Chat kami sekarang

Pendidikan Kita

Foto: Ilustrasi.


Sudah teramat banyak yang mangkel tersebab sistem pendidikan kita yang begitu-begitu saja. Filosofi pendidikan kita ialah “seorang terdidik berarti punya kerja yang baik”. Alhasil, makna daripada “pendidikan” direduksi. Pendidikan dianggap sekadar alat guna mempertemukan manusia dengan lapangan kerja.

Jangankan membayangkan bahwa pendidikan kita bisa menjadi alat pembebasan sejati. Cara memerdekakan  “manusia Indonesia” seutuhnya. Untuk sekadar mengenali dirinya sendiri saja, muskil. Pendidikan kita–di abad membanjirnya informasi yang merangsek dari segala penjuru–adalah pendidikan yang dihasilkan dari zaman yang serba instan. Akibatnya, gaya atau model pendidikan menjelma seperti itu pula. Melaju dengan cepat dan utamanya memaku sebuah tujuan yang amat pragmatis.

Dengan begitu, kita terlanjur bersetuju–tanpa menimbang lebih dahulu–bahwa bukti keberhasilan pendidikan direperesentasikan oleh apa kerja yang diemban seseorang. Dari apa jabatan yang dipikulnya. Dari berapa gaji yang diterimanya setiap bulan.

Tercermin dari sana, betapa kita sudah jauh mengerdilkan makna pendidikan kita sendiri. Bukan lagi akal budi yang kita kedepankan, melainkan hasrat material yang jadi ukuran. Hal di atas jauh-jauh hari sudah dikritik keras oleh salah seorang pemikir yang memimpin Institut für Sozialforschung di Frankfurt, Jerman atau yang lebih akrab dengan sebutan Sekolah Frankfurt: Max Horkheimer (1895-1973).

Horkheimer mengemukakan bahwa dewasa ini masyarakat kadung membebek buta kepada modal (materi) yang dengan itu menggerakkan sendi-sendi ekonomi hingga merembes kepada kebudayaannya*.

Dengan kata lain, kita dibuat oleh modal/materi untuk melulu berpikir untung-rugi (pragmatis) atau instrumentalis disetiap segi kehidupan, tak terkecuali dalam memaknai pendidikan. Dan justru dengan demikian, orang lupa akan manusianya itu sendiri. Pandangan merendahkan sesamanya tersebab takaran material adalah lumrah dalam masyarakat kita. Menjadi bukti nyata, betapa pendidikan telah mengalami dekadensi.

Oleh karenanya, sudah patutlah pemerintah dalam hal ini memikirkan kembali orientasi daripada pendidikan kita. Bukan malah membebek atau mengikuti arus modal. Sehingga langkah daripada pendidikan tidak berhenti hanya pada bagaimana menyiapkan orang yang siap bekerja di mana pun. Walakin, mampu membentuk manusia yang bisa memanusiakan manusia. []

Referensi:

Shindunata. (2019). Dilema Usaha Rasional: Teori Kritis Sekolah Frankfurt Max Horkheimer & Theodore Adorno. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Reynold Patabuga
Reynold Patabuga

Penulis: Reynold Patabuga, berasal dari Desa Durian, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogjakarta.

(Visited 261 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *