Chat kami sekarang

Antara Pandemi Covid-19 dan Perhelatan Demokrasi 2020

Foto: Ilustrasi.


Politik momentum dan para pejuang kepentingan kini meraja rela. Antara keselamatan rakyat dan menyelamatkan kekuasaan menjadi polemik dalam pemilihan 2020 ini. Dunia politik memang banyak menuai kontroversi antara si pemilik kekuasaan dan si pemberi amanah untuk penguasa.

Tak tanggung-tanggung bahkan demi kekuasaan oknum-oknum memainkan perannya sedemikian rupa agar tampak seperti seorang maestro dalam dunia perfilman. Kini perhelatan 5 tahunan akan di gelar sesuai dengan PERPPU nomor 20 tahun 2020 yang di tetapkan beberapa waktu lalu.

Dalam keadaan Negara yang lagi menghadapi kasus non alam, ini menjadi tantangan terbesar bagi penyelenggara juga pengawas. Tantangan bagi penyelenggara dan pengawas adalah penyediaan logistik dalam pelaksanaan pemilihan tidak seperti biasanya. Di mana akan ada ketambahan logistik sebagaimana protap Covid-19 yang berlaku pada penanganan/pencegahan menyebarnya pandemi Covid-19 misalnya masker, APD, dan lain-lain yang akan di gunakan oleh penyelenggara maupun pengawas.

Namun, dengan besaran anggaran pada penyelenggara dan pengawas membuat hal itu tidak menjadi kendala untuk melaksanakan proses pemilihan nanti. Hanya saja, yang menjadi kendala pada saat pelaksanaan prosesinya akan memakan waktu yang cukup lama sebab dari pihak penyelenggara, pengawas hingga masyarakat yang akan menggunakan hak pilih akan mendapatkan pemeriksaan sesuai protap Covid-19. Dalam tahapan penyelenggaraan pemilihan kita sering mengenal yang namanya kampanye dan lain sebagainya.

Ini menjadi tantangan terbesar bagi penyelenggara hingga para kandidat yang akan bertarung merebut kursi panas (DB 1) di Daerahnya masing-masing. Disinilah kinerja pengawas akan di uji keuletan dalam bekerja menegakkan keadlian Demokrasi. Yang lebih menarik lagi adalah proses kandidat untuk mencari simpati masyarakat agar mendukung hingga memilih mereka pada saat pemilihan nanti. Tidak tanggung-tanggung untuk mencari panggung semua tak-tik mulai di peragakan.

Namun, jika kita melihat regulasi dari kementrian yang mengatakan bahwa dalam pemutusan mata rantai penyebaran covid-19 maka segala sesuatu di atur dengan pembatasan social distancing. Ujian terbesarnya adalah kebijakan inkamben dan lawan politik di tahun ini.

Ada yang berani mengambil kebijakan yang bertujuan membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi covid-19 sesuai dengan instruksi pemerintah pusat dengan menambahkan kebijakan di daerah masing-masing, ada juga yang memberikan bantuan secara pribadi. Ini tidak ada kaitannya dengan perhelatan Demokrasi 2020, namun lewat tindakan/kebijakan inilah yang membuat masyarakat mampu menilai. Tapi, jangan jadikan penanganan kejadian nonalam ini sebagai langkah mencari popularitas demi kepentingan pribadi.

Sebab keadaan ini adalah di mana rakyat mendapatkan hak yang selama ini hampir tidak di rasakan yaitu kesejahteraan. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Jangan tunda pemberian bantuan untuk menunggu tahapan penyelenggaraan pemilu agar bisa menungganinya dalam mencari/meningkatkan elektabilitas.

Harapan demi harapan tertata rapi di atas pundak penyelenggara maupun pengawas dalam berjalannya pesta Demokrasi pada tahun ini. Tegakkan keadilan untuk mendapatkan cita-cita dan tujuan dari pada Demokrasi.

Junardy C. Mahyun

Junardy C. Mahyun

(Visited 138 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *