Chat kami sekarang

Bupati Meninggal Akibat Corona, Puluhan Warga di Morowali Utara Jalani Tes Cepat

Foto: Pemprov Jabar menggelar pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) COVID-19 terhadap kurang lebih 300 tenaga kesehatan (nakes) dan staf RSHS Bandung di Poliklinik Anggrek, Rabu (25/3/20). (Foto: Humas Jabar)

Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mengimbau masyarakat yang pernah berinteraksi dengan almarhum bupati Morowali Utara dalam 10 hari terakhir untuk mengisolasi diri secara mandiri. Bupati Morowali Utara, Aptripel Tumimor, meninggal dunia Kamis (2/4) akibat terjangkit corona.


SulutPos.com, Morowali, Sulteng – Wakil Bupati Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Asrar Abdul Samad Sabtu pagi (4/4) mengatakan pihaknya terus bekerja untuk menelusuri orang-orang yang pernah berinteraksi dengan almarhum Atripel Tumimomor.

Tumimomor adalah bupati daerah tersebut yang meninggal dunia pada 2 April 2020 di sebuah rumah sakit di Makassar, Sulawesi Selatan, karena terjangkit virus corona. Tumimomor sudah dimakamkan di Gowa dengan protokol pengurusan dan perawatan jenazah pasien Covid-19.

Warga Morowali Utara yang sedang mengikuti pemeriksaan kesehatan dengan rapid test di Rumah Sakit Umum Daerah Kolonodale, 4 April 2020. (Foto: Courtesy/Ivan Tagora)
Warga Morowali Utara yang sedang mengikuti pemeriksaan kesehatan dengan rapid test di Rumah Sakit Umum Daerah Kolonodale, 4 April 2020. (Foto: Courtesy/Ivan Tagora)

Sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, warga sejak Jumat (3/4) sudah diimbau untuk melapor bila pernah melakukan kontak dekat dengan Tumimomor. Sejauh ini sudah 50 orang yang terdata dan mereka diimbau untuk melakukan isolasi mandiri, serta segera memeriksakan kesehatan ke Rumah Sakit Kolonodale, bila merasakan gangguan kesehatan.

Menurut Asrar, pihaknya baru menerima informasi terkait status almarhum Aptripel Tumimomor yang ternyata positif corona pada Jumat malam (3/4).

“Dimana kita menelusuri semua masyarakat yang pernah terkontaminasi beliau (almarhum) dan kami sudah menyampaikan secara langsung dengan kesadaran diri yang sudah pernah terkontaminasi untuk mengisolasi diri. Nah ini kemarin sudah melaporkan ada sekitar 50 orang. Ada PNS, jurnalis dan masyarakat,” ungkap Asrar saat dihubungi VOA.

Baca Juga: Keluarga Terjangkit Virus Corona, Bagaimana Nasib Anak Mereka?

Ditambahkannya, langkah antisipasi juga dilakukan dengan menyemprot disinfektan di tempat-tempat di mana almarhum bupati Morowali Utara itu pernah beraktivitas. Selain itu penyemprotan juga dilakukan di sejumlah lokasi strategis lain di kota Kolonodale, Ibu Kota Kabupaten Morowali Utara.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Morowali Utara Denan Lauende mengatakan hingga hari Jumat setidaknya sudah 55 orang warga yang mengikuti kegiatan pemeriksaan tes cepat (rapid test) dengan hasil negatif. Pengecekan pada semua orang yang pernah berkontak dekat dengan almarhum bupati Morowali Utara itu masih dilakukan hingga beberapa hari mendatang.

“Kemarin waktu beliau dalam posisi di Rumah Sakit Kolonodale dan ketika akan dirujuk menggunakan ambulance itu memang banyak sekali orang yang hadir membesuk. Jadi kayaknya ini kami harus ekstra pengawasan,” katanya.

Petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh terhadap warga yang mendatangi RSUD Morowali Utara untuk mengikuti rapid test, 4 April 2020. (Foto; Courtesy/Ivan Tagora)
Petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh terhadap warga yang mendatangi RSUD Morowali Utara untuk mengikuti rapid test, 4 April 2020. (Foto; Courtesy/Ivan Tagora)

Kebutuhan Mendesak: APD dan Tes Cepat

Kepada VOA Denan Launde mengatakan hingga hari Sabtu (4/4) ketersediaan alat rapid test masih tersisa 50 buah. Jumlah itu diharapkan dapat bertambah dengan pengiriman 100 buah lainnya dari Palu. Dua ratus alat rapid test juga diharapkan sampai pada hari itu yang sudah sejak lama di pesan oleh pihaknya.

Pihaknya juga membutuhkan pasokan alat perlindungan diri (APD) untuk petugas medis.

Baca Juga: Jenazah Korban Virus Corona Aman, Warga Jangan Menolak

“Semenjak kami merawat PDP di Rumah Sakit Kolonodale itu, baru 200 APD, yang ada itu 150 bantuan dari kementerian dari pusat, melalui Dinas Kesehatan Provinsi. Yang 50 lembar dari kami di Dinas kesehatan yang sempat kami order dan baru itu yang tersedia,” katanya.

Diperkirakan APD yang tersedia ini hanya cukup untuk empat hari ke depan. RS Kolonodale memiliki satu ruangan isolasi dengan kapasitas 20 pasien. [yl/em]

VOA News

(Visited 280 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *