik ketimbang meng-irit biaya di rumah dan minum kopi.

Kedua warung kopi menjadikan manusia-manusia lebih mengekspresikan dialektika dan gagasan-gagasan mereka di warung kopi. Jika ditinjau dari tahun 2010 sampai 2017 ada peningkatan-peningkatan di kedai kopi untuk penunjang perekonomian di daerah mauoun provinsi. Bisa dilihat (dok. Kompas di tahun 2018 bulan maret tgl 27, ada perilisan kedai kopi sebagai penunjang perekonomian di indonesia).

Tetapi bukan itu yang ingin saya bahas sekarang ada satu hal yang saya pikir perlu ditelisik lebih jauh, kenapa hari ini warung kopi atau kedai kopi menjadi unik di era 21, selain fasilitas yang diberi semisal wifi dan campuran kopi modern.

Pertama ingin saya sampaikan bahwa ada hal baru yang terjadi di era sekarang, bukan hanya politisi, pemerintah, yang ingin minum kopi di kedai kopi , tetapi mahasiswa di era ini juga suka minum kopi, apa bedanya kopi biasa dengan kopi di kedai kopi ? Bagi saya tidak ada bedanya yang membedakan hanya nuansa kedai dan fasilitas yg ada semisal yang saya katakan di atas yaitu ” wiffi dan lain sebagainya”

Nah terus apa yang ditelisik dari kedai kopi ini sebenarnya ? Bagi yang membaca pasti ada yang beranggapan biasa dan ada yang beranggapan itu sudah biasa. Tetapi bagi saya ada yang perlu kita pahami untuk kedai kopi kenapa ada mahasiswa, ada politisi, bahkan pemerintah juga ikut minum kopi di kedai kopi ? Bagi saya di kedai kopi lah tempat untuk mendiskusikan belbagai hal yang menjadi penge-lolaan pikiran. Bagi saya yang mahasiswa tentunya itu hal menarik karena berbagai corak pikiran dapat di diskusikan.

Di ruang-ruang kampus pikiran mahasiswa dibelenggu dengan adanya interfensi tugas, dan lain sebagainya, bahkan warung kopi bisa menjadi kampus kedua yang seharusnya memupuk kembali romantika dialektika mahasiswa. Begitu juga para politisi dan pemerintah mereka lebih nikmat menyusun paradigmatik di warung kopi buat fee (Kepentingan) mereka. Tetapi yang ingin saya deduksikan (khususkan) adalah warung kopi sebagai mediasi untuk reinkarnasi pikiran, kenapa ? Pertama : di dalam warung kopi tidak hanya minum kopi tetapi yang saya katakan warung kopi menjadi mediasi terhadap pikiran apa lebih pada mahasiswa di abad 21 yang lebih ke arah modernisme.

Kedua : peran manusia lebih mendiskusikan segala sesuatu itu di bahas di warung kopi. Ini yang saya katakan bahwa warung kopi menjadi sarana untuk pikiran baik mahasiswa, tokoh politik, dan bagian pemerintah dalam menuangkan gagasan mereka.

Dalam kutipan dari Kanda Rusmin Hassan (Seorang Aktivis HMI di Tondano – Minahasa), beliau memberikan gagasannya terkait warung kopi dan perawatan terhadap khazanah intelektual, karena seperti saya katakan di atas bahwa warung kopi menjadi sarana terbaik buat gagasan dan memupuk khazanah intelektual. Dan hari ini kita bisa lihat di kedai-kedai kopi menjadi gerakan arah baru manusia di abad 21 untuk lebih kembali pada kerja-kerja akal.

Di sisi lain, memang sedikit hedonis juga karena harus mendiskusikan di tempat kopi yang harus mengeluarkan biaya lebih, namun itu menjadi hal lumrah karena kita harus memahami konteks hari ini bahwa semua bentuknya ke arah materialis. Sekian…

Kotamobagu, 27 Februari 2020

Zulfikhar S. Gumeleng (Fiki)
Zulfikhar S. Gumeleng (Fiki)

Penulis: Zulfikhar S. Gumeleng (Fiki) – Mahasiswa IAIN Manado

(Visited 137 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *