Chat kami sekarang

Meretas Jalan Perubahan BMR; Dibalik Krisis kepemimpinan

Foto: Ilustrasi.


Gerak waktu senantiasa melukiskan sejarah dengan goresan berbeda dari tiap pelukisnya. Sehingga tiap lekuk goresan itu menunjukkan betapa sejarah dicipta oleh keyakinan, pengorbanan, dengan melibatkan sedemikian banyak tragedi berdarah dan memilukan. Dalam perjalanannya bisa kita menyimak penderitaan para Nabi dan Rasul saat menghadapi para penguasa zalim.

Para martir yang harus ikhlas kehilangan nyawa karena mempertahankan keyakinannya. Para pemikir yang harus menghadapi tuduhan dan dicap gila karena pemikirannya melampaui zamannya. Atau para seniman dengan segudang karya penuh kontroversi menggugat kebekuan masyarakat. Kesemuanya memberi pijakan bagi perubahan. Mengapa harus dengan kata perubahan?

Tapi entah dengan referensi apa, berdasarkan miskinnya perbendaharaan bahasa, kata “Perubahan” senantiasa merangsang dan menantang dalam mengambil tindakan untuk terus menerus mencipta.

Jejak – jejak peradaban meninggalkan pesan tentang perjuangan panjang yang menyertakan pertarungan ide – ide fundamen dan radikal dan seringkali tidak populis, di masa peletakan fondasi peradaban Yunani. Sosok Socrates memberikan inspirasi bagi jutaan generasi berikutnya bahwa kesetiaan pada ide adalah penentu bagi bangkitnya sebuah bangsa di pentas dunia, ini tentunya bukan tanpa alasan.

Tetapi fakta dalam tiap lembar sejarah menuliskan ini secara lugas, betapa Jazirah Arab yang ganas dan liar menjadi sentra kelahiran peradaban Islam, kegelapan abad pertengahan tersibak oleh cogito ergo sum oleh Descartes. Tumbangnya kaum Borjuis di Perancis, hingga revolusi industri di Inggris sebagai cikal bakal bangkitnya masa pencerahan di Eropa. Ini semua tentunya menunjukkan adanya fase perubahan sebagai konsekuensi dari kegelisahan manusia akan masa depannya.

Mengapa sangat penting bagi kita untuk menyibak fakta “sejarah” dan menelaah secara kritis tiap kilas baliknya? Kepastian waktu senantiasa memberi peluang bagi kaum muda untuk menempatkan kembali nilai universal sebagai acuan untuk melakukan kontekstualisasi di masa kini dan tentunya sebagai proyeksi masa depan.

Di posisi ini, kita melihat secara kritis untuk menggagas paradigma yang fundament, walau terkadang sangat tidak populis. Kita bisa melihat secara kasat mata betapa pendidikan di Bolaang Mongondow Raya sebagai tiang utama penyangga peradaban, harus secara santun minggir di tepi jurang ketidakpedulian. Apalagi ditunjang oleh semakin meningkatnya biaya pendidikan dan kurangnya pemahaman masyarakat akan pendidikan yang sekedar ditafsir sebagai sekolah. Padahal pendidikan adalah sebuah proses keberlangsungan pembagunan Sumber Daya Manusia (secara terus menerus sepanjang nafas masih tetap mengalir di rongga hidung kita).

Memang tidak disangkal bahwa sekolah menjadi salah satu ukuran masyarakat kita untuk memberikan ukuran bagi kemajuan suatu daerah. Dan bahkan jenjang sekolah menentukan status sosial seseorang di tengah masyarakat.

Naif memang jika sekolah beramai – ramai dijadikan ajang perebutan status sosial. Padahal saat manusia lahir ke permukaan bumi ini telah diberikan hak dan keistimewaan sederajat sebagai manusia lain. Sistem pendidikan bernama “Sekolah” ini telah turut mencipta konstruksi sosial yang menggusur substansi “Pendidikan sesungguhnya”. “Pendidikan” menjadi kehilangan ruhnya jika harus berorientasi pada “Ruang Pengakuan” sebuah status.

Seakan mengulangi kejayaan masa feodalisme, pendidikan di Indonesia sedemkian gagap dan latah menanggapi terjangan globalisasi sehingga harus mengangkangi cita – cita Pendiri Republik ini, sebuah cita ideal bagi terwujudnya, bangsa yang kuat dan Negara yang berwibawa di pentas dunia. Sebagaimana konsepsi Bung Karno tentang “Tri Sakti” yang mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik, serta bermartabat dalam kebudayaan.

Apalagi “Globalisasi” adalah keturunan sah dari “Neoliberalisme”, dimana saat ini pasar adalah “Dewa Agung” yang mendapat sanjungan dan puja – puji bagi hasrat penumpukan materi. Lantas “Pendidikan” kita beramai – ramai mencetak foto “Buram Nan Muram” dengan menempatkan “Pendidikan” berdasarkan kebutuhan pasar. Tidak hanya pada mode pakaian selalu memunculkan trend.

Ternyata pendidikan sekalipun memiliki trend tersendiri dengan rentang waktu tiap dasawarsa. Simaklah Tahun, 60 – an sedemikian gencar gelar dokter, 70 – an hingga akhir 80 – an gelar Insinyur merajai atmosfer gelar bahkan film – film nasional menampilkan adegan betapa hebatnya gelar Insinyur, memasuki era 90 – an hingga memasuki fase Milenium, berlomba – lomba tiap lulusan SLTA mencari perguruan tinggi yang menyediakan jurusan ilmu komputer dan seterusnya. Karena sering disebut millenium sebagai era informasi, seakan kegagapan kita akan globalisasi tidak memberikan ruang untuk berkreasi berdasarkan situasi dan kondisi nasional.

Apalagi di tingkat lokal, apalagi tidak sekedar trend. “Pendidikan juga telah menjadi ajang bisnis dengan biaya yang meroket”. Kini sayup – sayup terdengar, bangkitnya kebudayaan lokal di tengah kepungan budaya massa. Lantas “Pendidikan sebagai “Perangkat Lunak” sekaligus “Perangkat Kerasnya”, tidak berpijak kokoh secara ideologis dan kebablasan menentukan arah dari pendidikan itu sendiri. Lalu seperti apakah lokalitas “Kota Kotamobagu” dalam merespon, menganalisa, dan mengambil tindakan kreatif demi mewujudkan ide – ide dasariahnya? Ada yang menarik dari kupasan Martin Heidegger, bahwa ”kebanyakan kita hidup tidak berdasarkan diri yang otentik, tetapi senantiasa mengikuti selera umum”.

Jika menelusuri nasib identitas lokal kita, maka sungguh miris sekaligus memilukan, betapa “Kaum Muda” kehilangan akar identitas lokalnya, padahal inilah spirit sekaligus ruh bagi kemajuan dan perubahan Kota Kotamobagu dan seantero wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) tentunya.

Sedikit berkaca pada Raja Elektronik dan Otomotif dunia, Jepang. Dimana, sesudah peristiwa pengeboman Kota Hirosima dan Nagasaki, dengan bergetar Kaisar Tennohekka bertanya ”Masih adakah guru yang tersisa”, bawahannya menjawab “masih”. Jika demikian kata Tennohekka, Jepang masih bisa bangkit. Akankah Kota Kotamobagu bisa seperti itu? Apakah bisa melakukan perubahan? Tanyakanlah pada suara – suara rakyat. Pasti mereka mengakatakan “ini adalah kota mati”

Fiki Gumeleng
Fiki Gumeleng

Penulis: Fiki Gumeleng

(Visited 137 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *